Liputan6.com, Jakarta - Seminggu dari total 20 hari Pelatihan dan Pendidikan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Arab Saudi 2026 telah berlalu.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menjawab kebingungan publik atas pelaksanan diklat yang digelar semi militer.
Advertisement
"Yang menakutkan, yang mereka bayangkan, itu tidak mereka temukan. Yang mereka temukan adalah kedisiplinan, yang mereka temukan adalah kegembiraan, yang mereka temukan adalah kekompakan. Jadi, saya ingin menyampaikan pada publik, jangan sampai ada military phobia," ujar Dahnil di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu, 17 Januari 2026.
"Ada nilai-nilai dari satu komunitas yang harus kita comot, kemudian kita gunakan. Itu simbolisasi manusia terbuka. Yang jelas, pelatihan semi-militer yang kami maksud itu tidak semuanya tentang fisik," sambung dia.
"Ada tuh netizen menyebut, 'Ini ngapain sih petugas haji, gembira-gembira, nyanyi-nyanyi.' Itu bentuk kekompakan. Tapi jangan lupa yang mereka lihat kan setiap pagi, setiap siang dan malam, itu diisi dengan bahasa Arab, diisi tentang perhajian, fiqih haji, dan sebagainya," kata Dahnil.
Jadi, menurut dia, ada keseimbangan secara fisik, kekompakan, dan kedisiplinan, serta kapasitas perhajian dan bahasa. Seminggu setelah PPIH Arab Saudi 2026 menjalani diklat, Wamenhaj mengaku "tidak ragu."
"Saya melihat optimisme," ujarnya.
"Saya yakin mereka akan sangat membantu nanti, bertugas sebagai penyelenggara haji di Arab Saudi," ia menambahkan. Ditanya progres apa yang paling terlihat, Dahnil menyebut kompak, disiplin, dan gembira




