Proses Ketat Makan Bergizi Gratis di Dapur SPPG Paseban

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Pegawai SPPG Paseban mengungkapkan bahwa proses memasak MBG dipantau secara ketat. Bahan baku diperiksa secara ketat bahkan sejak pertama kali datang. 

Tanti Suhermayani (55) telah tiga bulan bekerja sebagai pegawai di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paseban, Jakarta Pusat. Saat pertama bergabung, ia bertugas mencuci ompreng atau wadah paket Makan Bergizi Gratis (MBG). Seiring waktu, Tanti mulai terlibat langsung dalam proses memasak dan memahami alur penyediaan MBG, mulai dari persiapan bahan baku hingga distribusi ke sekolah.

Menurut Tanti, setiap bahan pangan yang masuk ke dapur SPPG Paseban harus melalui pemeriksaan ketat sebelum diolah. Standar kualitas menjadi perhatian utama sejak bahan baku tiba di lokasi.

“Begitu bahan baku datang, itu dicek dulu bagus atau enggak, segar atau enggak, layak dimasak atau tidak. Kalau memang sudah layak dan bagus, baru kami terima,” ujar Tanti dalam wawancara program Sinergi Indonesia yang ditayangkan di akun YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI, dikutip Senin (19/1).

Ia menjelaskan, proses kerja di dapur MBG berlangsung secara berlapis dan sistematis. Setelah bahan baku dinyatakan layak, tahap selanjutnya adalah pemotongan. Bahan kemudian langsung dimasak, dibagi sesuai porsi, dan disusun ke dalam ompreng.

“Selesai porsian, ompreng disusun sepuluh-sepuluh lalu langsung dikirim ke sekolah-sekolah,” katanya.

Tanti menegaskan seluruh kegiatan di dapur dijalankan sesuai prosedur operasional standar (SOP). Para pekerja wajib mengenakan masker dan sarung tangan selama bekerja. Ia memastikan proses pembuatan hingga distribusi MBG di SPPG Paseban telah mengikuti standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional.

“Semua pakai masker, pakai alat kerja. Saya lihat sendiri karena terjun langsung, jadi enggak perlu diragukan,” tuturnya.

Bekerja di SPPG Paseban juga membuat Tanti merasakan langsung manfaat program MBG, salah satunya dalam membuka lapangan pekerjaan. Di usia yang sudah melewati 50 tahun, ia mengaku bersyukur mendapat kesempatan bekerja tanpa proses yang berbelit.

“Saya benar nggak percaya, nggak yakin gitu, kok saya bisa diterima. Sedangkan saya kan umur saya kan udah lebih 50 tahun,” ucapnya.

Selain itu, Tanti melihat langsung antusiasme anak-anak sekolah saat menerima makanan bergizi. Bahkan, anak dan cucunya yang masih balita juga turut merasakan manfaat program MBG.

“Saya senang lihat anak-anak makan di sekolah. Anak saya juga dapat MBG, senang banget,” ujar Tanti.

Pengalaman tersebut membuatnya kerap menyampaikan informasi positif tentang MBG kepada orang-orang terdekat, terutama kepada para orang tua yang masih ragu karena isu keamanan makanan. Ia pun berharap program MBG dapat terus berlanjut.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tebing Makam Longsor di Subang, Empat Makam Direlokasi
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
Bus AKAP PO Rosalia Indah Terbakar di Tol Solo–Ngawi, Diduga Korsleting
• 12 jam lalumerahputih.com
thumb
MU dan Atletico Madrid Berlomba Goda Gelandang Barcelona Januari Ini
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Prilly Latuconsina Resmi Tinggalkan Sinemaku Pictures, Buka Babak Baru dalam Karier dan Karya
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Heboh Penemuan Telur Ayam Diduga Palsu oleh Warga di Banda, Maluku Tengah
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.