Bisnis.com, JAKARTA — Manajer Investasi PT Korea Investment Management (KIM) Indonesia membeberkan sejumlah strategi perusahaan dalam meracik reksa dana di tahun 2026. Di tengah kondisi suku bunga yang tengah rendah dan laju pasar saham yang signifikan, sejumlah strategi diharapkan mampu meningkatkan total dana kelolaan perusahaan.
Presiden Direktur KIM Indonesia Arfan Karniody mengatakan sepanjang 2025 kinerja reksa dana pendapatan tetap (RDPT) perseroan tumbuh signifikan. Nilai dana kelolaan RDPT bahkan melonjak sekitar 600% year on year menjadi Rp5,5 triliun per Desember 2025.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan eksposur pada obligasi bertenor panjang, seiring kebijakan pelonggaran moneter Bank Indonesia (BI) yang agresif. Sepanjang 2025, BI tercatat memangkas suku bunga sebanyak lima kali.
Memasuki 2026, Arfan memperkirakan pelonggaran moneter tidak seagresif tahun sebelumnya. BI diprediksi hanya menurunkan suku bunga dua kali. Dengan proyeksi tersebut, KIM Indonesia mengalihkan fokus ke obligasi bertenor menengah.
“Kami yang lebih mid tahun ini. Tidak terlalu panjang, tapi tidak terlalu pendek. Sekitar 3–5 tahun,” kata Arfan saat ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (19/1/2026).
Untuk strategi reksa dana saham dan campuran, KIM Indonesia menekankan pendekatan adaptif terhadap dinamika pasar. Arfan menyebut, perseroan tidak membatasi pilihan pada saham blue chip atau kelompok konglomerasi tertentu, melainkan pada saham yang tengah diminati pasar dengan potensi kenaikan yang memadai.
Baca Juga
- Strategi Sucorinvest Racik Reksa Dana 2026, Fokus Emiten Berfundamental Kuat
- Manajer Investasi Reksa Dana Xdana Syariah Pilih Tutup Bisnis
- AUM Reksa Dana Melesat pada 2025, Manajer Investasi Optimistis Tren Berlanjut
“Kami harus adaptif. Kalau blue chip sedang tidak ada demand, kami harus switch ke yang semua orang mau. Yang semua orang lagi suka, konglomerat stock. Cuma kami harus melihat valuasi dan fundamental bisnisnya,” ujar Arfan.
Dari sisi sektoral, KIM Indonesia menilai sektor telekomunikasi tetap menarik karena bersifat defensif dan berorientasi domestik. Sektor konsumer juga dipandang prospektif seiring kebijakan fiskal dan moneter yang relatif ekspansif.
Sebaliknya, perseroan cenderung berhati-hati pada sektor berbasis komoditas yang dinilai sensitif terhadap dinamika global dan berpotensi mengalami volatilitas tinggi di tengah ketidakpastian.
Dengan strategi tersebut, KIM Indonesia menargetkan pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) hingga 30% year on year pada 2026. Sepanjang 2025, total AUM KIM Indonesia tercatat mencapai Rp8,89 triliun.





