Kementerian Perhubungan tengah menyiapkan peta jalan dekarbonisasi untuk transportasi di sektor laut dan udara. Dekarbonisasi melalui jalan efisiensi energi serta pemanfaatan energi baru dan terbarukan.
“Peta jalan sektor laut dan udara sedang menunggu finalisasi, mudah-mudahan konsultan bekerja targetnya enam bulan bisa diselesaikan tiga bulan,” kata Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan Kementerian Perhubungan Tatan Rustandi, dalam Pembukaan Bootcamp Future Leaders in Sustainable Transport di Jakarta, Senin (19/1).
Energi alternatif untuk transportasi laut dan udara masih dalam pengkajian. Beberapa yang potensial antara lain hidrogen/amonia dan minyak nabati. BUMN migas Pertamina sudah menguji coba pemanfaatan bioavtur berbahan bakar campuran minyak goreng bekas (jelantah) pada maskapainya yaitu Pelita Air.
Tatan mengatakan, upaya dekarbonisasi bukan hanya soal perubahan bahan bakar moda transportasi tapi konsumsi energi di infrastruktur pendukung, misalnya di pelabuhan dan bandar udara.
Merujuk pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 8 Tahun 2023 mengenai penetapan aksi mitigasi perubahan iklim sektor transportasi, upaya dekarbonisasi pada fasilitas pendukung transportasi laut dan udara antara lain elektrifikasi peralatan bongkar muat di pelabuhan, penerangan jalan bertenaga surya di pelabuhan dan bandar udara, serta penggunaan alat dan teknologi hemat energi di bandar udara.
Di sisi lain, upaya dekarbonisasi di sektor transportasi darat sudah berjalan, antara lain lewat modernisasi transportasi publik. Fokus utama pemerintah bukan perubahan total bahan bakar transportasi umum, tapi peningkatan penggunaan transportasi umum oleh masyarakat.
Sektor transportasi adalah kontributor emisi karbon terbesar kedua, yaitu sekitar 23 persen dari total emisi karbon sektor energi di Indonesia. Dan, emisi transportasi jalan raya menyumbang 80 persen terhadap total emisi sektor transportasi.


