Jakarta, VIVA – Timbunan sampah elektronik atau e-waste menjadi tantangan serius di Indonesia. Berdasarkan Global E-Waste Monitor 2024, produksi e-waste tumbuh lima kali lebih cepat dibandingkan kapasitas daur ulang dunia.
Tren serupa juga terjadi di Indonesia, di mana timbunan e-waste diperkirakan naik dari 2,1 juta ton pada 2023 menjadi 4,4 juta ton di 2030. Kondisi ini menjadi ancaman nyata bagi lingkungan, kesehatan, dan masyarakat.
Dalam upaya mendorong pengelolaan sampah elektronik yang semakin kompleks, Acer Indonesia berhasil mengumpulkan lebih dari 3 ton e-waste, melampaui target awal sebesar 2 ton.
Direktur Utama Acer Indonesia Leny Ng meyakini bahwa ketika teknologi, tanggung jawab, dan kepedulian dapat berjalan bersama.
"Kita tidak hanya melindungi alam hari ini, tetapi juga mewariskan masa depan bagi generasi mendatang," katanya, Senin, 19 Januari 2026.
- Dok. Acer
Untuk menumbuhkan kesadaran pelestarian lingkungan sejak dini, Acer Indonesia juga menyelenggarakan pelatihan di lima sekolah dan madrasah, yang melibatkan 250 siswa-siswi, untuk diberi pemahaman mengenai dampak dan praktik pemilahan e-waste di lingkungan sekitar, serta peran mereka sebagai agen perubahan.
Acer Indonesia juga telah menanam 2.000 bibit pohon sebagai lanjutan dari kontribusi publik dalam pengumpulan e-waste.
Program ini menjadi bagian dari penguatan pendekatan ekonomi sirkular yang terintegrasi, meningkatkan kapasitas penyerapan karbondioksida (CO2), serta membantu mencegah degradasi lahan, serta mengurangi risiko bencana lingkungan di masa mendatang.



