Jakarta: Forum kebijakan luar negeri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) menyoroti harapan dan arah kebijakan luar negeri Indonesia selama satu tahun ke depan dalam diskusi publik bertajuk “Outlook on Geopolitical Trends & Indonesian Foreign Policy in 2026” di Jakarta, Senin, 19 Januari 2026. Diskusi ini digelar untuk merespons dinamika geopolitik global pasca Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri RI.
Pendiri dan Ketua FPCI, Dino Patti Djalal, menekankan perlunya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat di tengah perubahan tatanan dunia. Ia menilai kebijakan luar negeri AS semakin menunjukkan kecenderungan koersif yang berdampak luas terhadap stabilitas global.
“Kita harus berpikir serius untuk mengurangi ketergantungan kita pada Amerika Serikat,” ujar Dino dalam diskusi tersebut.
Dino juga menyoroti pentingnya memperkuat multilateralisme sebagai ruang strategis bagi Indonesia untuk tetap berpengaruh secara global. Menurutnya, Indonesia perlu menentukan peran khusus atau niche dalam sistem multilateral agar diplomasi nasional lebih efektif dan terukur.
Sementara itu, Co-Founder FPCI sekaligus peneliti senior BRIN, Dewi Fortuna Anwar, menilai arah kebijakan luar negeri Indonesia 2026 sudah lebih jelas dan koheren dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menyebut pendekatan penguatan ketahanan nasional sebagai langkah realistis di tengah tekanan global.
“Ketika kita berada di bawah tekanan, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah memperkuat pertahanan,” ucapnya.
Dewi juga menekankan pentingnya diversifikasi mitra internasional agar Indonesia tidak terlalu terekspos pada satu kekuatan besar. Ketergantungan berlebihan, menurutnya, dapat menimbulkan risiko serius terhadap stabilitas ekonomi dan politik nasional.
Diskusi ini turut menyoroti ekspektasi publik terhadap kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai masih berada pada tahap peletakan fondasi. FPCI berharap Indonesia dapat memanfaatkan momentum transisi global untuk memperkuat posisi sebagai kekuatan menengah yang aktif, mandiri, dan berpengaruh di kawasan maupun dunia.
(Keysa Qanita)


