VIVA – Final Piala Afrika yang seharusnya menjadi panggung penutup kejayaan justru meninggalkan luka mendalam bagi Brahim Diaz. Bintang Timnas Maroko itu secara terbuka mengakui kondisi mentalnya terguncang setelah gagal mengeksekusi penalti krusial yang berpotensi mengubah hasil pertandingan melawan Senegal.
Momen tersebut terjadi di penghujung laga final yang berlangsung panas dan sarat kontroversi. Maroko tertinggal 0-1 dari Timnas Senegal dalam pertandingan yang diwarnai protes keras, hingga penundaan pertandingan selama 20 menit.
Pemain Real Madrid tersebut dipercaya menjadi eksekutor penalti untuk Maroko pada menit-menit akhir babak kedua ketika skor masih 0-0. Namun, alih-alih menjadi penyelamat, eksekusi Panenka yang dilakukannya justru terlalu lemah dan dengan mudah diamankan kiper Senegal, Edouard Mendy. Kesempatan emas itu pun hangus.
Situasi di lapangan semakin memanas setelahnya. Senegal sempat mencetak gol melalui Abdoulaye Seck di waktu tambahan babak kedua, tetapi gol tersebut dianulir wasit Jean-Jacques Ndala karena pelanggaran yang diperdebatkan dalam proses terjadinya gol. Keputusan itu memicu kemarahan kubu Senegal.
Pelatih Senegal, Pape Thiaw, tampak sangat kecewa dengan keputusan wasit yang memberi penalti tersebut. Sebelum penalti dilakukan, ia sempat meminta pemainnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes.
Aksi tersebut menyebabkan pertandingan tertunda cukup lama, sekitar 20 menit. Beruntung Sadio Mane dapat membujuk rekan-rekannya untuk kembali bertanding, laga akhirnya berlanjut hingga babak perpanjangan waktu.
Di babak perpanjangan waktu, pemain Senegal, Pape Gueye mencetak gol kemenangan yang memastikan Singa Teranga keluar sebagai juara Piala Afrika. Gol itu sekaligus mengakhiri harapan Maroko dan menutup malam yang pahit bagi Diaz.
Sehari setelah final dramatis tersebut, Brahim Diaz menyampaikan pernyataan emosional melalui akun Instagram pribadinya. Ia tidak mencari pembenaran atas kegagalan itu. Sebaliknya, ia menempatkan tanggung jawab sepenuhnya pada dirinya sendiri.
“Jiwaku sakit. Aku memimpikan gelar ini berkat semua cinta yang kalian berikan kepadaku, setiap pesan, setiap dukungan yang membuatku merasa tidak sendirian,” tulis Diaz.
Pemain berusia 26 tahun itu menegaskan bahwa ia telah berjuang sepenuh hati sepanjang turnamen, namun mengakui bahwa pada momen terpenting ia gagal menjalankan tugasnya.





