Nilai tukar rupiah pada pagi hari ini, Selasa (13/1/2026), tercatat melemah ke level Rp16.840 per dolar AS. Pelemahan ini menunjukkan penurunan sebesar 18 poin atau 0,11 persen dari nilai sebelumnya yang berada pada Rp16.855 per dolar AS.
Tren pelemahan nilai tukar rupiah sebenarnya sudah dimulai sejak perdagangan sebelumnya, di mana pada penutupan perdagangan Senin, nilai tukar rupiah tercatat melemah ke Rp16.955 per dolar AS.
Dengan pergerakan yang terus menunjukkan arah melemah, hal ini menandakan adanya sejumlah tekanan yang berpotensi memengaruhi kepercayaan investor terhadap rupiah.
Faktor Penyebab Melemahnya Rupiah Ancaman tarif Presiden TrumpSalah satu faktor yang berkontribusi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah adalah ancaman tarif yang diucapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam beberapa waktu terakhir, Trump mengancam akan mengenakan tarif sebesar 10 persen terhadap beberapa negara Eropa yang menentang rencana AS untuk mengakuisisi Greenland. Hal ini telah menciptakan ketidakpastian di pasar global dan memicu reaksi pasar yang negatif. Pengamat pasar mata uang menjelaskan bahwa isu ini telah menambah tekanan kepada mata uang lainnya, termasuk rupiah, yang berpotensi menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.
Pernyataan hawkish pejabat The FedSelain itu, pernyataan dari pejabat The Federal Reserve (The Fed) mengenai kebijakan suku bunga telah menambah ketidakpastian di pasar. Pejabat The Fed, John Williams, menyampaikan bahwa saat ini suku bunga di Amerika Serikat sudah sesuai dengan kondisi ketenagakerjaan dan inflasi, sehingga tidak perlu dilakukan pemotongan suku bunga dalam waktu dekat.
Pernyataan ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu lebih lama, sehingga menambah daya tarik dolar AS dibandingkan dengan mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Analisa Pasar dan Sentimen Investor Reaksi pasar terhadap isu politikReaksi pasar terhadap perkembangan politik yang terjadi di Amerika Serikat menjadi faktor penting dalam penilaian nilai tukar mata uang. Ketidakpastian yang diakibatkan oleh penyelidikan terhadap Ketua The Fed oleh pemerintahan Trump memberikan dampak negatif bagi pasar keuangan. Banyak investor yang memilih untuk melepaskan aset berdenominasi dolar dan beralih ke aset lindung nilai, seperti emas. Dalam situasi ini, investor mengedepankan kehati-hatian dalam pengambilan keputusan investasi, yang pada gilirannya berdampak negatif pada nilai tukar rupiah.
Potensi pengaruh inflasi AS terhadap rupiahData inflasi yang bisa mendasari pergerakan mata uang juga menjadi perhatian para investor. Diperkirakan bahwa inflasi inti di Amerika Serikat akan mengalami peningkatan, yang akan memberikan sinyal perlunya penyesuaian dalam kebijakan moneter oleh The Fed. Inflasi yang lebih tinggi di AS cenderung menguatkan dolar AS dan memberikan tekanan lebih pada mata uang lain, termasuk rupiah. Jika inflasi AS tetap tinggi, maka potensi penguatan dolar akan terus berlanjut, yang semakin membebani nilai tukar rupiah.



