JAKARTA, DISWAY.ID - Kondisi cuaca di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir menunjukkan peningkatan signifikan intensitas hujan, bahkan di sejumlah daerah telah mencapai kategori lebat hingga ekstrem.
Fenomena ini tercatat terjadi di banyak wilayah, mulai dari Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Sulawesi Selatan.
Berdasarkan pemantauan cuaca BMKG, curah hujan harian tertinggi tercatat di DKI Jakarta mencapai 213,4 mm per hari, disusul Sulawesi Selatan (101,2 mm/hari), Jawa Barat (86,7 mm/hari), Kota Tangerang (85,4 mm/hari), Lampung (83,0 mm/hari), DI Yogyakarta (78,4 mm/hari), Jawa Timur (67,5 mm/hari), dan NTB (66,5 mm/hari). Angka-angka tersebut menunjukkan betapa seriusnya potensi cuaca ekstrem yang tengah berlangsung.
BACA JUGA:Kemenhub Sebut Cuaca Sedikit Berawan saat Pesawat ATR 42-500 IAT Hilang Kontak
Faktor Penyebab Cuaca EkstremPeningkatan hujan lebat hingga ekstrem ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor atmosfer, terutama pada skala regional. Salah satu faktor utama adalah keberadaan sirkulasi siklonik yang sebelumnya terpantau di selatan NTB dan berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S.
Sistem tersebut memicu terbentuknya daerah konvergensi yang luas di wilayah selatan Indonesia, mencakup Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Meski Bibit Siklon Tropis 96S kini telah melemah dan dinyatakan punah, dinamika atmosfer kembali menunjukkan munculnya Bibit Siklon Tropis 97S di wilayah Laut Timor.
Bibit siklon baru ini berpotensi kembali memperkuat pola konvergensi dan meningkatkan peluang hujan lebat hingga sangat lebat, khususnya di wilayah NTB dan NTT.
Selain itu, kondisi cuaca juga dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Asia, yang membawa aliran massa udara lembap dari Laut Cina Selatan, melintasi Selat Karimata, hingga mencapai Pulau Jawa. Penguatan angin baratan di wilayah selatan Indonesia turut mendukung pertumbuhan awan hujan secara intensif.
BACA JUGA:Medan Sulit, Cuaca Ekstrem, Evakuasi Korban Pesawat ATR Terhalang
Dinamika Atmosfer Sepekan ke DepanDalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan dinamika atmosfer global, regional, dan lokal masih akan berperan besar terhadap pola cuaca di Indonesia.
Pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada fase negatif yang mengarah pada La Niña lemah, ditandai dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) yang cenderung positif. Kondisi ini berpotensi meningkatkan suplai uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di banyak wilayah Indonesia.
Sementara itu, aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) diperkirakan aktif melintasi NTB, NTT, Laut Flores, Laut Timor, hingga Samudra Hindia selatan NTT. Aktivitas MJO ini dapat memperkuat proses pembentukan awan hujan, terutama di wilayah-wilayah tersebut.
Tak hanya itu, gelombang ekuator seperti Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator juga terpantau aktif, terutama di Samudra Hindia barat Sumatera, pesisir Bengkulu hingga Lampung, serta perairan selatan NTB dan NTT. Kombinasi ketiga fenomena ini meningkatkan aktivitas konvektif dan potensi hujan signifikan.
BACA JUGA:BMKG dan Tomorrow Indonesia Rampungkan Studi Kelayakan Peningkatan Prakiraan Cuaca Jangka Pendek
Pengaruh Siklon Tropis dan Cold Surge AsiaDi wilayah lain, Siklon Tropis Nokaen yang terpantau di Laut Filipina bagian utara Maluku Utara diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot dan tekanan udara sekitar 1000 hPa, bergerak ke arah timur laut. Sistem ini berpengaruh terhadap pola angin di wilayah Indonesia bagian timur.
- 1
- 2
- 3
- »




