PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney akan fokus pada integrasi ekosistem aviasi dan pariwisata berkelanjutan, termasuk pengembangan bandara hijau pada tahun ini. Ini adalah tahun keempat Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata ini beroperasi.
Direktur Utama InJourney Maya Watono mengatakan, pembentukan InJourney pada 2022 awalnya diarahkan untuk mendukung percepatan pemulihan sektor pariwisata. Namun, perusahaan akan mengusung visi yang lebih luas ke depan, yakni mengintegrasikan ekosistem aviasi dan pariwisata nasional sebagai satu kekuatan ekonomi.
“Ke depan, visi besarnya adalah mengintegrasikan ekosistem aviasi dan pariwisata Indonesia menjadi satu kekuatan besar untuk membangun ekonomi bangsa,” ujar Maya dalam perayaan ulang tahun keempat InJourney, di Jakarta, Senin (19/1).
Dalam kerangka pariwisata berkelanjutan, Maya menyebut InJourney mengusung visi Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities. Target itu ditopang oleh dua bidang utama, lingkungan (environment) dan sosial-ekonomi (socio-economic).
Pada pilar lingkungan, InJourney berfokus pada pengelolaan air dan limbah, strategi iklim dan lingkungan, serta perlindungan keanekaragaman hayati. Maya menargetkan penurunan emisi sebesar 4.000 ton CO?e sebagai bagian dari dukungan terhadap target Net Zero Emission pemerintah.
Sejumlah inisiatif hijau disebutnya telah diterapkan, termasuk pemanfaatan energi surya melalui PLTS di sembilan bandara utama dengan produksi 10.760 MWh per tahun, yang berpotensi menghindari emisi hingga 9.860 ton CO2. InJourney juga mengoperasikan 716 unit kendaraan dan peralatan listrik di bandara dan destinasi wisata.
Di bidang pengelolaan sumber daya, InJourney menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan pengelolaan limbah padat mencapai 7.000 meter kubik serta pemanfaatan air daur ulang sebesar 1,72 juta meter kubik. Selain itu, program penanaman 40.000 pohon mangrove dijalankan sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.
Sementara itu, pada pilar sosial-ekonomi, InJourney menempatkan peningkatan kualitas hidup masyarakat sebagai prioritas melalui program kesehatan, pendidikan, pengentasan kemiskinan, serta kemitraan dengan pelaku usaha lokal dan UMKM.
Maya mengungkap InJourney saat ini mengelola aset di berbagai lini, mulai dari bandara, layanan aviasi, destinasi pariwisata, hingga perhotelan.
Sepanjang 2024, InJourney mencatatkan sekitar 157 juta pergerakan penumpang di 37 bandara dan sekitar 98 juta kunjungan wisatawan di berbagai destinasi yang dikelola. Di sektor perhotelan, InJourney mengelola 39 hotel dan menargetkan konsolidasi hingga sekitar 150 hotel.
Pengembangan bandara hijau disebut menjadi salah satu fokus utama karena bandara merupakan pintu masuk utama pariwisata sekaligus penyumbang emisi operasional yang signifikan. Upaya efisiensi energi dan penggunaan energi terbarukan dinilai penting untuk menekan dampak lingkungan dari aktivitas aviasi.
Maya mengungkap, InJourney menargetkan kontribusi sektor aviasi dan pariwisata terhadap produk domestik bruto (GDP) nasional berada di kisaran 4,1% — 6% pada 2029. Target tersebut diharapkan dapat dicapai melalui integrasi aset, peningkatan konektivitas udara, pengembangan destinasi, serta penerapan prinsip keberlanjutan dalam operasional.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5445163/original/067001200_1765813342-menkomdigi.jpg)



