KEBAKARAN hutan hebat yang melanda wilayah selatan Cile memasuki hari ketiga pada Senin (19/1). Bencana ini telah merenggut sedikitnya 20 nyawa dan menghanguskan seluruh pemukiman, dipicu suhu panas ekstrem serta angin kencang di tengah musim panas belahan bumi selatan.
Api mulai berkobar sejak Sabtu di wilayah Nuble dan Biobio, sekitar 500 kilometer selatan ibu kota Santiago. Hingga saat ini, kobaran api telah melahap area seluas Kota Detroit, Amerika Serikat, dan menghancurkan atau merusak sekitar 1.000 rumah.
Presiden Cile, Gabriel Boric, menyatakan meski petugas pemadam kebakaran berhasil mengendalikan beberapa titik api, sebagian besar lainnya masih "sangat aktif". Bahkan, titik api baru dilaporkan mulai muncul di wilayah Araucania yang berbatasan dengan Biobio. Pemerintah pun telah menetapkan Nuble dan Biobio sebagai zona bencana, yang memungkinkan pengerahan tentara untuk berpatroli di lokasi terdampak.
Baca juga : 1 Tewas, 300 Bangunan Musnah Akibat Kebakaran Hutan Hebat Guncang Australia Tenggara
Gelombang Api, Bukan AirWarga yang kembali ke sisa-sisa rumah mereka pada Senin disambut pemandangan memilukan. Mobil-mobil yang meleleh, logam yang melintir, dan rumah-rumah yang telah menjadi puing dan abu.
"Itu mengerikan. Saya mencoba membasahi rumah sebanyak mungkin, tetapi saya melihat api datang ke arah lingkungan saya. Saya memeluk putra saya, saudara laki-laki saya menyelamatkan anjing kami, dan kami melarikan diri," kata Yagora Vasquez, warga Lirquen, kepada AFP.
Tragisnya, banyak warga yang memilih tinggal di perbukitan demi menghindari tsunami setelah bencana gempa bumi tahun 2010. Namun kali ini, ancaman justru datang dari hutan. Mareli Torres, 53, yang rumahnya hancur akhir pekan ini, menyebut bencana ini sebagai "gelombang api, bukan air."
Baca juga : 22 Tewas dan 554 Terluka Akibat Kebakaran Hutan di Cile
"Ini jauh lebih buruk, jauh lebih merusak. Saat gempa bumi, laut meluap dan terjadi kehancuran, tetapi dibandingkan dengan ini, itu tidak ada apa-apanya," ungkap Torres yang kini hanya memiliki sisa tembok rumah yang menghitam.
Dampak Perubahan IklimLebih dari 3.500 petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api. Meski suhu sedikit menurun ke angka 25°C pada Senin, kondisi tetap berbahaya karena lahan yang sangat kering.
Penelitian tahun 2024 oleh Pusat Penelitian Iklim dan Ketahanan di Santiago menemukan bahwa perubahan iklim telah "mengkondisikan terjadinya musim kebakaran ekstrem di Cile tengah-selatan" melalui tren pemanasan dan kekeringan jangka panjang.
Bencana ini mengingatkan publik pada tragedi Februari 2024, di mana kebakaran di dekat Vina del Mar menewaskan 138 orang. Selain Cile, kebakaran hutan juga dilaporkan telah menghanguskan lebih dari 15.000 hektar lahan di wilayah Patagonia, Argentina, dalam beberapa hari terakhir. (AFP/Z-2)




