Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara disebut tengah menyiapkan penerbitan Obligasi Patriotik atau Patriot Bond jilid II dengan target senilai US$ 1,2 miliar atau setara Rp 20 triliun.
Mengutip laporan Bloomberg, sovereign wealth fund (SWF) Indonesia ini berencana membuka aksi penghimpunan dana tersebut pada semester pertama 2025. Rencana ini menjadi putaran kedua setelah Patriot Bond pertama telah terlaksana pada tahun lalu.
Sumber Bloomberg menyebut, kupon obligasi diperkirakan berada di bawah tingkat suku bunga pasar. Dia mengatakan, diskusi tersebut masih berlangsung dan ketentuan dapat berubah sewaktu-waktu.
Pada penerbitan sebelumnya, Danantara menerbitkan obligasi tenor lima dan tujuh tahun dengan kupon sekitar 2% berada di bawah kupon obligasi pemerintah yang menawarkan imbal hasil sekitar 6,2%.
Untuk jilid kedua, Danantara disebut akan menyasar para taipan sawit dan kelompok elite bisnis yang belum berpartisipasi pada penerbitan pertama. Penawaran Patriot Bond ini sebelumnya telah dipaparkan Danantara kepada Presiden Prabowo Subianto awal bulan ini sebagai bagian dari rencana kerja SWF menuju 2026, satu tahun setelah operasional berjalan.
Katadata telah meminta konfirmasi kepada Tim Komunikasi Danantara. Namun hingga berita ini dipublikasikan, Danantara belum memberikan jawaban.
Bergantung pada Minat InvestorSinyal penerbitan Patriot Bond jilid II sejatinya telah diungkapkan Managing Director Treasury Danantara, Ali Seliawan, pada November lalu. Ali menjelaskan Patriot Bond adalah instrumen pasar yang diterbitkan melalui skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement, bukan penawaran publik. Karena itu, penerbitan tahap berikutnya sangat bergantung pada minat investor.
“Kalau misalnya ada kedua ya kalau ada minat yang besar kami juga pasti akan oke buka lagi gitu ya dari peminat untuk investasi di Patriot Bond tersebut,” kata Ali di Kantor Danantara, 28 November.
Ali menambahkan, rencana penerbitan tahap kedua muncul dari reverse inquiry, yakni minat investor yang ingin ikut berpartisipasi. Artinya, inisiatif tidak berasal dari Danantara, melainkan dari permintaan investor.
“Jadi bukan kami yang memaksa, tapi memang ada reverse inquiry dari mereka,” ujar Ali.
Pada tahap pertama, Patriot Bond digunakan untuk pembiayaan proyek waste to energy (WtE) atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) melalui skema pembiayaan ekuitas. Di sini, Danantara membeli saham perusahaan patungan yang mengoperasikan fasilitas WtE tersebut.
Seperti diketahui, pemerintah sebelumnya telah menghimpun dana lebih dari Rp 50 triliun melalui penerbitan surat utang negara kepada konglomerat dalam skema Patriot Bond.


