JAKARTA, KOMPAS.com – Deru mesin truk kontainer nyaris tak pernah berhenti di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.
Setiap hari, kendaraan berat lalu lalang tanpa jeda, bercampur dengan sepeda motor dan mobil pribadi, menciptakan situasi lalu lintas yang kerap disebut warga sebagai salah satu yang paling berbahaya di Jakarta.
Cilincing menjadi salah satu kawasan yang dipadati kendaraan berat seperti kontainer dan truk trailer setiap harinya.
Lokasinya yang tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok menjadi penyebab kawasan ini selalu dilalui truk hampir setiap menitnya.
Baca juga: Sensasi Melintasi “Jalur Tengkorak” Cilincing: Rawan Kecelakaan di Tengah Dominasi Truk
Di sisi lain, banyak pula depo truk yang berada di Cilincing, sehingga tak heran bila kawasan ini menjadi jalur utama para truk melintas.
Keberadaan kendaraan berat tentu saja menjadi beban jalan raya di Cilincing. Di sisi lain, lokasi ini merupakan kawasan padat penduduk, sehingga pengguna sepeda motor dan mobil pribadi pun tak kalah banyak jumlahnya.
Bercampurnya kendaraan berat dengan sepeda motor atau minibus membuat jalan di Cilincing menjadi rawan kecelakaan.
Bahkan, ada beberapa titik jalan di wilayah itu yang disebut sebagai “jalur tengkorak” karena seringnya terjadi kecelakaan. Salah satunya berada di perempatan Cilincing.
Bertaruh nyawaBiasanya, kecelakaan yang paling banyak terjadi di perempatan Cilincing melibatkan pengendara motor dengan truk trailer atau kontainer.
Kecelakaan kerap terjadi karena pengendara motor dan truk sama-sama tidak mematuhi lampu lalu lintas di perempatan Cilincing. Aksi saling menerobos itu sering berujung tabrakan.
Namun, tak sedikit pula kecelakaan terjadi saat pengendara motor tak sabar berada di belakang truk dan mencoba menyalip dari samping. Sayangnya, ketika menyalip, mereka kerap kehilangan keseimbangan hingga terjatuh dan terlindas ban truk.
Baca juga: Lampu Merah di Jalur “Tengkorak Cilincing” Hanya Jadi Pajangan, Lalu Lintas Kian Mencekam
Tak jarang, imbas dari kecelakaan tersebut membuat pengendara motor langsung kehilangan nyawa di lokasi.
Meski sudah banyak kasus kecelakaan, kondisi lalu lintas di perempatan Cilincing tetap semrawut dan belum menunjukkan perubahan signifikan.
Baik motor, mobil, maupun truk kerap saling menerobos lampu merah yang sebenarnya masih berfungsi dengan baik, hanya demi berebut jalan.
Tak jarang pula motor dan truk terlibat bentrok di tengah perempatan Cilincing hingga berujung adu mulut.
Kebiasaan saling menerobos itu seolah menunjukkan bahwa para pengendara telah siap bertaruh nyawa setiap kali melintas di jalur tengkorak ini.
Salah satu pengendara, Arafiq (46), yang sudah puluhan tahun rutin melintas di jalan tersebut, menilai aksi saling menyerobot lampu merah merupakan hal lumrah di perempatan Cilincing.
Saking terbiasanya, ia mengaku sama sekali tak takut menerobos lampu merah meski berpotensi tertabrak truk.
"Ya, sudah biasa sih jadi enggak takut. Saya jadi salah satu orang yang menyerobot, karena pas mau sabar orang di belakang udah enggak sabar, kita diklaksonin," ungkap Arafiq saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Senin (19/1/2026).
Baca juga: 3 Warga Cilincing Tewas Tersetrum saat Banjir Landa Sejumlah Wilayah Jakarta


