Rupiah Jeblok Nyaris Sentuh Rp17.000, Analis Jabarkan Faktor Penekannya

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — BRI Danareksa Sekuritas mengungkap tiga faktor yang menjadi penekan kurs rupiah terhadap dolar AS yang jatuh ke level terendah sepanjang masa sekaligus makin mendekati level psikologis Rp17.000. 

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah melemah 30 poin atau 0,18% menjadi Rp16.985 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.955 per dolar AS. Sementara itu, indeks yang mengukur kinerja dolar AS atau indeks dolar AS (DXY) juga tercatat lesu dengan terkoreksi 0,34% ke level 99,05.

Chief Economist and Head of Research BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto mengatakan meskipun tren pasar yang kuat dan arus masuk asing yang berkelanjutan ke pasar obligasi dan ekuitas, rupiah tetap lemah. 

“Hasil ini membingungkan jika dibandingkan dengan korelasi historis,” paparnya dalam riset, dikutip Selasa (20/1/2026). 

Berdasarkan data BRI Danareksa Sekuritas, selama minggu lalu, rupiah semakin melemah, ditutup pada Rp16.885 per dolar AS dan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Kondisi itu disebut telah meningkatkan kekhawatiran pasar. 

Helmy menjabarkan sejumlah faktor tambahan yang menekan nilai tukar rupiah selain ekspansi fiskal dan pelonggaran moneter. 

Baca Juga : Rupiah Dibuka Melemah Hari Ini (20/1), Kian Dekati Rp17.000 per dolar AS

Pertama, kekhawatiran defisit fiskal. Menurutnya, sentimen pada awal 2026 dibebani oleh kekhawatiran atas defisit fiskal yang lebih besar. 

Faktor tersebut muncul setelah Kementerian Keuangan mengungkap bahwa defisit APBN 2025 sebesar 2,92% dari produk domestik bruto (PDB) dan penerbitan utang yang lebih besar. Hal itu menimbulkan pertanyaan seputar kebutuhan pendanaan. 

“Kekhawatiran ini telah diatasi, dengan Kementerian Keuangan menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga defisit di bawah batas 3%, sedangkan penerbitan yang lebih besar pada awal tahun fiskal merupakan praktik awal yang biasa dilakukan untuk mengamankan pendanaan lebih awal, bukan indikasi meningkatnya tekanan fiskal,” tulisnya. 

Helmy menambahkan keputusan S&P untuk menegaskan peringkat BBB Indonesia dengan prospek stabil pada tahun lalu mencerminkan kepercayaan pada disiplin fiskal yang berkelanjutan dan menggarisbawahi pentingnya menjaga defisit dalam batas yang telah ditetapkan.

Kedua, indeks dolar AS (DXY) bergerak naik dan makin mendekati level 100. BRI Danareksa Sekuritas mencatat DXY menguat hingga sekitar 99,3 setelah bertahan di bawah 99 sepanjang Desember 2025. Apresiasi DXY didukung oleh ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga dan oleh data AS yang lebih kuat. 

Di antara mata uang utama, sebagian besar bank sentral mempertahankan suku bunga, dengan Bank of England memangkas suku bunga dan Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level tertinggi sejak 1995. 

“Perdagangan pelemahan mata uang AS yang mendominasi tahun lalu, yang dibangun berdasarkan ekspektasi pelemahan dolar AS, tampaknya kehilangan momentum. Kami juga mencatat bahwa posisi net long yang besar sebelumnya pada yen baru-baru ini berbalik menjadi posisi net short, berdasarkan data CFTC.” 

U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH - TradingView

Ketiga, likuiditas lebih besar, penyerapan terbatas. Helmy menjabarkan sejak pertemuan Oktober 2025, Bank Indonesia telah menekankan stabilitas sambil meningkatkan transmisi suku bunga. 

Dia menyoroti langkah BI untuk meningkatkan frekuensi lelang SRBI pada akhir November 2025. Hal itu sering dilihat sebagai bagian dari upaya untuk menjaga stabilitas rupiah karena dimaksudkan untuk menyerap kelebihan likuiditas. Sejak itu, imbal hasil SRBI telah kembali ke sekitar 4,7%, sejalan dengan imbal hasil yield SBN Indonesia tenor 1 tahun yang lebih rendah dan penerbitan yang menurun. 

Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa BI tidak lagi secara signifikan memperketat likuiditas rupiah melalui operasi SRBI.

Di pasar saham, BRI Danareksa Sekuritas mencatat terjadi arus masuk dana asing yang makin menguat pada minggu kedua Januari 2026 mencapai Rp3,4 triliun. Alhasil, net inflow asing di pasar saham secara kumulatif month-to-date (MtD) menjadi Rp6,5 triliun. 

“Momentum pembelian asing yang berkelanjutan ini mendukung kinerja pasar ekuitas, dengan IHSG sempat menyentuh rekor tertinggi baru di sekitar level 9.100 minggu lalu,” imbuhnya.

Di pasar saham, arus masuk tetap terkonsentrasi pada beberapa saham berkapitalisasi besar, dengan ANTM, INCO, ASII, BBRI, dan PTRO muncul sebagai lima saham teratas yang menunjukkan akumulasi asing paling konsisten.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ulang Tahun Jennie BLACKPINK Jadi Sorotan, Aksi Tiup Lilin Tuai Pro dan Kontra
• 2 jam laluinsertlive.com
thumb
Melihat Tradisi Tahunan Labuhan Keraton Yogyakarta
• 12 jam laludetik.com
thumb
Kubu Nadiem akan Laporkan 3 Saksi ke KPK, Diduga Terima Duit Panas Chromebook, Siapa Mereka?
• 21 jam lalusuara.com
thumb
Gas ‘Suntik’ Terbongkar di Bekasi, Polisi Amankan Ratusan Tabung dan Tiga Pelaku
• 18 jam laluokezone.com
thumb
72 Pegawai Kejaksaan Disanksi Hukuman Berat, dari Turun Jabatan hingga Dipecat
• 1 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.