JAKARTA – Presiden ke-6 Republik Indonesia (RI) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap dinamika global saat ini yang dinilainya mengarah pada potensi pecahnya Perang Dunia III. Ia menyebut situasi dunia saat ini memiliki kemiripan yang mengkhawatirkan dengan kondisi menjelang Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah,” kata SBY dalam keterangan di akun X pribadinya yang dikutip Selasa (20/1/2026).
Kendati demikian, kata SBY, hari ke hari ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914–1918) dan Perang Dunia Kedua (1939–1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini.
Misalnya, hal itu ditandai dengan munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran, termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perang, serta geopolitik yang benar-benar panas.
“Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi,” tuturnya.
Pasalnya, banyak studi yang menyebutkan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total, dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 miliar manusia, bahkan tidak ada peradaban yang tersisa dan harapan manusia pun musnah.
“Tetapi tidak cukup dengan doa satu atau dua orang. Andaikata 8,3 miliar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan jika manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya,” ucap dia.
SBY mendorong adanya langkah konkret dari komunitas internasional. Secara khusus, ia mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengambil inisiatif.
“Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru,” kata SBY.
Meski mengakui saat ini PBB tampak tidak berdaya dan tidak berkuasa, SBY berharap sejarah tidak mencatat lembaga internasional tersebut melakukan pembiaran. Ia mengingatkan bahwa kehancuran dunia sering kali terjadi bukan karena orang jahat, melainkan karena orang-orang baik memilih untuk diam.
“Mungkin saja seruan para pemimpin sedunia itu ‘bagai berseru di padang pasir’. Artinya, tak akan diindahkan. Namun, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way,” pungkasnya.
Original Article



