JAKARTA, KOMPAS – Pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Aquinas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia berisiko memicu tekanan di pasar keuangan. Implikasinya, nilai tukar rupiah diperkirakan semakin terpuruk di tengah sentimen global.
Sebelumnya, Thomas yang merupakan kemenakan dari Presiden RI Prabowo Subianto dikabarkan akan mengisi kursi kosong Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Ia dicalonkan bersama dua sosok lainnya dan akan segera menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Dewan Perwakilan Rakyat dalam waktu dekat.
Sebaliknya, Juda Agung yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Guberbur BI dikabarkan akan menempati posisi Wakil Menteri Keuangan yang ditinggalkan oleh Thomas.
Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi berpendapat, pencalonan Thomas sebagai Dewan Gubernur BI berisiko memicu respons negatif dari para pelaku pasar. Apalagi, posisi Dewan Gubernur BI merupakan jabatan yang krusial.
“Ini sangat membahayakan negara, karena pemimpin bank sentral itu membutuhkan orang-orang yang harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebijakan moneter, sistem keuangan, dan ekonomi makro,” katanya saat dihubungi pada Selasa (20/1/2026).
Melansir laman resmi Kementerian Keuangan, Thomas merupakan lulusan sarjana Studi Sejarah di Haverford College, Amerika Serikat pada 1994. Selanjutnya pada 2003, ia meraih gelar Master of Arts di bidang Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat.
Pengalamannya di bidang ekonomi antara lain sebagai analis keuangan di NatWest Market, Jakarta, pada 1996, dan konsultan di Castle Asia pada 1999. Lalu, ia juga sempat berkarir di Comexindo Internasional selama 2010-2024, serta di Arsari Group pada 2011-2024.
Sebelum dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan oleh Presiden RI ke-7 Joko Widodo, Thomas merupakan Bendahara Umum Partai Gerindra. Ia pun kembali didapuk sebagai Wakil Menteri Keuangan oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Saya khawatir market tidak memberikan respon positif terhadap beliau. Ini juga akan berpengaruh pada rupiah kita yang nanti bisa semakin tertekan. Sekarang saja, sudah nyaris ke Rp 17.000 per dolar AS.
Menurut Rahma, calon Deputi Gubernur BI seharusnya memiliki latar belakang yang kuat di bidang ekonomi, keuangan, dan kebijakan moneter. Ini mengingat posisi tersebut memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga stabilitas ekonomi, baik dari sisi domestik maupun global.
“Saya khawatir market tidak memberikan respon positif terhadap beliau. Ini juga akan berpengaruh pada rupiah kita yang nanti bisa semakin tertekan. Sekarang saja, sudah nyaris ke Rp 17.000 per dolar AS,” ujarnya.
Sejak awal tahun, nilai tukar rupiah terus melemah hingga terdepresiasi sebesar 1,25 persen secara tahun kalender berjalan. Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah pada perdagangan Senin (19/1/2026) ditutup di level Rp 16.935 per dolar AS.
Dihubungi secara terpisah, ekonom senior Bright Institute, Yanuar Rizky, mengatakan, tata kelola kebijakan saat ini menjadi salah satu kunci penting bagi perekonomian Indonesia dalam rangka memitigasi risiko gejolak global.
“Jadi, isu ini (tukar guling Thomas-Juda) kontroversial, dan akan menambah tekanan persepsi yang menekan rupiah,” katanya.
Menurut Yanuar, dinamika pelemahan nilai tukar rupiah telah berlangsung sejak lama. Bahkan, keseimbangan baru atau batas bawah rupiah saat ini telah berada pada level Rp 16.600 per dolar AS.
Kondisi tersebut, antara lain, tampak dari perbandingan antara pergerakan indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) dengan nilai tukar rupiah. Pada Maret 2020, DXY berada di level 97, sedangkan rupiah masih tercatat di level Rp 14.192 per dolar AS.
Kemudian, saat DXY berada di level 97 pada Maret 2022, rupiah tercatat Rp 14.365 per dolar AS. Artinya, telah terjadi pergeseran keseimbangan baru nilai tukar rupiah sebesar 200 poin.
Bahkan, keseimbangan tersebut kian melebar hingga 2.000 poin, yakni ketika DXY berada di level 97 pada November 2025 dan rupiah tercatat Rp 16.648 per dolar AS. Ke depan, Yanuar memperkirakan, rupiah berisiko kembali tertekan pada periode Februari-Maret 2026, Mei-Juni 2026, serta November-Desember 2026.
Ada kemungkinan besar hari ini atau besok rupiah itu akan tembus di level Rp 17.000 per dolar AS.
Sementara itu, pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi berpendapat, pelemahan rupiah telah terjadi sebelum mencuatnya kabar pencalonan Thomas. Sebaliknya, tekanan terhadap rupiah merupakan komplikasi, baik dari faktor eksternal maupun internal.
Dari sisi eksternal, gejolak geopolitik, mulai dari Timur-Tengah, kawasan Eropa, dan kebijakan Amerika Serikat telah memicu ketidakpastian. Selain itu, kepastian dari penurunan suku bunga kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) pun turut memberikan andil bagi tekanan di pasar keuangan.
Di sisi lain, rupiah juga tertekan akibat kondisi stabilitas ekonomi domestik. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diperkirakan dapat melebar hingga 3 persen telah memberikan sinyal kondisi fiskal sedang tidak baik-baik saja.
“Ini pun juga yang kemungkinan besar akan mempengaruhi terhadap pelemahan mata uang rupiah,” kata Ibrahim.
Menurutnya, pencalonan Thomas sebagai Deputi Gubernur BI memang berdampak bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, dampaknya relatif tidak signifikan mengingat pelemahan rupiah sudah berlangsung sebelumnya, yakni sejak dilantiknya Donald Trump sebagai Presiden AS pada awal 2025.
Dengan kata lain, adanya pencalonan Thomas atau pun tidak, rupiah tetap akan tertekan. “Ada kemungkinan besar hari ini atau besok rupiah itu akan tembus di level Rp 17.000 per dolar AS,” ujarnya.





