JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno meninjau langsung kesiapan perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di kawasan Pecinan Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat, Selasa (20/1/2026).
Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan perayaan Imlek berlangsung tertib, aman, serta tetap menjaga kerukunan antarumat beragama di tengah padatnya agenda hari besar keagamaan.
Dalam kunjungan tersebut, Rano didampingi Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kota (Forkopimko). Rombongan berkeliling kawasan Glodok untuk melihat langsung kondisi lapangan menjelang perayaan Imlek.
Baca juga: Jauh-jauh dari Sumatera, Warga Berburu Ornamen Imlek di Glodok
Agenda peninjauan diawali dengan menyambangi para pedagang di PD Pasar Jaya Glodok. Selanjutnya, rombongan menyusuri kemeriahan Bazaar Imlek yang digelar di sepanjang kawasan Pecinan Glodok.
Di sela kunjungan, sejumlah pedagang tampak menyampaikan aspirasi kepada Rano. Beberapa persoalan yang disampaikan antara lain terkait penataan kawasan niaga serta masalah parkir liar yang selama ini kerap dikeluhkan pedagang dan warga.
Kunjungan tersebut kemudian ditutup dengan peninjauan bangunan bersejarah Gedung Chandra Naya di Jalan Gajah Mada, yang menjadi salah satu ikon budaya di kawasan Glodok.
Rano menekankan, persiapan perayaan Imlek harus dilakukan secara matang, mengingat dalam waktu berdekatan Jakarta juga akan menghadapi rangkaian hari besar keagamaan lainnya.
"Kita menghadapi Imlek, kemudian kita akan Ramadan, kita akan Idul Fitri. Yang pasti harus kita jaga adalah tentang kerukunan umat beragama," ucap Rano kepada wartawan di Gedung Chandra Naya, Selasa.
Ia mengakui masih terdapat pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, khususnya terkait penanganan parkir liar dan penataan kawasan niaga Glodok. Namun, penataan menyeluruh tersebut baru akan dilakukan setelah proyek revitalisasi Kota Tua rampung.
Baca juga: Menjelang Imlek dan Jakarta Kota Sinema, Dishub Terapkan Rekayasa Lalin di Kota Tua
"Karena sekarang problematik parkir misalnya kan, cuma memang kita harus punya sentral, makanya sekarang kita fokus menyelesaikan Kota Tua dulu. Nanti kita plotting, wilayah ini menjadi apa," jelas Rano.
Rano optimistis, setelah penataan dilakukan, kawasan Glodok dan Kota Tua akan menjadi magnet ekonomi baru di Jakarta. Optimisme itu ditopang oleh rencana integrasi transportasi umum melalui pengembangan Transit Oriented Development (ToD) di kawasan tersebut.
"Kereta api tuh setiap hari 1,5 juta orang tuh. Belum nanti tambah MRT 500.000, Transjakarta 500.000. Jadi Anda bisa bayangkan tempat ini satu hari 2,5 juta orang, pasti tempat ini akan jauh lebih semarak," kata Rano.
Karena itu, ia mendorong agar bangunan-bangunan tua di Glodok dapat dimanfaatkan sebagai penginapan, seperti hostel atau guest house, untuk mendukung sektor pariwisata.
"Saya lihat, ini namanya hostel atau yang namanya guest house, itu pasti akan ramai, harus dimanfaatkan," kata dia.
Bahkan, Rano meyakini bahwa jika penataan kawasan sudah sepenuhnya rampung, Glodok dan Kota Tua mampu bersaing dengan destinasi wisata bersejarah di kawasan Asia Tenggara.





