TUBERKULOSIS (TB) selama ini kerap dikenal sebagai penyakit yang ditandai dengan batuk berkepanjangan. Padahal, gejala TB tidak hanya terbatas pada batuk, melainkan dapat bervariasi tergantung pada bagian tubuh yang terinfeksi. Kondisi inilah yang membuat TB sering terlambat dikenali, terutama jika gejalanya tidak menyerang paru-paru.
TB merupakan penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya terjadi melalui udara, ketika penderita TB batuk, bersin, atau meludah. Bakteri tersebut dapat terhirup orang lain di sekitarnya dan menyebabkan infeksi.
Menurut informasi yang dilansir dari laman Alodokter, bakteri TB umumnya berkembang di paru-paru. Namun, dalam beberapa kasus, bakteri ini juga bisa menyebar ke organ lain melalui aliran darah atau sistem limfatik, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang lemah.
Baca juga : Indonesia Tempati Peringkat Kedua Kasus Tuberkulosis Terbanyak di Dunia
Gejala TB Paru dan Gejala UmumJika menyerang paru-paru, TB dapat menimbulkan beberapa gejala berikut:
Gejala TB paru:- Batuk terus-menerus selama lebih dari 2–3 minggu
- Batuk berdarah
- Nyeri dada saat bernapas atau batuk
- Sesak napas
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
- Tubuh terasa lemas dan mudah lelah
- Demam yang berlangsung lama
- Menggigil
- Berkeringat pada malam hari
- Nafsu makan menurun
Gejala-gejala tersebut sering muncul secara perlahan, sehingga tidak jarang dianggap sebagai keluhan biasa dan diabaikan.
Gejala TB di Luar Paru-ParuTB tidak hanya menyerang paru-paru. Saat bakteri menyebar ke organ lain atau dikenal sebagai TB ekstra paru, tanda dan gejalanya dapat berbeda-beda sesuai organ yang terinfeksi, antara lain:
Baca juga : Sulsel Masuk Sepuluh Besar Tuberkulosis, Makassar Target Zero TB 2029
- Nyeri punggung pada TB tulang belakang
- Kencing berdarah pada TB ginjal
- Pembengkakan kelenjar getah bening pada TB kelenjar
- Sakit perut pada TB usus
- Sakit kepala dan kejang pada TB selaput otak
- Nyeri tulang dan sendi hingga sulit bergerak pada TB tulang dan sendi
Karena gejalanya beragam dan tidak selalu berkaitan dengan batuk. TB ekstra paru sering kali baru terdeteksi setelah kondisinya cukup berat.
TB Laten dan TB AktifBakteri Mycobacterium tuberculosis dapat menginfeksi siapa saja, terutama di Indonesia yang termasuk wilayah endemis TB. Namun, tidak semua orang yang terpapar bakteri ini langsung mengalami gejala.
Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, bakteri TB dapat tetap berada di dalam tubuh tanpa menimbulkan keluhan. Kondisi ini disebut sebagai TB laten. Sebaliknya, pada individu dengan daya tahan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, diabetes, gangguan ginjal berat, atau malnutrisi, bakteri TB lebih mudah berkembang menjadi TB aktif dan menimbulkan berbagai gejala.
Pencegahan dan PengobatanPencegahan TB dapat dilakukan melalui vaksinasi BCG, terutama bagi mereka yang belum pernah mendapatkannya. Selain itu, penerapan pola hidup sehat, menjaga daya tahan tubuh, serta menghindari rokok dan paparan asap rokok juga berperan penting dalam menurunkan risiko infeksi.
Bagi penderita TB laten dengan risiko tinggi berkembang menjadi TB aktif, dokter dapat memberikan antibiotik pencegahan yang harus dikonsumsi secara teratur dalam jangka waktu tertentu.
Sementara itu, penderita TB aktif wajib menjalani pengobatan dengan obat antituberkulosis (OAT) hingga tuntas sesuai anjuran dokter, meskipun gejala sudah membaik. Sebab, penghentian obat sebelum waktunya dapat membuat bakteri menjadi kebal dan meningkatkan risiko komplikasi serius, termasuk kerusakan paru-paru permanen. (Alodokter/Z-2)




