EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada Sabtu, 17 Januari 2026, secara terbuka menyerukan diakhirinya kekuasaan Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang telah berkuasa selama 37 tahun. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal paling keras dari Washington terkait dorongan perubahan rezim di Iran.
Dalam wawancara eksklusif dengan media Amerika Politico, Trump menyatakan bahwa Iran sudah saatnya mencari kepemimpinan baru. Dia menilai kepemimpinan saat ini hanya bertahan melalui penindasan brutal terhadap rakyatnya sendiri.
Perang Pernyataan Trump–Khamenei
Pernyataan Trump muncul setelah Khamenei sebelumnya melontarkan serangkaian unggahan bernada konfrontatif melalui platform media sosial AXE, dengan menuduh Trump sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian para demonstran Iran.
Dalam unggahan lainnya, Khamenei juga menuding Trump telah secara keliru menggambarkan kelompok-kelompok kekerasan sebagai wakil sah rakyat Iran. Menanggapi tudingan tersebut, Trump menegaskan bahwa rezim Iran mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan sistematis.
“Sebagai pemimpin negara, Khamenei telah menghancurkan Iran secara menyeluruh dan menggunakan penindasan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tegas Trump.
Isu “Serangan Pemenggalan Kepemimpinan”
Situasi semakin memanas setelah muncul pernyataan mengejutkan dari Dan Shapiro, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel. Shapiro memperingatkan bahwa Presiden Trump kemungkinan mempertimbangkan “serangan pemenggalan kepemimpinan” (decapitation strike) yang menargetkan Ayatollah Ali Khamenei dalam beberapa hari ke depan.
Menurut Shapiro, seruan terbuka Trump untuk mengganti kepemimpinan Iran, eskalasi gelombang protes di dalam negeri Iran, serta pergerakan besar armada militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah merupakan indikator kuat dari arah kebijakan tersebut.
Laporan dari platform berita Axios, yang mengutip sumber intelijen di Inggris, menyebutkan bahwa rezim Iran telah menerima informasi intelijen mengenai kemungkinan rencana penargetan langsung terhadap Khamenei.
Reaksi Teheran dan Eskalasi Regional
Menanggapi isu tersebut, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa segala bentuk agresi terhadap Pemimpin Tertinggi Iran akan mendapat kecaman keras dan respons tegas dari Teheran.
Di sisi lain, beredar informasi bahwa Uni Emirat Arab (UEA) mendukung kemungkinan operasi udara gabungan Israel–Amerika Serikat terhadap Iran. Mayoritas pesawat tempur AS saat ini dilaporkan berada di wilayah UEA dan bersiaga untuk operasi lanjutan menuju Teheran.
Angkatan Udara AS juga dilaporkan telah mengerahkan sejumlah besar jet tempur F-15E ke Yordania, setelah sebelumnya ditempatkan di Inggris. Langkah ini menambah kekhawatiran bahwa skenario militer tengah dipersiapkan secara serius.
Keterlibatan Israel dan Pergerakan Tiongkok
Sementara itu, sejak 17 Januari 2026, tercatat sedikitnya 14 pesawat kargo Tiongkok mendarat di Iran, memicu spekulasi dan perhatian luas komunitas internasional.
Pada saat yang sama, sistem pertahanan udara dan rudal Israel dilaporkan berada dalam status siaga tinggi. Para analis menilai bahwa jika aksi militer terhadap Iran benar-benar terjadi, Israel hampir pasti akan terlibat secara langsung. Kolaborasi angkatan udara Israel dan Amerika Serikat dinilai jauh lebih efektif dibandingkan aksi sepihak.
Iran Bergejolak: Rakyat Lawan Jam Malam
Di dalam negeri Iran, kondisi semakin tidak terkendali. Rakyat secara luas mengabaikan status darurat dan jam malam yang diberlakukan pemerintah. Gelombang perlawanan terus menguat di berbagai kota, dengan warga tetap turun ke jalan menuntut kebebasan dan kejatuhan rezim Republik Islam.
Dalam perkembangan lain, Perusahaan Penyiaran Republik Islam Iran dilaporkan menjadi target serangan siber. Siaran reguler terhenti dan digantikan dengan tayangan berisi pesan dari Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran di pengasingan, yang menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melawan Republik Islam dan mengambil alih masa depan mereka sendiri.
Kesaksian Korban dan Perbedaan Data Korban Jiwa
Platform media jaringan Iran M124 melaporkan bahwa seorang warga Iran berhasil terhubung dengan dunia luar menggunakan layanan Starlink. Dalam kesaksiannya, dia menyatakan bahwa kondisi di lapangan jauh lebih buruk dibandingkan laporan resmi.
Menurutnya, menyebut angka korban hanya 12.000 orang adalah sesuatu yang “memalukan”. Dia mengklaim bahwa di Teheran saja, jumlah korban tewas telah melampaui 20.000 jiwa, dengan hampir setiap kota dan setiap keluarga kehilangan setidaknya satu anggota keluarga. Dia menyebut tragedi ini sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Namun, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat menyampaikan data berbeda. Berdasarkan verifikasi mereka, hingga kini tercatat 3.090 orang meninggal dunia, termasuk 2.885 pengunjuk rasa, serta lebih dari 22.000 orang ditangkap.
Dunia Menanti Titik Balik
Perbedaan data korban, meningkatnya aktivitas militer, serta konflik terbuka antara Washington dan Teheran menempatkan Iran pada salah satu titik paling genting dalam sejarah modernnya. Dunia internasional kini menanti satu pertanyaan besar: apakah krisis ini akan berujung pada perubahan rezim—atau justru meletus menjadi konflik bersenjata berskala besar di Timur Tengah?



