PERTUNJUKAN komedi tunggal Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono dinilai bukan sekadar hiburan pelepas penat. Sosiolog Pedesaan IPB University, Dr. Ivanovich Agusta, memandang karya ini sebagai medium kritik sosial yang tajam dalam membedah ketimpangan struktural dan karut-marut sistem hukum di Indonesia.
Dalam doktrin hukum pidana, mens rea merujuk pada unsur niat jahat yang menjadi dasar pemidanaan seseorang. Namun, Ivanovich melihat Pandji melakukan dekonstruksi terhadap istilah tersebut. Melalui judul ini, Pandji secara simbolik membalikkan logika hukum yang selama ini mapan.
"Pandji tidak sedang mengakui kesalahan pribadi, melainkan menuduh bahwa 'niat jahat' itu bersemayam dalam struktur kekuasaan. Panggung komedi berubah menjadi ruang persidangan publik, KETIKA elite politik dan pejabat negara diadili melalui satire dan tawa," jelas Ivanovich.
Baca juga : Pakar: Pelaporan Pandji Pragiwaksono Jadi Preseden Buruk bagi Ekspresi Seni
Ketimpangan Akses KeadilanKritik yang dilemparkan Pandji semakin menemukan relevansinya ketika berhadapan dengan respons institusional.
MI/HO--Sosiolog Pedesaan IPB University, Dr. Ivanovich AgustaIvanovich menyoroti tren ketika komedi kritis yang viral sering kali berujung pada pelaporan hukum menggunakan pasal-pasal karet, alih-alih memicu dialog kebijakan yang konstruktif.
Menurutnya, fenomena ini memperlihatkan siapa yang sebenarnya memegang kendali atas instrumen hukum.
Baca juga : Muannas Alaidid Sebut Materi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono Lampaui Batas Kebebasan Berekspresi
"Ini menunjukkan siapa yang memiliki akses untuk memobilisasi hukum. Komika yang mengkritik kekuasaan bisa dengan mudah dilaporkan, sementara elite dengan kebijakan kontroversial hampir tidak tersentuh mekanisme akuntabilitas serupa," tegasnya.
Jembatan Sosial bagi Kelompok MarjinalLebih dari sekadar tawa, Mens Rea dianggap menjalankan fungsi bridging social capital atau modal sosial yang menjembatani berbagai kelas.
Pandji dinilai berhasil meminjamkan kapital sosial dan popularitasnya untuk menyuarakan persoalan masyarakat yang selama ini terpinggirkan dari narasi utama.
"Komedi berfungsi sebagai bridging social capital yang menghubungkan pengalaman korban penggusuran, masyarakat adat, atau warga terdampak tambang dengan kesadaran politik kelas menengah urban," ujar Ivanovich.
Satire yang dibawakan mampu membongkar eufemisme kebijakan yang teknokratis dan rumit menjadi bahasa yang membumi.
"Kebijakan izin tambang yang rumit tiba-tiba menjadi bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Ini memicu kesadaran publik," tambahnya.
Batasan dan Peran AkademisiMeski efektif sebagai pemantik kesadaran, Ivanovich memberikan catatan kritis. Akses pertunjukan yang berbasis platform digital berlangganan membuat kritik ini masih terbatas pada kalangan tertentu.
Selain itu, ada risiko penyederhanaan isu ketika publik hanya fokus pada kritik moral terhadap aktor tertentu, namun melupakan persoalan sistemik seperti ekstraktivisme yang merusak lingkungan.
Ia menegaskan bahwa perubahan nyata tidak bisa dititipkan hanya pada pundak komika. Perlu ada sinergi dengan dunia pendidikan untuk mengawal kesadaran ini.
"Akademisi berperan menerjemahkan kritik budaya menjadi argumen ilmiah dan rekomendasi kebijakan. Komedi membuka kesadaran, tetapi perubahan membutuhkan riset, advokasi, dan langkah hukum yang terukur," pungkasnya. (Z-1)





