Bandung (ANTARA) - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menginstruksikan, Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) untuk mempercepat pencairan pinjaman modal bagi Koperasi Gunung Luhur Berkah (GLB) Subang, setelah membuktikan keberhasilan mencetak nilai ekspor kopi mencapai Rp77,6 miliar.
"Berkat banyak pihak Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah ini bisa menjadi eksportir dan naik kelas mendunia. Yang bangga bukan hanya Subang tapi ini menjadi kebanggaan nasional," ujar Ferry dalam keterangan di Bandung, Senin.
Ferry menekankan bahwa penguatan modal melalui LPDB sangat krusial agar koperasi tersebut dapat memperluas jangkauan pasar global dan memperkuat rantai produksi di dalam negeri.
Ia menginginkan gerakan koperasi kembali ke sektor produktif, mulai dari industri hingga distribusi, sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.
Baca juga: Perkuat ekspor kopi, KBRI Kairo resmikan pabrik kopi di Mesir
"Presiden Prabowo ingin supaya negara hadir lagi untuk mengatur, supaya sistem praktik arah perekonomian kita kembali ke konstitusi kita. Ini pesan yang ingin saya sampaikan sebagai bentuk penerjemahan," ucapnya.
Keberhasilan Koperasi GLB dalam menembus pasar internasional lewat ekspor kopi sebanyak lima kontainer dengan volume 96 ton ke Aljazair, dianggap sebagai implementasi nyata dari visi Presiden Prabowo dalam memperkuat ekonomi kerakyatan melalui sektor produksi dan industri.
Sementara itu, Ketua Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah, Miftahudin Shaf mengungkapkan, performa ekspor kopi dari kaki Gunung Luhur ini terus menunjukkan tren positif.
Dalam rentang tahun 2024 hingga 2025, koperasi telah membukukan volume ekspor sebesar 964,2 ton ke enam negara.
Baca juga: Paviliun Indonesia promosikan kopi dan teh di festival Marrakesh
"Nilai transaksinya mencapai lebih dari 4,6 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp77.657.200.000," kata Miftahudin.
Saat ini, koperasi tersebut telah menjadi tulang punggung ekonomi di Desa Cisalak dengan mengelola lahan seluas 1.589 hektare. Aktivitas produksi ini melibatkan 450 anggota dan menyerap sedikitnya 1.200 tenaga kerja lokal.
Ferry menambahkan, pemerintah berharap kesuksesan Koperasi GLB di Subang ini dapat menjadi role model bagi koperasi lain di Indonesia untuk berani masuk ke sektor industri dan bersaing di pasar mancanegara dengan dukungan pembiayaan negara yang tepat sasaran.
Baca juga: Mendag: Indonesia berpeluang jadi pusat kopi dunia
"Berkat banyak pihak Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah ini bisa menjadi eksportir dan naik kelas mendunia. Yang bangga bukan hanya Subang tapi ini menjadi kebanggaan nasional," ujar Ferry dalam keterangan di Bandung, Senin.
Ferry menekankan bahwa penguatan modal melalui LPDB sangat krusial agar koperasi tersebut dapat memperluas jangkauan pasar global dan memperkuat rantai produksi di dalam negeri.
Ia menginginkan gerakan koperasi kembali ke sektor produktif, mulai dari industri hingga distribusi, sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.
Baca juga: Perkuat ekspor kopi, KBRI Kairo resmikan pabrik kopi di Mesir
"Presiden Prabowo ingin supaya negara hadir lagi untuk mengatur, supaya sistem praktik arah perekonomian kita kembali ke konstitusi kita. Ini pesan yang ingin saya sampaikan sebagai bentuk penerjemahan," ucapnya.
Keberhasilan Koperasi GLB dalam menembus pasar internasional lewat ekspor kopi sebanyak lima kontainer dengan volume 96 ton ke Aljazair, dianggap sebagai implementasi nyata dari visi Presiden Prabowo dalam memperkuat ekonomi kerakyatan melalui sektor produksi dan industri.
Sementara itu, Ketua Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah, Miftahudin Shaf mengungkapkan, performa ekspor kopi dari kaki Gunung Luhur ini terus menunjukkan tren positif.
Dalam rentang tahun 2024 hingga 2025, koperasi telah membukukan volume ekspor sebesar 964,2 ton ke enam negara.
Baca juga: Paviliun Indonesia promosikan kopi dan teh di festival Marrakesh
"Nilai transaksinya mencapai lebih dari 4,6 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp77.657.200.000," kata Miftahudin.
Saat ini, koperasi tersebut telah menjadi tulang punggung ekonomi di Desa Cisalak dengan mengelola lahan seluas 1.589 hektare. Aktivitas produksi ini melibatkan 450 anggota dan menyerap sedikitnya 1.200 tenaga kerja lokal.
Ferry menambahkan, pemerintah berharap kesuksesan Koperasi GLB di Subang ini dapat menjadi role model bagi koperasi lain di Indonesia untuk berani masuk ke sektor industri dan bersaing di pasar mancanegara dengan dukungan pembiayaan negara yang tepat sasaran.
Baca juga: Mendag: Indonesia berpeluang jadi pusat kopi dunia




