Evakuasi Pesawat ATR 42-500: Berteman Badai di Puncak Bulusaraung

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Hujan dan medan berat menjadi kawan para relawan mencari korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Doa terbaik juga terus dipanjatkan. Semua demi membawa orang-orang tersayang pulang ke pelukan keluarganya masing-masing.

Hingga Selasa (20/1/2026) pukul 09.00 Wita, matahari tidak juga muncul di sekitar posko utama pencarian dan evakuasi (SAR) musibah pesawat ATR 42-500, di Desa Tompobulu, Pangkep, Sulawesi Selatan.

Hujan turun deras. Angin kencang datang. Kabut tebal menciutkan jarak pandang.

Akan tetapi, bukan berarti upaya penyelamatan yang tengah berlangsung lantas ikut tiarap. Di antara deru badai, ratusan tim SAR gabungan fokus menggelar pengarahan tentang rencana yang akan dilakukan ke depan.

Ismail (25), salah seorang relawan, ikut mendengarkan pengarahan itu dengan seksama. Karyawan swasta ini berdempet dengan ratusan orang lainnya dari berbagai unsur relawan, Basarnas, TNI, Polri, dan berbagai instansi. Berdempetan sangat efektif menghindari dingin yang menusuk tulang.

“Di atas (puncak Bulusaraung-lokasi diduga pesawat jatuh) badai lebih ekstrem lagi,” tutur Ismail.

Ismail telah bergabung dengan tim SAR gabungan sejak pesawat berpenumpang total 10 orang ini hilang kontak sejak Sabtu (17/1/2026). Memakai motor, ia datang dari Makassar ke kawasan Leang-Leang, lalu bergeser ke wilayah Tompobulu. Jaraknya puluhan kilometer.

Ismail memang rutin mengikuti operasi SAR. Pekan lalu, misalnya, ia ikut mencari korban tenggelam di wilayah Moncongloe, Maros.

Kali ini, ia mulai ikut ke puncak Gunung Bulusaraung pada hari pertama pencarian. Bersama puluhan orang lainnya, ia ikut membuka jalur baru menuju puncak gunung setinggi 1.353 meter dari permukaan laut itu. Setelah lebih dari lima jam, hanya lima orang yang berhasil tembus ke utara puncak.

Setelah sempat turun dan kembali ke Makassar untuk mengambil logistik, ia kini bersiap mendaki lagi. “Medannya sangat terjal, berbatu. Tapi demi kemanusiaan kita terus berusaha,” tambah anggota Celebes Navigator ini.

Baca JugaPesawat ATR 42-500 Menabrak Gunung Bulusaraung, Apa Saja Kemungkinan Penyebabnya?
Baca JugaMengapa Kecelakaan Pesawat Selalu Mendapat Perhatian Besar?
Baca JugaDeretan Kecelakaan Pesawat Lima Tahun Terakhir Sebelum Tragedi ATR 42-500

Indang (48), relawan di bawah koordinasi BPBD Makassar, juga datang jauh-jauh dari Makassar. Dia mengaku sering bolak-balik puncak Bulusaraung. Entah sekadar datang menghabiskan akhir pekan, tak jarang mengantar pengunjung. Dia percaya diri hapal jalur pendakian ini.

“Kalau sekarang mendakinya untuk kemanusiaan, bukan senang-senang. Semoga usaha kami membuahkan hasil,” katanya.

Niat baik para relawan itu seperti direstui semesta. Setelah pergi pagi pulang malam menyusuri medan terjal, upaya penyelamatan perlahan membuahkan hasil.

Doa terbaik

Rabu (19/1/2026) malam, misalnya, dari jalanan kampung yang gelap dan berbatu, Muhammad Arif (25) muncul. Dia tergopoh-gopoh menuju posko utama SAR. Tangannya memegang sekumpulan barang temuan.

Ada baju seragam yang terbakar, dompet, identitas, dan barang lainnya ia keluarkan. Itu adalah temuan dari pencarian di hari ketiga di sekitar puncak Bulusaraung.

Berangkat sejak pukul 07.30 Wita, Arif menuju lokasi yang ditentukan bersama anggota tim lainnya. Waktu untuk naik sekitar 4 jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan, hujan badai tidak berhenti. Kabut tebal menyelimuti gunung. Jarak pandang lagi-lagi sangat terbatas.

Dalam kondisi itu, ia menuruni lereng dengan sistem rappelling (turun menggunakan tali). Batu, akar pohon, dan semak diterabas. Jurang ratusan meter membentang di depan mata. Upaya itu menemukan berbagai barang temuan.

“Sepanjang jalan selalu berdoa semoga bisa menemukan hasil. Rekan lain di depan berteriak menemukan adanya korban,” kata personel Kantor SAR Makassar ini.

Saipul Malik (34) adalah orang yang menemukan korban kedua tersebut. Relawan ini termasuk tiga orang pertama menuruni lereng dengan tali. Ia memang memiliki keahlian dalam penyelamatan vertikal.

Mulai turun sejak pukul 12.00 Wita, dia butuh waktu 2 jam 10 menit untuk mencapai kedalaman 350 meter. Dua tim pencari terus ke bawah, ia berinisatif melipir ke samping. Di situ, ia menemukan korban dalam posisi tertelungkup.

“Saya panggil teman-teman bahwa ada temuan. Seoang perempuan berbaju hitam,” kata Saipul, anggota Asosiasi Rope Access Indonesia (ARAI) Sulsel ini. Ia melanjutkan, “Di situ posisi kabut, dan angin kencang. Saat kami berusaha membawa korban, hujan deras turun,”

Baca JugaMengenal CFIT, Situasi Pesawat ATR 42-500 yang Menabrak Gunung Bulusaraung
Baca JugaBulusaraung, Menara Karst dan Puncak yang Bertopi Kabut
Baca JugaSebelum Hilang Kontak, Pesawat IAT PK-THT dan Awak Dinyatakan Laik Terbang

Sejak tiba dan mulai ikut dalam pencarian, Saipul melanjutkan, selalu mengingat pesan yang diwanti-wanti para koordinator. Mereka datang dengan niat baik dan untuk melakukan misi kemanusiaan.

Ia tidak memiliki intensi untuk dikenal atau mencari pengakuan. Misinya hanya mencari, menemukan, dan menyelamatkan. Doa-doa terbaik ia terus panjatkan.

Peran warga

Akan tetapi, tidak hanya orang jauh, warga setempat juga ikut berkontribusi. Warga di Tompobulu, misalnya, membuka pintu rumahnya menjadi tempat transit maupun menginap.

Ada pula yang membantu petugas mengumpulkan barang diduga milik penumpang dan maskapai. Hal ini misalnya  dilakukan Muhlis (40) dan M Hasbi (31).

Saat pesawat menabrak gunung, sejumlah barang di dalam pesawat berhamburan. Sebagian jatuh di persawahan milik warga Tompobulu. Salah satunya kertas-kertas berisi data-data dan keterangan milik penumpang dan maskapai.

Lembaran ini awalnya dilihat Muhlis saat hendak pulang ke rumah, Sabtu (17/1/2026). Ketika itu, dia belum mengetahui kabar insiden ATR 42-500.

Setiba di kampung menjelang sore, baru dia mendapat kabar itu. Dia lalu menyampaikan kepada Hasbi tentang lembaran kertas yang dilihatnya di sawah dan melaporkan ke babinsa setempat.

”Kami lalu kumpulkan surat-surat itu. Kondisi sawah gelap gulita. Temuan ini ternyata jadi petunjuk penting fokus pencarian dilakukan di Bulusaraung,” kata dia.

Najamuddin (51), Kepala Dusun 1 Tompobulu, juga tidak ingin berpangku tangan. Sejumlah pencari madu yang terbiasa masuk hutan pun dikerahkan.

Najamudin ikut di belakang tim, sebagai penyisir. Dengan sepatu boot yang biasa dipakai ke sawah, sebilah parang, dan sebotol air, ia naik ke puncak.

Tidur di puncak

Perjalanan ditempuh hingga lima jam. Tim yang cukup besar banyak berhenti untuk istirahat dan melakukan pencarian di sekitar jalur. Warga biasanya hanya menempuh 45 menit hingga sampai puncak.

“Di atas ada warga yang teriak ada temukan sesuatu. Ternyata itu badan pesawat. Saya berdoa semoga ada yang ditemukan dan bisa selamat,” katanya.

Gunung Bulusaraung, tambah Najamuddin, dianggap memiliki sesuatu yang mistis bagi warga. Namun, ia berharap ada titik terang dari proses yang berlansung dan cauca buruk yang melanda.

Operasi SAR terhadap musibah pesawat ATR 42-500 terus berlangsung di Gunung Bulusaraung. Tim berupaya mengevakuasi, sembari mencari korban lain yang belum ditemukan. Beberapa tim juga menginap di puncak, bahkan di sebelah jenazah yang pertama kali ditemukan.

Kepala Seksi Operasi Kantor Basarnas Makassar Andi Sultan menyampaikan, evakuasi dua korban yang ditemukan terhambat cuaca buruk dan medan terjal. Berbagai upaya dilakukan selama tiga hari terakhir namun belum berhasil membawa dua orang korban turun dari puncak.

“Namun tim tidak berhenti berupaya. Ada puluhan orang yang menginap di puncak, bersiap saat kondisi baik bisa segera mengambil langkah. Untuk ke atas butuh waktu,” ucap Sultan.

Misi pencarian dan penyelamatan selalu tidak mengenal batas. Mereka berkumpul atas satu inisiatif besar, dan dalam bingkai misi kemanusiaan. Saatnya mengenyampingkan ego, langkah terburu-buru atau niatan publisitas semata. Medan terjal, badai, cuaca ekstrem pun diterjang. Semua demi korban, dan keluarga yang ditinggalkan.

Baca JugaBukan ATR 400, Pesawat Hilang Kontak di Sulsel adalah ATR 42-500
Baca JugaKronologi ATR 42-500 Tabrak Gunung Bulusaraung, Medan Ekstrem Hambat Evakuasi
Baca JugaMengenal ATR, Urat Nadi Penerbangan Regional Dunia 

 

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menanti Kabar Pramugari Esther Aprilita, Ibunda Berharap Mukjizat Tuhan
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KIM Indonesia Racik Strategi Reksa Dana 2026, Bidik Pertumbuhan AUM 30%
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Tak Ada Unduh Mantu di Nikahan El Rumi karena Faktor Ekonomi, Ahmad Dhani: Efisiensi
• 7 jam laluinsertlive.com
thumb
Percepat Pemulihan Pascabencana, MenPAN-RB: Perkuat Tata Kelola-Pelayanan
• 8 jam laludetik.com
thumb
Indonesia-Inggris Luncurkan Kemitraan Pertumbuhan Ekonomi untuk Genjot Perdagangan
• 3 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.