Prospek SBN 2026: Yield Terbatas, Ruang Cuan Kian Sempit

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - PT BNP Paribas Asset Management Indonesia memandang pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada 2026 akan menghadapi tantangan yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya, seiring meningkatnya tekanan global dan menyempitnya ruang penurunan imbal hasil.

Direktur Investasi BNP Paribas Asset Management Djumala Sutedja mengatakan, sejumlah faktor eksternal seperti kenaikan imbal hasil obligasi negara maju, menguatnya dominasi kebijakan fiskal, isu independensi bank sentral AS (The Fed), serta berakhirnya siklus penurunan suku bunga global menjadi sumber tekanan utama bagi pasar obligasi tahun depan.

“Di sisi domestik, risiko terhadap rupiah, arah kebijakan fiskal, serta selisih imbal hasil (spread) yang semakin mengecil turut menambah kompleksitas pasar SBN pada 2026,” ujar Djumala kepada Bisnis.com, dikutip Selasa (20/1/2026).

Meski demikian, dia menilai masih terdapat faktor penyeimbang, terutama dari sisi likuiditas perbankan yang relatif besar serta kerangka kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang dinilai tetap mendukung stabilitas pasar keuangan.

Dibandingkan dengan instrumen investasi lain seperti saham dan deposito, Djumala menilai SBN masih menawarkan profil risk-reward yang relatif menarik. Namun, daya tarik tersebut berpotensi menurun seiring valuasi obligasi yang sudah mahal dan prospek imbal hasil yang semakin terbatas.

“Secara relatif, SBN masih kompetitif, tetapi ruang upside-nya tidak sebesar beberapa tahun lalu,” katanya.

Baca Juga

  • Investor Lokal Diprediksi Kian Dominan di Pasar SBN Tahun Ini
  • SBN Masih Jadi Andalan Investasi Dana Pensiun di 2026
  • Analis Ramal Kupon SBN Ritel 2026 Maksimal 5,65%

Sejalan dengan outlook yang lebih menantang tersebut, BNP Paribas Asset Management akan bersikap lebih konservatif dalam menentukan alokasi portofolio pada 2026. Djumala mengatakan porsi penempatan dana pada SBN cenderung lebih hati-hati dibandingkan tahun lalu, dengan penekanan pada pengelolaan likuiditas dan fleksibilitas portofolio.

“Kami tidak agresif menambah eksposur ke SBN, mengingat level imbal hasil saat ini sudah tergolong mahal,” ujarnya.

Adapun, Djumala memperkirakan pertumbuhan dana kelolaan atau asset under managemen reksa dana pendapatan tetap (RDPT) pada 2026 akan lebih moderat. Menurutnya, kondisi pasar obligasi yang lebih menantang dan valuasi yang tinggi akan membatasi laju pertumbuhan RDPT.

Meski demikian, dia menilai instrumen tersebut masih memiliki daya tarik bagi investor yang mencari pendapatan tetap dan diversifikasi risiko.

“RDPT tetap relevan, terutama bagi investor yang menginginkan imbal hasil yang relatif lebih baik dibandingkan pasar uang, serta perlindungan ketika volatilitas pasar saham meningkat,” jelasnya.

Dalam strategi pengelolaan portofolio ke depan, BNP Paribas Asset Management akan menerapkan pendekatan yang lebih hati-hati dengan mempertahankan proporsi portofolio saat ini. Djumala mengatakan, pihaknya juga menghindari penambahan agresif pada SBN.

"Kami akan mengelola durasi secara konservatif dan memantau risiko makro seperti inflasi, nilai tukar, dan kebijakan BI," jelasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Trump Tiba-Tiba Lirik Wilayah Kutub Negara Ini, Mau Caplok Juga?
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Trump Telepon Presiden al-Sharaa, Bicara Hak dan Nasib Kelompok Kurdi di Suriah
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Sule Buka Suara Soal Penetapan Ahli Waris Anak Teddy Pardiyana
• 16 jam lalueranasional.com
thumb
Indonesia Diminta Perhatikan Risiko Terkait Mandat Pasukan Perdamaian ke Gaza
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pemerintah Provinsi Riau Serius Tuntaskan Izin Pertambangan Rakyat di Kuansing, 30 Blok Ditargetkan Segera Berizin
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.