Sandwich Effect LCGC: Terjepit LMPV di Atas, Diganggu EV Murah di Bawah

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Segmen Low Cost Green Car (LCGC) tampaknya sedang tidak baik-baik saja. Posisinya terjepit, harganya yang semakin tinggi membuatnya dekat dengan low MPV (LMPV). Di sisi lain, kehadiran mobil listrik murah turut mengganggu dengan biaya kepemilikan yang lebih terjangkau.

“LCGC terjepit dalam sandwich effect. Tertekan oleh low MPV dan LSUV di atasnya, diganggu low cost EV (electric vehicle) dan mobil bekas di bawahnya,” buka pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu kepada kumparan belum lama ini.

Tertekannya segmen LCGC terjadi berkat sejumlah faktor. Mulai dari minim inovasi produk yang membuat LCGC terasa monoton, hingga kenaikan harga yang membuat sejumlah model tembus Rp 200 juta.

Pelemahan langsung terasa. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales segmen LCGC sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai 122.686 unit, turun 30,6 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu yang meraup 176.766 unit.

Sementara itu, angka ritel (dari diler ke konsumen) defisit 27 persen, dari 178.726 unit pada 2024 menjadi 130.799 unit di 2025.

Menurut Yannes, penurunan di atas 30 persen pada LCGC menandai bahwa produk di segmen tersebut sulit untuk memenuhi standar konsumen muda modern yang peduli pada kualitas kendaraan, fitur, serta desain kendaraan.

“Kenaikan harga LCGC secara bertahap sudah mengaburkan identitas low cost-nya. EV murah seperti BYD Atto 1 dan Jaecoo J5 menggoda konsumen muda dengan desain dan teknologi futuristik,” ucapnya.

“Generasi muda juga makin memprioritaskan keselamatan seperti ABS dan airbag, kenyamanan keunggulan peredaman noise, vibration, dan harshness (NVH), serta kualitas ruang kabin yang lebih premium untuk cost yang setara,” sambung Yannes.

Sebagai contoh, battery electric vehicle (BEV) seperti BYD Atto 1 dipasarkan mulai Rp 199 juta on the road (OTR) Jakarta, dekat dengan Toyota Agya G CVT seharga Rp 197,7 juta OTR Jakarta, bahkan lebih rendah dari Brio Satya E CVT di angka Rp 206,7 juta OTR Jakarta.

Lebih dari itu, orientasi dari perspektif value for money yang diamini generasi muda menjadikan LCGC bukan pilihan utama. Dengan harga serupa LCGC baru, mereka bisa mendapatkan mobil bekas di kelas lebih tinggi. Bahkan memilih LMPV tipe terendah untuk mendapatkan utilitas lebih baik.

“LCGC bukan sekadar pelemahan permintaan, melainkan krisis diferensiasi yang mempercepat erosi pangsa pasar LCGC pada pasar yang penuh dengan disrupsi, kompleksitas, tidak stabil, dan semakin sulit diprediksi,” tutup Yannes.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemain Asing Melebihi Kuota: Pedro Matos Datang, Siapa yang Rela Dilepas Persebaya?
• 2 jam lalufajar.co.id
thumb
Dulu Ogah Mundur dan Ngaku Amanah, Kini Bupati Pati Sudewo Malah Terjaring OTT KPK
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Purbaya Bantah Nilai Tukar Rupiah Anjlok karena Thomas Djiwandono Diusulkan Jadi Deputi Gubernur BI
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Polda Metro Jaya Pastikan Pemeriksaan Richard Lee Digelar 4 Februari 2026
• 23 jam lalueranasional.com
thumb
Jalur Rel Stasiun Pekalongan-Sragi Sudah Bisa Dilalui Kereta Api
• 22 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.