EtIndonesia. Di tengah seruan rakyat Denmark dan Greenland untuk mempertahankan Kerajaan Bersatu yang tak terpisahkan, media Denmark menyoroti fakta bahwa mantan Menteri Luar Negeri Denmark telah lama menjadi penasihat perusahaan pertambangan Greenland yang terkait dengan perusahaan tambang milik Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Media ternama Denmark Berlingske pada 16 Januari melaporkan bahwa mantan Menlu Jeppe Kofod kini bekerja sebagai penasihat bagi Energy Transition Minerals (ETM), sebelumnya bernama Greenland Minerals Limited, yang terdaftar di Bursa Efek Australia.
Sebagian saham perusahaan tersebut dimiliki oleh perusahaan Tiongkok, dan ETM berencana menambang logam tanah jarang di Greenland—yang juga menjadi salah satu alasan utama Amerika Serikat ingin membeli Greenland.
Presiden Trump berulang kali menekankan pentingnya posisi strategis Greenland. Pada 14 Januari, ia menulis di Truth Social: “Jika kita tidak melakukannya, Rusia atau PKT yang akan melakukannya—dan itu sama sekali tidak boleh terjadi!”
Peter Mattis, mantan penasihat Gedung Putih dan pakar isu Tiongkok, mengatakan kepada Berlingske bahwa aktivitas lobi mantan Menlu Denmark tersebut adalah: “perwujudan yang sangat jelas dari masalah ini.”
Laporan menyebutkan bahwa 6,5% saham ETM dimiliki oleh Shenghe Resources Group dari Tiongkok, dan Kofod bersama mantan duta besar Denmark untuk Tiongkok Friis Arne Petersen sama-sama menjabat sebagai penasihat perusahaan tersebut.
Kofod menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Denmark pada 2019–2022. Sejak 2008, Denmark dan PKT telah menjalin kemitraan strategis. Hingga kini, situs resmi Kementerian Luar Negeri Denmark masih secara jelas menekankan kerja sama strategis dengan PKT.
Situs tersebut menyatakan: “Pada 2008, Denmark dan PKT menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif, yang meletakkan dasar kerja sama bilateral. Kemitraan ini menjadi titik awal kerja sama antarpemerintah dan berkembang menjadi landasan hubungan kedua negara.”
Wakil Kepala Staf Gedung Putih: Denmark Menikmati Perlindungan AS dengan Biaya AS, Itu Tidak AdilWakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller dalam wawancara dengan Fox News menyatakan bahwa perjanjian di bawah kerangka NATO, di mana Amerika Serikat membantu mempertahankan Greenland, adalah sebuah kesepakatan yang “tidak adil”.
“Greenland 25% lebih besar dari Alaska. Luas Greenland setara dengan seperempat wilayah daratan Amerika Serikat. Terus terang, wilayah, ekonomi, dan kekuatan militer Denmark semuanya sangat kecil. Mereka tidak mampu mempertahankan Greenland, dan juga tidak mampu mengendalikan wilayah tersebut,” ujarnya.
Menurutnya, ini adalah kesepakatan yang sangat buruk: “Denmark ingin kami menghabiskan ratusan miliar dolar untuk melindungi wilayah yang 25% lebih besar dari Alaska, dengan 100% biaya ditanggung Amerika Serikat, tetapi 100% wilayah itu milik Denmark. Ini adalah kesepakatan yang buruk, kesepakatan yang tidak adil—dan yang terpenting, ini tidak adil bagi para pembayar pajak Amerika yang selama beberapa generasi telah mendukung pertahanan seluruh Eropa.”
Ia menegaskan: “Dana Amerika, kekayaan Amerika, darah Amerika, dan kebijaksanaan Amerika-lah yang menjadi jaminan keamanan Eropa dan dunia bebas. Dan Donald Trump bersikeras bahwa Amerika Serikat harus dihormati!”
Pasukan Eropa Berkumpul di Greenland: Operasi “Ketahanan Arktik”Menurut laporan Radio Denmark (DR), dalam beberapa hari terakhir pesawat angkut militer Eropa bolak-balik terbang antara Denmark dan Greenland. Pada Jumat malam (16 Januari), sejumlah besar tentara tiba di Nuuk, ibu kota Greenland.
Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen sebelumnya menggambarkan operasi yang dinamai “Ketahanan Arktik” ini sebagai latihan dengan sifat kehadiran permanen.
Dalam konferensi pers pada Rabu (14 Januari), Poulsen mengatakan: “Memperkuat kehadiran kita sendiri serta kehadiran NATO di Arktik dan Atlantik Utara merupakan prioritas yang jelas bagi pemerintah Denmark dan seluruh Kerajaan Denmark. Dengan cara ini, kita dapat meningkatkan keamanan bersama di Arktik, yang juga menguntungkan seluruh aliansi.”
Pada Jumat sore waktu setempat, pasukan tempur dan sebagian pasukan pemburu (ranger) mendarat di Greenland. Pasukan pemburu ini telah menerima pelatihan khusus untuk bertempur di wilayah Arktik.
Dua jet tempur F-35 juga turut serta dalam operasi tersebut. Angkatan Bersenjata Denmark menyatakan dalam siaran pers pada Jumat malam bahwa pada hari yang sama mereka menggelar latihan bersama pesawat tanker angkut multiguna Prancis (MRTT) di wilayah tenggara Greenland.
Sebelumnya pada pekan ini, pasukan pendahuluan dari beberapa negara—termasuk Prancis, Jerman, Swedia, dan Norwegia—telah tiba di Greenland. Pasukan pemburu gunung dari Prancis dan Jerman dikenal mahir bertempur di daerah pegunungan bersuhu ekstrem dan sebelumnya telah berpartisipasi dalam latihan militer di Greenland.
Selain itu, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, Swedia, Norwegia, dan Estonia juga telah menyatakan akan berpartisipasi dalam operasi militer di Greenland. (Hui)





