Dedy Aryanto (38 tahun) tampak duduk di dalam gerobak gas miliknya, Selasa (20/1). Ia menunggu pelanggan yang menggunakan jasa isi ulang gas di Jalan Kusumanegara, Kota Yogyakarta.
Tempat usaha Dedy tampak sederhana. Terdapat sebuah meja dan beberapa tabung gas ukuran 12 kilogram dan 3 kilogram.
Untuk melindungi dari cuaca terik dan hujan, sebuah payung didirikan di atas meja.
Profesi ini telah digelutinya sejak 1997 bersama sang ayah. Ketika ayahnya berpulang pada 2015, Dedy memutuskan melanjutkan usaha tersebut.
Meski demikian, ia mengakui jumlah pengguna jasa isi ulang gas semakin hari semakin berkurang.
“(Alasan bertahan) karena ini pekerjaan warisan turun-temurun,” kata Dedy.
Kebanyakan pelanggan datang untuk mengisi ulang kaleng gas atau gas portable. Sementara itu, jasa isi ulang korek gas sudah nyaris tidak ada sejak 10 tahun belakangan.
“Ngisi (gas) korek sudah jarang. Mending beli (korek) baru,” katanya.
Seiring perkembangan zaman, harga korek di pasaran semakin murah. Banyak orang merasa lebih efektif membeli korek baru dibandingkan mengisi ulang.
Kini, ia hanya bertahan dengan jasa isi ulang kaleng gas.
Omzet MenurunDedy bercerita omzetnya menurun drastis sejak harga tabung gas 12 kilogram naik. Karena itu, ia kini juga menggunakan tabung gas 3 kilogram.
“Semenjak gas 12 kilogram mahal, omzet menurun,” katanya.
Dahulu, ia bisa mengisi hingga 80 kaleng per hari. Kini, paling banyak hanya sekitar 20 kaleng per hari. Tarif jasa sekali isi kaleng adalah Rp 9 ribu.
Ia menjelaskan satu tabung gas melon bisa digunakan untuk mengisi sembilan kaleng jika kondisinya penuh. Namun, jika terdapat kebocoran, tabung tersebut hanya mampu mengisi tiga hingga empat kaleng.
Menurutnya, tidak ada teknik khusus dalam mengisi kaleng gas. Proses tersebut sebenarnya bisa dilakukan secara mandiri di rumah.
“Cuma pertama bau. Kedua, kalau terlalu penuh, kaleng bisa rusak,” katanya.
Dedy terus berikhtiar menekuni usahanya. Setiap hari ia membuka lapak sejak pukul 10.00 hingga 19.00 WIB.
“Buka sampai jam 7 malam,” pungkasnya.

