EtIndonesia. Larut malam, di dalam sebuah vihara, hanya ada seorang manusia dan Buddha.
Sang Buddha duduk, manusia berdiri. Mereka sedang berdialog.
Manusia:
“Buddha yang tercerahkan, aku adalah seorang pria yang sudah menikah. Namun kini aku jatuh cinta dengan sangat dalam kepada wanita lain. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.”
Buddha:
“Bisakah kamu memastikan bahwa wanita yang kini kamu cintai itu adalah wanita terakhir yang akan hadir dalam hidupmu?”
Manusia:
“Bisa. Aku yakin.”
Buddha:
“Kalau begitu, ceraikan istrimu dan menikahlah dengannya.”
Manusia:
“Tapi istriku yang sekarang sangat lembut, baik hati, dan bijaksana. Bukankah tindakanku ini kejam dan tidak bermoral?”
Buddha:
“Yang kejam dan tidak bermoral adalah mempertahankan pernikahan tanpa cinta. Kamu telah jatuh cinta pada wanita lain dan tidak lagi mencintai istrimu yang sekarang. Dalam kondisi itu, keputusanmu justru benar.”
Manusia:
“Tapi istriku sangat mencintaiku. Benar-benar mencintaiku!”
Buddha:
“Kalau begitu, dia adalah orang yang bahagia.”
Manusia:
“Jika aku menceraikannya lalu menikah dengan wanita lain. Dia pasti akan sangat menderita. Bagaimana mungkin itu disebut bahagia?”
Buddha:
“Dalam pernikahan itu, dia masih memiliki cintanya kepadamu. Sementara kamu telah kehilangan cintamu padanya karena mencintai wanita lain. Yang dimiliki adalah kebahagiaan, yang kehilanganlah penderitaan. Jadi, yang menderita sebenarnya adalah kamu.”
Manusia:
“Tapi setelah aku menceraikannya dan menikahi wanita lain, bukankah dia yang kehilangan aku? Seharusnya dia yang menderita.”
Buddha:
“Kamu keliru. Kamu hanyalah wujud konkret dari cinta sejatinya dalam pernikahan. Ketika wujud konkret itu tidak ada lagi, cinta sejatinya akan berpindah dan berlanjut kepada wujud lain. Karena cinta sejatinya tidak pernah hilang. Maka dialah yang tetap bahagia, dan kamulah yang menderita.”
Manusia:
“Dia pernah berkata bahwa seumur hidup ini dia hanya akan mencintaiku, dan tidak akan mencintai orang lain.”
Buddha:
“Kata-kata seperti itu… pernahkah kamu sendiri mengucapkannya?”
Manusia:
“Aku… aku… aku…”
Buddha:
“Sekarang lihatlah tiga batang lilin di tempat dupa di hadapanmu. Menurutmu, lilin yang mana paling terang?”
Manusia:
“Aku benar-benar tidak tahu. Sepertinya semuanya sama terang.”
Buddha:
“Tiga batang lilin ini ibarat tiga orang wanita. Salah satunya adalah wanita yang sekarang kamu cintai. Di dunia ini, wanita jumlahnya tak terhitung. Bahkan di antara tiga batang lilin saja kamu tak bisa membedakan mana yang paling terang, tak bisa menunjuk mana yang kamu anggap ‘paling’. Lalu mengapa kamu begitu yakin bahwa wanita yang sekarang kamu cintai adalah satu-satunya dan yang terakhir dalam hidupmu?”
Manusia:
“Aku… aku… aku…”
Buddha:
“Sekarang ambillah satu batang lilin dan dekatkan ke depan matamu. Lihatlah dengan sungguh-sungguh, mana yang paling terang?”
Manusia:
“Tentu saja yang ada tepat di depan mataku ini yang paling terang.”
Buddha:
“Sekarang kembalikan lilin itu ke tempat semula. Coba lihat lagi, mana yang paling terang?”
Manusia:
“Aku tetap tidak bisa membedakannya.”
Buddha:
“Sebenarnya, lilin yang barusan kamu ambil itu melambangkan wanita yang kamu anggap sebagai ‘cinta terakhir’. Cinta lahir dari hati. Saat kamu merasa mencintainya, ketika kamu memusatkan hatimu padanya, kamu pun melihatnya sebagai yang paling terang. Namun ketika kamu melepaskannya dan meletakkannya kembali di antara yang lain, perasaan ‘paling terang’ itu pun hilang. Cinta yang kamu sebut sebagai satu-satunya dan terakhir itu, sesungguhnya hanyalah bayangan semu—seperti bunga di cermin, bulan di air—pada akhirnya kosong belaka.”
Manusia:
“Oh… aku mengerti sekarang. Jadi engkau sebenarnya tidak bermaksud menyuruhku menceraikan istriku. Engkau sedang menyadarkanku.”
Buddha:
“Yang memahami, biarlah memahami. Tak perlu diucapkan secara gamblang.”
Renungan Redaksi:
Tingkat tertinggi dalam membimbing seseorang adalah bukan dengan memberi jawaban langsung, melainkan dengan mengajak dia merenung melalui hal-hal di sekitarnya—hingga akhirnya, ia sendiri menemukan jawabannya. (jhn/yn)




