Baru-baru ini, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan menangkap sindikat internasional love scam atau penipuan berkedok cinta. Mereka menyasar warga Korea Selatan yang tinggal di luar negeri.
Sindikat ini bekerja secara terorganisasi dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Mereka mencari korban melalui media sosial, kemudian menjalin komunikasi menggunakan bantuan aplikasi Hello GPT agar percakapan terlihat menarik dan meyakinkan.
Selanjutnya, pelaku mengirimkan foto tidak senonoh untuk menarik korban agar melakukan panggilan video (video call). Saat panggilan video berlangsung, pelaku merekam aksi tersebut dan melakukan pemerasan (blackmail).
”Mereka mengancam akan menyebarkan rekaman jika korban tidak mengirimkan sejumlah uang,” ujar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Yuldi Yusman (Kompas.id, 20/1/2026).
Tim Investigasi Kompas pada 2022 pernah melacak sejumlah orang yang diduga love scam. Mereka adalah Faris Ahmad Faza, Muhammad Iqbal Pangestu, Leonardus Wahyu Dewala, dan Emirat Moniharapon.
Dari empat terduga penipu berkedok cinta ini, tiga di antaranya saat itu sudah dilaporkan ke kepolisian atas dugaan penipuan. Sebanyak 17 korban dari tiga terduga penipu mengalami kerugian lebih dari Rp 1 miliar. Sementara ada 74 perempuan mengaku mengalami eksploitasi seksual Dewala, baik secara verbal maupun fisik.
Berikut cara pelaku mendekati serta memperdaya korban:
Faris Ahmad Faza diduga menguras uang hingga Rp 350 juta dari sembilan korban di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Para korban mayoritas perempuan berusia 25-33 tahun yang dijadikan pasangan lebih dahulu lewat cinta palsu dalam kurun 12 bulan (2021-2022).
Sarung dan kebohongan merupakan dua hal yang membekas pada korban penipuan berkedok cinta oleh Faris Ahmad Faza (31). Faza kerap mengenakan sarung di tiap pertemuan.
Melalui aplikasi kencan, Faza menjaring korban. Ia pindah dari satu kota ke kota lain dan mengulang pola sama. Jejak Faza dari 2021 hingga awal 2022 terangkai dari kisah para korban.
Di tiap kota, ia menggunakan nama berbeda. Di awal 2021 di Kediri dan Nganjuk, Jawa Timur, ia menggunakan nama asli. Di lain tempat, namanya Reza. Pernah juga dia mengaku bernama Putra. Namun kisah bohongnya selalu sama. Faza selalu mengaku sebagai anak kiai pemilik pondok pesantren dan keponakan Mantan Gubernur Jateng.
Padahal, menurut penelusuran tim investigasi Kompas di kota kelahirannya Semarang, bapaknya disebut pensiunan Kantor Pos. Tetangga lamanya mengenalnya dengan nama Tegar, bukan Faza. Keluarga itu berpindah-pindah kontrakan dan terbelit hutang.
Saat beraksi, Iqbal bergerak cepat. Ia mendekati korban, mengeksploitasi, dan meninggalkannya begitu saja kurang dari dua pekan. Ini dilakukan pada WT (25), perempuan pekerja BUMN di Semarang, dan AM (26), pegawai swasta di Jakarta.
Iqbal memperdaya WT lewat aplikasi Line, sementara AM lewat Bigo. Iqbal mengenalkan diri sebagai Benandra, anak orang kaya dari salah satu bank BUMN.
”ATM dan emas saya juga dibawa,” kata WT yang kehilangan Rp 40 juta selama dua pekan bersama Iqbal.
Iqbal memanipulasi dada diri ketika mendekati korban. Kemudian, ia meminta korbannya membuka pinjaman daring atau pinjol.
Kompas mendatangi rumah Iqbal di Kabupaten Tangerang, Banten. Ayah Iqbal berinisial AJ (53) tak mampu menutupi rasa kesalnya terhadap perangai anak sulungnya itu.
Anak yang seharusnya menjadi kebanggaan malah mencoreng nama baik keluarga. AJ mengurung diri di gubuk sederhana di Kabupaten Tangerang, Banten. Bahkan, untuk shalat di masjid berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya, ia pun tak lakukan. Ia malu, tetangga mengecap Iqbal sebagai penipu.
Emirat Moniharapon dilaporkan atas dugaan penipuan oleh pengusaha perhiasan, RK (43). Ibu satu anak ini merasa dieksploitasi Emirat melalui hubungan palsu jarak jauh dengan kerugian materi Rp 180 juta.
Awalnya, RK tertarik kepada Emirat yang tampil sebagai sosok lelaki religius. Kebetulan RK sangat mendambakan tipe lelaki berkarakter seperti itu, hingga kemudian ia jatuh cinta kepada Emirat.
Saat hubungan cinta berjalan, Emirat meminta RK mengirim uang untuk berbagai keperluan. Lantaran semakin sering dan tidak masuk akal, RK curiga. Terlebih lagi Emirat menghilang tiba-tiba.
RK mencari tahu dan terhubung dengan tiga korban Emirat lain. ”Mereka mengalami persis seperti yang saya alami,” katanya, di Jakarta, Kamis (17/3/2022).
Dari cerita RK, tim investigasi kemudian melacak keberadaan Emirat di Makassar, Selasa (5/4). Kompas mendatangi rumahnya dan bertemu keluarganya. Setelah itu, Emirat mengajak untuk berbincang di sebuah tempat di pinggir Kota Makassar. Kepada Kompas, Emirat menyatakan siap mengikuti proses hukum jika ada pihak yang merasa dirugikan atas perbuatannya. Dia pun menyangkal semua tuduhan RK.
”Terima tidak terima, tetap harus jalani. Memang takdirnya seperti ini,” kata Emirat menanggapi tuduhan RK.
Dewala punya ciri khas dalam mendekati korban. Salah satu modusnya adalah dengan memuji alis korban. Karena modus ini, sampai ada sebuah akun Instagram yang berisi testimoni para korban. Akun itu dinamai @aliskamugemash.
Dewala diduga memanipulasi data diri untuk memikat pasangan. Dewala aktif di aplikasi kencan Bumble, Tinder, dan OKCupid sepanjang 2018-2020. Korban-korbannya menuding dia berbohong sebagai lulusan salah satu kampus di Swiss.
Tim Kompas melacak Dewala di tempat indekosnya di Jakarta Selatan, tetapi dia sudah tidak tinggal di sana. Tim lalu berhasil menemui Dewala di rumahnya di Magelang, Jateng, Selasa (22/3). Dia membantah semua tuduhan korban. Dewala mengakui tak pernah kuliah di Swiss dan drop out (DO) dari sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. ”Saya cerita ke orang, saya sebenarnya DO, mereka malah tak percaya,” katanya.
Serial Artikel
Penipu Berkedok Cinta Berkeliaran di Dunia Maya
Penipuan berkedok cinta di media sosial dan aplikasi kencan semakin meresahkan. Meski jadi bahan perbincangan warganet, kasus-kasus baru bermunculan dan kembali memakan korban.
Terkait tuduhan eksploitasi seksual korban dengan cara merekam dan meminta foto pribadi, Dewala menuturkan, hal itu dilakukan saat mereka berpacaran. Dengan posisi ini, menurut Dewala, mereka yang mengaku korban sebenarnya sudah memberi izin.
Pengelola akun Instagram @aliskamugemash menyebut, lebih dari 100 orang mengirim laporan terkait Dewala. Data pengelola akun, dari seluruh laporan, hanya 74 orang yang terverifikasi.




