FAJAR, KAIRO – Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, menekankan bahwa teknologi Kecerdasan Buatan (AI) tidak boleh berjalan tanpa kendali moral dan spiritual.
Dalam pidato strategisnya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Selasa (20/1/2026), ia memperkenalkan konsep Ekoteologi sebagai solusi atas krisis lingkungan dan tantangan teknologi modern yang tengah melanda dunia.
Kehadiran Menag di forum internasional yang diinisiasi Kementerian Wakaf Mesir ini menandai babak baru diplomasi religi Indonesia.
Program unggulan Kementerian Agama, yaitu Ekoteologi, kini resmi diperbincangkan di panggung Al-Azhar Al-Syarif, sebuah institusi pendidikan legendaris dengan usia lebih dari satu milenium.
Acara ini turut dihadiri oleh Menteri Wakaf Mesir, Prof. Dr. Usamah Al-Sayyid Al-Azhari, dan Rektor Universitas Al-Azhar, Dr. Salamah Daud. Delegasi Indonesia didampingi oleh Dr. H. Bunyamin M. Yapid selaku Tenaga Ahli Menag.
Membuka pidatonya dengan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto untuk Presiden Abdel Fattah El-Sisi, Nasaruddin Umar mengajak dunia melihat alam dari sudut pandang ketuhanan.
Ia menegaskan bahwa kerusakan lingkungan adalah bentuk kegagalan manusia dalam memahami hakikat ibadah.
“Islam mengajarkan bahwa dunia ini adalah titipan Tuhan, bukan aset milik pribadi manusia. Keselarasan alam merupakan prasyarat mutlak bagi peradaban yang makmur,” tutur Menag.
Menurutnya, segala bentuk profesi atau upaya pembangunan yang memicu ketidakseimbangan ekologis secara otomatis telah mencederai nilai-nilai spiritualitas dan tujuan dasar agama.
Terkait pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), Menag Nasaruddin memberikan peringatan keras agar manusia tidak menjadi “budak” algoritma.
Baginya, AI harus diletakkan sebagai alat bantu, bukan pengganti otoritas moral manusia.
“Teknologi AI semestinya berfungsi untuk mempertajam kepedulian kita terhadap kelestarian bumi, bukan justru mengikis tanggung jawab etis kita,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa bagi bangsa Indonesia, ijtihad dan nurani manusia tetap menjadi nakhoda utama dalam menghadapi transformasi zaman. (*)




