Dapur itu masih penuh uap yang membumbung dari kuali tanah liat di atas tungku kayu. Api dari kayu yang berderak pelan memanaskan pantat kuali yang sudah hitam karena jelaga. Hawanya cukup hangat untuk mengusir dingin subuh di dapur yang masih remang itu.
Mbok Darmi berdiri tenang, memegang sodet kayu yang ujungnya sudah menipis dimakan usia. Di depannya, genangan sambal tumpang yang kental meletup-letup pelan—blukutuk, blukutuk—melepaskan aroma semangit yang menusuk hidung.
Bau tempe yang hampir busuk, namun justru itulah "nyawa" yang membuat warga Kediri rela mengantre sejak matahari belum benar-benar bangun.
"Lho, genine ojo dipateni dhisik, Nduk. Ben bumbune tanak sampek metu minyake," (Lho, apinya jangan dimatikan dulu, Nak. Biar bumbunya matang sempurna sampai keluar minyaknya), kata Mbok Darmi sambil memperbaiki letak jariknya.
Anaknya yang sedang sibuk menata tumpukan daun pisang mendongak, "Duh Mak, opo ora kakehan semangit iki ambune? Mengko sing tuku malih wegah lho." (Duh Mak, apa tidak terlalu menyengat baunya? Nanti pembelinya malah tidak mau).
Mbok Darmi tertawa kecil, tangannya tetap telaten mengaduk kuah kecokelatan itu. "Halah, kowe ki piye to. Tumpang yo ngene iki, Nduk. Ambune sing 'nyegrak' iku malah sedep. Wong Kediri kuwi ora patek seneng manis-manis ning lambe, tapi golek sing 'mantep' lan nabet ning ati." (Halah, kamu ini bagaimana. Tumpang ya seperti ini, Nak. Baunya yang menyengat itu justru sedap. Orang Kediri itu tidak terlalu suka yang manis-manis di bibir, tapi cari yang mantap dan membekas di hati).
Aroma kencur yang segar tiba-tiba menyeruak, beradu dengan uap pedas cabai yang direbus lama. Di dapur ini, waktu seolah berhenti, membiarkan tempe-tempe tua itu dimasak pelan agar bisa menjadi menu sarapan yang menghangatkan perut seisi kota.
Kekuatan Pecel Tumpang di Tengah Kepungan ModernitasBeranjak ke depan warung, pemandangan kontras mulai terlihat. Di Kediri, tren kuliner boleh saja datang dan pergi. Kafe-kafe estetik dengan lampu neon dan menu kebarat-baratan tumbuh subur di sudut-sudut kota, tapi tetap saja, mereka tidak pernah benar-benar bisa menggeser takhta pecel tumpang.
Bagi warga Kediri, sarapan yang "sah" adalah saat jempol mereka menyentuh dinginnya daun pisang yang dipincuk, sambil menunggu giliran disiram kuah tumpang panas. Ini yang sering membuat orang luar kota heran sekaligus penasaran: Pecel dicampur Tumpang.
Bagi orang awam, membayangkan sayuran hijau dengan bumbu kacang yang manis-gurih, lalu ditumpangi lagi dengan kuah tempe fermentasi yang baunya tajam, mungkin terdengar "berani" atau bahkan aneh. Namun, di sinilah letak eksperimen rasanya.
Begitu suapan pertama masuk, rasa dari bumbu pecel akan beradu dengan rasa pedas-gurih yang smoky dari sambal tumpang. Teksturnya pun unik; ada lembutnya bumbu kacang, dan serat-serat tempe yang hancur.
Fenomena ini paling nyata terlihat di gang-gang kecil atau trotoar jalan saat matahari baru mau muncul. Anda akan melihat pemandangan yang jarang ditemukan di kota besar: mobil mewah parkir sejajar dengan motor tua, pemiliknya duduk berdampingan di atas kursi plastik yang sama, sama-sama menunduk khusyuk menghadapi sepincuk pecel tumpang.
Tidak ada sekat sosial di depan kuali tumpang. Rasa penasaran orang luar kota biasanya bermula dari bau semangit yang terbawa angin pagi, lalu berubah jadi ketagihan saat mereka merasakan sensasi umami (gurih) di tenggorokan. Sesuatu yang tidak akan ditemukan pada menu franchise mana pun.
Kejujuran Rasa di Atas Sepincuk TumpangNama "tumpang" menyimpan makna yang sangat lugas. Ia disebut tumpang karena cara penyajiannya yang disiramkan atau diletakkan "menumpang" di atas nasi dan sayuran.
Jika anak muda zaman sekarang mengenal istilah topping, orang Kediri sudah sejak lama mempraktikkan konsep itu lewat sambal tumpang. Namun, ada keberanian luar biasa di balik cara penyajian ini.
Biasanya, sesuatu yang dianggap "busuk" atau berbau tak sedap akan disembunyikan rapat-rapat dalam masakan. Namun, sambal tumpang justru diletakkan paling atas, di tempat yang paling terlihat dan tercium.
Di sinilah letak filosofi Kejujuran Rasa. Sambal tumpang mengajarkan bahwa rasa tidak boleh ditutupi. Ia hadir apa adanya; dengan bau yang menyengat dan tampilan yang jauh dari kata mewah.
Ia membuktikan bahwa tampilan boleh sederhana, bahkan masa lalu boleh dianggap kelam seperti tempe yang hampir busuk, namun di tangan yang penuh kreativitas dan kesabaran, sesuatu yang "hampir terbuang" itu bisa naik kelas.
Ia berdiri di atas, menjadi daya tarik utama yang justru mengangkat derajat nasi dan sayur di bawahnya. Ini adalah bentuk Kekayaan dalam Kesederhanaan. Bahan dasarnya cuma tempe—bahan pangan paling merakyat. Namun, melalui proses fermentasi yang tepat, ia menghasilkan cita rasa yang kuat.
Warga Kediri seolah ingin bicara lewat sepincuk tumpang: bahwa hidup itu tentang menghargai kesederhanaan tanpa harus kehilangan makna. Filosofi ini mencerminkan karakter orangnya; tidak perlu bersolek berlebihan atau berpura-pura, karena yang sederhana dan jujur itu pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri untuk dicintai.
Seminar Kehidupan di Sela Suapan Pecel TumpangMatahari sudah mulai tinggi, tapi antrean di depan kuali Mbok Darmi tidak kunjung surut. Di kursi plastik, orang-orang duduk tanpa peduli status. Di sini, pelajaran hidup tidak datang dari seminar motivator, tapi dari sepincuk nasi yang mengepul hangat.
Seorang pria paruh baya, pelanggan setia sejak puluhan tahun lalu, menyendok sisa tumpang terakhir di pincuk daun pisangnya dengan takzim. Sambil menunggu teh hangatnya datang, dia nyeletuk ke arah Mbok Darmi.
"Mak, tumpange panggah mantep. Rasane ora tau malih kawit aku isih bujang," (Mak, tumpangnya tetap mantap. Rasanya tidak pernah berubah sejak aku masih bujang), katanya sambil menyeka mulut.
Mbok Darmi menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari pincuk yang sedang ia tata, "Lha yo mesthi, Le. Nek rasane dijogo, sing golek yo panggah teko. Wong kuwi nek wis sepisan nemu sing jujur, ra bakal gelem pindah nggone." (Lha ya pasti, Nak. Kalau rasanya dijaga, yang cari ya pasti datang. Orang itu kalau sudah sekali menemukan yang jujur, tidak akan mau pindah ke tempat lain).
Kalimat sederhana itu seolah menjadi pengingat bagi siapa saja yang mendengarnya. Tradisi hanya akan bertahan jika kita punya nyali untuk mempertahankan kualitas dan rasa yang asli.
Di dunia yang serba instan, konsistensi Mbok Darmi menjaga "eksistensi tumpang" di dapurnya adalah sebuah bentuk kesetiaan yang langka.
Seorang pembeli muda di sebelahnya, yang tampak seperti mahasiswa, ikut menimpali sambil memandangi sisa tempe semangit di pincuknya, "Iyo yo, Mak. Tempe sing wis meh buwang ae nek sing ngolah pinter malah dadi rebutan. Berarti nasibe wong yo iso malih neng ndhuwur nek gelem sabar." (Iya ya, Mak. Tempe yang sudah hampir dibuang saja kalau yang mengolah pintar malah jadi rebutan. Berarti nasib orang ya bisa berubah ke atas kalau mau bersabar).
Mbok Darmi terkekeh. "Lha iyo. Mangkane ojo gampang nyerah. Belajar soko tumpang, opo sing ketoke gagal kuwi asline mung nunggu wektu lan bumbu sing pas ben iso dadi puncak e roso." (Lha iya. Makanya jangan mudah menyerah. Belajar dari tumpang, apa yang kelihatannya gagal itu aslinya cuma menunggu waktu dan bumbu yang pas biar bisa jadi puncak rasa).
Dialog "tempe busuk" itu menutup pagi di jantung kota Kediri. Sambal tumpang bukan sekadar urusan perut, tapi pengingat bahwa kegagalan bisa diperbaiki, bahkan bisa berada di puncak jika dikelola dengan ketulusan.
Selama bara di dapur masih menyala dan kejujuran rasa tetap dijaga, identitas kota ini tidak akan pernah padam oleh gempuran zaman. Ia akan terus menumpang di hati siapa saja yang pernah merasakannya.




