Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah menetapkan target investasi 2026 senilai Rp2.280 triliun atau melonjak 19,6% dari target 2025 yakni Rp1.905,6 triliun. Kenaikan target tersebut terjadi ketika kinerja investasi asing melambat.
Dalam catatan Bisnis, target investasi tahun ini merupakan yang pertama kali di atas Rp2.000 triliun. Peningkatannya yang hampir 20% ini sejalan dengan target investasi sampai dengan 2029 sebesar Rp13.302 triliun guna mendorong ekonomi tumbuh sampai 8%.
Apabila dilihat dari realisasi 2025, kontribusi investasi asing atau penanaman modal asing (PMA) terhadap total investasi senilai Rp1.931,2 triliun menjadi semakin kecil. Padahal, pada 2024 saja, PMA lebih tinggi dari penanaman modal dalam negeri (PMDN). Realisasinya juga tumbuh hanya 0,1% (YoY) pada 2025, atau tumbuh melambat dari tahun sebelumnya yakni 21% (YoY).
Pada Kamis (15/1/2026), Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani pun mengakui kontribusi PMA yang pada 2025 hanya 46,6% itu dipengaruhi faktor global. Adanya ketegangan geopolitik maupun geokonomi dan lain-lain turut memengaruhi realisasi PMA stagnan di angka Rp900 triliun saja di 2024 dan 2025.
"Target yang masuk baik dari dalam maupun luar negeri masih align dengan rencana-rencana kami. Kami akan terus lebih aktif juga untuk keluarnya, IIPC [Indonesia Investment Promotion Center] kami juga terus berkomunikasi dengan mereka [investor asing] untuk investasi ini bisa terus meningkat," ujarnya kepada wartawan, dikutip Selasa (20/1/2026).
Di sisi lain, Rosan mengeklaim saat ini investasi domestik atau PMDN melaju lebih cepat ketika ekonomi global melambat. Hal itu terlihat dari kontribusi PMDN yang membesar menjadi 53,4% atau senilai Rp1.030,3 triliun.
Baca Juga
- Investasi Kaltim Nyaris Rp27 Triliun di Kuartal III, Target 2025 Tinggal 12%
- Survei BI: Harga Jual Produsen Naik, Laju Investasi Melambat pada Kuartal I/2026
- Bukan BUMN Tekstil, Industri Usul Dana Rp101 Triliun jadi 'Pemanis' Investasi Swasta
Pada 2024, realisasi PMDN hanya Rp814 triliun atau 47,5% dari total realisasi investasi Rp1.714,2 triliun. "Kalau mungkin dulu [penanaman modal] dalam negerinya, kalau saya kasih perumpamaan, kalau dulu larinya 10 kilometer per jam, sekarang dalam negerinya tiba-tiba jadi 15 kilometer per jam. Karena ada faktor Danantara-nya," lanjut pria yang juga CEO Danantara itu.
Menurut Rosan, terdapat beberapa proyek investasi yang akan tumbuh lebih tinggi lagi di 2026 berkat Danantara. Khususnya, di sektor hilirisasi, kimia, kesehatan, dan lain-lain.
Sektor Pendorong InvestasiSalah satu sektor investasi yang diklaim bakal meningkat pada 2026 adalah perumahan, kawasan industri dan perkantoran. Pada 2025 lalu, investasinya merupakan terbesar kelima dengan nilai Rp140,4 triliun atau 7,3% dari total realisasi.
Menurut Rosan, akan terjadi peningkatan signifikan pada investasi sektor perumahan akibat didorong oleh program perumahan yang notabenenya menjadi prioritas Presiden Prabowo.
"Jika kami lihat ini akan mengalami peningkatan signifikan, termasuk juga kawasan industri. Jadi dua hal ini di tahun ini akan mengalami peningkatan yang cukup-cukup signifikan, mungkin bisa menggeser sektor-sektor lain," terangnya.
Selain itu, sektor perikanan dan perkebunan turut diperkirakan meningkat. Dua sektor investasi hilirisasi itu pada 2025 masing-masing menyumbang Rp144,5 triliun (perkebunan dan kehutanan) serta Rp6,4 triliun (perikanan dan kelautan).
Adapun secara total, realisasi investasi hilirisasi sepanjang tahun lalu mencapai Rp584,1 triliun. Terbesar masih berasal dari mineral Rp373,1 triliun, didominasi nikel senilai Rp185,2 triliun.
Energi Terbarukan hingga Pusat DataDi sisi lain, Rosan mengeklaim investor turut memiliki minat tinggi untuk menanamkan modalnya di Indonesia pada sektor energi terbarukan. Hal ini sejalan dengan rencana jangka panjang PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.
Pria yang pernah menjabat Wakil Menteri BUMN itu mengungkap, PLN berencana agar 76% pasokan energi di Indonesia berasal dari renewable energy. Masalahnya, kapasitas energi terbarukan yang sudah terpasang saat ini baru 15,1 gigawatt dari total potensi 3.700 gigawatt.
Potensi energi terbarukan Indonesia, lanjutnya, berada di proyek hydro maupun geothermal. Dia mengaku akan mempermudah perizinan investasi di sektor-sektor tersebut.
"Terutama kalau saya lihat justru dari Jepang yang banyak di geothermal," paparnya.
Tidak hanya itu, Rosan turut melihat potensi besar investasi di 2026 pada sektor pusat data atau data center. "Mereka kemarin banyak boleh dibilang di Johor, kemudian di Thailand juga sekarang mulai kami bicara. Kami melihat juga itu akan menjadi investasi yang signifikan di tahun ini," lanjut mantan Duta Besar AS itu.
Terakhir, pemerintah juga akan mendorong proyek pengolahan sampah menjadi tenaga listrik atau Waste to Energy. Rosan menyebut tendernya sudah mulai berjalan dan diklaim menarik minat tinggi investor.





