EtIndonesia. Suatu hari, ada seorang ayah yang memiliki empat orang putra. Dia ingin mengajarkan kepada putra-putranya agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan tentang sesuatu. Karena itu, dia memberi masing-masing putranya sebuah tugas: pergi ke tempat yang jauh untuk melihat sebatang pohon persik.
Anak sulung pergi pada musim dingin.
Anak kedua pergi pada musim semi.
Anak ketiga pergi pada musim panas.
Dan si bungsu pergi pada musim gugur.
Setelah semuanya pergi dan kembali ke rumah, sang ayah memanggil mereka berkumpul dan meminta masing-masing menceritakan apa yang mereka lihat.
Anak sulung berkata : “Pohon itu sangat jelek—kering, gundul, dan bengkok.”
Anak kedua segera membantah : “Tidak begitu. Pohon itu dipenuhi tunas-tunas hijau muda, tampak penuh harapan.”
Anak ketiga pun tidak setuju. Dia berkata: “Pohon itu sedang berbunga, harum semerbak, dan terlihat sangat indah. Keindahan seperti itu belum pernah kulihat sebelumnya.”
Si bungsu juga tidak sependapat dengan ketiga kakaknya.
Dia berkata : “Pohon itu sarat dengan buah-buahan yang bergelantungan. Penuh hasil, penuh kehidupan, dan penuh panen.”
Sang ayah lalu berkata kepada keempat putranya : “Kalian semua benar.”
“Kalian pergi melihat pohon itu pada empat musim yang berbeda, dan masing-masing hanya melihat satu musim dari kehidupan pohon itu.”
Dia kemudian menasihati mereka : “Jangan pernah menilai sebuah pohon—atau seorang manusia—hanya dari satu musim dalam hidupnya. Tentang siapa seseorang itu sebenarnya, tentang kebahagiaan, sukacita, dan cinta dalam hidupnya, semua itu hanya bisa dinilai ketika perjalanan hidupnya telah mencapai akhir.”
“Jika kamu menyerah saat berada di musim dingin, maka kamu akan kehilangan harapan musim semi, keindahan musim panas, dan panen musim gugur.”
“Jangan biarkan penderitaan satu musim menghancurkan sukacita di musim-musim lainnya.”
“Jangan mengambil kesimpulan tentang hidup hanya karena satu musim yang menyakitkan. Bertahanlah dengan kesabaran melewati masa sulit itu—hari-hari indah akan datang tidak lama lagi.”
Renungan Redaksi
Perubahan empat musim mencerminkan kehidupan manusia yang memiliki banyak sisi dan lapisan. Dilihat dari sudut pandang yang berbeda, kita akan menemukan pemandangan yang berbeda pula.
Ketika pendapat orang lain tidak sama dengan pendapat kita, cobalah untuk mendengarkan lebih dulu. Bisa jadi, dari sudut pandang merekalah kita menemukan sisi indah lain dari manusia, peristiwa, dan kehidupan itu sendiri.(jhn/yn)



