REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Kematian bukan sekadar peristiwa yang mengakhiri kehidupan, melainkan sebuah kenyataan dahsyat yang seharusnya terus diingat oleh setiap manusia. Sejumlah sahabat Nabi Muhammad SAW dan ulama salaf menggambarkan betapa mengerikannya kematian sebagai pengingat agar manusia tidak terbuai oleh kesenangan dunia.
Rasulullah SAW sendiri berulang kali mengingatkan umatnya untuk memperbanyak mengingat kematian, karena ia mampu melenyapkan kelezatan dunia dan menyadarkan manusia akan kehidupan akhirat.
Baca Juga
Alissa Wahid Minta Petugas Haji Layani Jamaah Lansia Sebaik-baiknya
Kebenaran di Balik Viralnya Tygo, Film Ma Dong-seok yang Disebut Syuting di Bandung
Tiga Sekolah Rakyat 3T Beroperasi di Kepri
Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin menuliskan bahwa sahabat Rasulullah SAW bernama Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu anhu meriwayatkan, "Nabi Muhammad SAW melihat orang-orang sedang tertawa, beliau lantas bersabda: Seandainya kamu banyak mengingat sesuatu yang melenyapkan kelezatan-kelezatan, niscaya kamu akan melalaikan diri dari apa yang aku lihat." "Kemudian Rasulullah SAW bersabda: Banyak-banyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan kelezatan-kelezatan, yakni mati. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya kubur itu merupakan salah satu dari taman-taman surga atau salah satu dari jurang-jurang neraka." .rec-desc {padding: 7px !important;} Umar bin Khattab berkata kepada Ka'ab, "Wahai Ka'ab, ceritakanlah kepada kami tentang mati.” Ka'ab berkata, “Sesungguhnya mati itu ibarat pohon duri yang dimasukkan ke dalam perut manusia, lantas setiap duri itu mengait dengan urat, kemudian ditarik oleh seseorang yang sangat kuat, kemudian terputuslah urat yang bisa putus dan tersisalah apa yang tidak bisa putus." Disebutkan dari Sufyan Ats-Tsauri bahwasanya jika ia sedang mengingat mati, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa selama berhari-hari, dan apabila ditanya tentang sesuatu, ia menjawab, “Aku tidak tahu, aku tidak tahu.” Al-Hakim berkata, “Tiga hal yang sama sekali tidak boleh dilupakan oleh orang yang berakal, yaitu ketidakkekalan dunia dengan segala pergolakannya, mati, dan bencana yang ia tidak akan selalu aman daripadanya.” Hatim Al-Asham berkata, “Ada empat hal yang tidak diketahui kadar (nilainya) kecuali oleh empat orang, yaitu nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang tua, nilai keselamatan tidak diketahui kecuali oleh orang yang sedang ditimpa musibah, nilai kesehatan tidak diketahui kecuali oleh orang yang sakit, dan nilai hidup tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah mati.”