Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) periode 2018-2024 Nicke Widyawati mengaku tidak pernah mengunjungi Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) PT Orbit Terminal Merak (OTM), milik anak Saudagar Minyak Mohammad Riza Chalid yakni Muhammad Kerry Adrianto Riza.
Nicke mengatakan bahwa dirinya selama menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina, tidak mengetahui keberadaan TBBM OTM. Dia hanya mengaku mengetahui adanya kontrak antara Pertamina dengan OTM untuk penyewaan terminal BBM.
"Saya belum pernah ke sana (OTM)," ungkap Nicke saat menjadi saksi pada sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), Selasa (20/01/2026).
Dalam sidang kasus dugaan korupsi kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina (Persero), beserta Subholding dan KKKS periode 2018-2023 tersebut, Nicke mengatakan dirinya juga tidak pernah menerima laporan kejanggalan dari TBBM OTM.
Nicke menjelaskan bahwa skema kerja sama antara OTM dan Pertamina tidak tertuang sebagai investasi, lantaran skema yang digunakan tersebut masuk ke sistem operasional perusahaan. Sehingga, kerja sama antara Pertamina dengan OTM tidak tercantum dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
"Kalau penyewaan masuk ke operasional. Tidak ada (dalam RJPP dan RKAP), bukan investasi Pertamina," imbuhnya.
Dia juga mengaku tidak ingat detail perihal OTM lantaran terdapat ratusan terminal BBM milik Pertamina tersebar di Indonesia. Dirinya juga tidak bisa membandingkan kapasitas TBBM OTM dengan TBBM lainnya.
"Saya kurang mengetahui untuk detailnya, hanya mengetahui total jumlah 113 terminal Pertamina tersebar di Indonesia," tandasnya.
Peran Anak Riza Chalid
Surat dakwaan yang dibacakan jaksa pada sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (13/10/2025), mengungkapkan terdakwa dalam sidang ini adalah Agus Purwono selaku eks VP Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional, Yoki Firnandi selaku eks Direktur Utama PT Pertamina International Shipping, Kerry selaku beneficial owner PT Navigator Khatulistiwa, Dimas Werhaspati selaku Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim, serta Gading Ramadhan Joedo selaku Komisaris PT Jenggala Maritim dan Direktur Utama PT Orbit Terminal Merak.
Kerry terlibat dalam pengaturan pengadaan sewa tiga kapal milik PT Jenggala Maritim Nusantara (PT JMN). Jaksa mengatakan terdapat penambahan kalimat kebutuhan 'pengangkutan domestik' dengan tujuan hanya kapal Suezmax milik PT JMN yang dapat disewa PT Pertamina International Shipping (PT PIS).
"Terdakwa Agus Purwono dan Sani Dinar Saifuddin atas permintaan Dimas Werhaspati dan Muhammad Kerry Adrianto Riza melakukan pengaturan sewa kapal Suezmax milik PT JMN dengan cara menambahkan kalimat kebutuhan 'pengangkutan domestik' pada surat jawaban PT KPI kepada PT PIS dengan maksud agar dalam proses pengadaan tersebut kapal asing tidak dapat mengikuti tender, yang tujuannya untuk memastikan hanya kapal Suezmax milik PT JMN yang dapat disewa PT PIS," ujar jaksa dalam sidang, dikutip Selasa (14/10/2025).
Pengadaan sewa tiga kapal ini telah memperkaya Kerry dan Dimas melalui PT JMN sebesar US$ 9,860,514.31 dan Rp 1.073.619.047.
Peran Kerry sebagai salah satu terdakwa dalam kegiatan sewa terminal bahan bakar minyak (TBBM) Merak. Dia bersama sang ayah, Riza Chalid dan Gading Ramadhan Joedo diduga melakukan tindakan yang merugikan negara, termasuk menyampaikan penawaran kerjasama penyewaan terminal BBM Merak kepada PT Pertamina.
"Terdakwa Muhammad Kerry Adrianto Riza dan Mohammad Riza Chalid melalui Gading Ramadhan Joedo selaku Direktur PT Tangki Merak menyampaikan penawaran kerjasama penyewaan terminal BBM merak kepada Hanung Budya Yuktyanta, selaku Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Persero, meskipun mengetahui terminal BBM merak tersebut bukan milik PT Tangki Merak, tetapi terminal BBM merak tersebut milik PT Oiltanking Merak," ujar Jaksa.
Selain itu, Kerry memberikan persetujuan agar Gading menandatangani nota kesepakatan kerjasama jasa penerimaan penyimpanan dan penyerahan BBM dengan PT Pertamina meskipun terminal belum menjadi milik PT Tangki Merak.
Lebih lanjut, Kerry diduga menggunakan uang pembayaran sewa terminal BBM Merak sebesar Rp 176,3 miliar untuk kegiatan pribadi, seperti bermain golf di Thailand bersama beberapa pejabat PT Pertamina, termasuk Agus Purwono dan Sani Dinar Saifuddin.
"Terdakwa Muhammad Kerry Adrianto Riza dan Gading Ramadhan Joedo menggunakan uang sebesar Rp176.390.287.697,24 yang berasal dari pembayaran sewa terminal BBM Merak yang antara lain digunakan untuk kegiatan golf di Thailand yang diikuti antara lain oleh Gading Ramadhan Joedo, Dimas Werhaspati bersama pihak PT Pertamina Persero antara lain yang Yoki Firnandi, Sani Dinar Saifuddin, Arief Sukmara dan Agus Purwono," imbuhnya.
Perbuatan Kerry dan terdakwa lainnya dianggap memperkaya diri sendiri dan korporasi melalui PT Jenggala Maritim Nusantara dan PT Orbit Terminal Merak, yang menyebabkan kerugian negara.
(wia)


