BMKG Ungkap Temuan Awan Cumulonimbus di Maros Saat Pesawat ATR 42-500 Menuju Makassar

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan adanya awan tebal atau Cumulonimbus (Cb) di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, saat pesawat ATR 42-500 pada 17 Januari 2026 lalu menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Kondisi cuaca itu merupakan hasil analisis berdasarkan laporan meteorologi bandara dan citra satelit.

"Cuaca diperkirakan relatif stabil, namun masih terdapat awan Cb di wilayah pendekatan saat pendaratan yang perlu diwaspadai," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam rapat bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga
  • Tim SAR Kembali Temukan Satu Korban Pesawat ATR 42-500
  • Keluarga Yoga Naufal Ungkap Momen dan Pesan Terakhir Korban Sebelum Pesawat ATR 42-500 Kecelakaan
  • TNI Temukan Dua Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500

BMKG menegaskan informasi tersebut disampaikan sebagai bagian dari pemaparan kondisi meteorologis saat kejadian, tanpa mengaitkan pada penyebab teknis insiden, serta untuk memberikan gambaran objektif terkait dinamika cuaca di sekitar wilayah Maros pada waktu tersebut. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pun telah menyatakan bahwa penyebab insiden pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, diinvestigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Faisal lalu menjelaskan berdasarkan laporan Meteorologi Aerodrome Report (METAR) Bandara Sultan Hasanuddin pada pukul 12.30 WIB, cuaca di area bandara terpantau relatif stabil dengan jarak pandang mencapai 9 kilometer, angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan 13 knot, serta suhu dan tekanan udara dalam kondisi normal. Namun di wilayah sekitar bandara, khususnya Maros, terdapat awan Cumulonimbus atau awan tebal yang perlu diwaspadai.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Faisal lalu menyampaikan bahwa keberadaan awan tebal tersebut berpotensi memengaruhi fase pendekatan pesawat saat akan mendarat, meskipun kondisi cuaca di area bandara tidak menunjukkan gangguan signifikan. Pemantauan citra Satelit Himawari, kata dia, juga menunjukkan keberadaan awan tinggi dan awan tebal di sekitar wilayah Maros dengan suhu puncak awan yang mengindikasikan karakter awan konvektif. Kondisi ini sesuai dengan laporan cuaca yang mencatat adanya awan tebal di wilayah pendekatan bandara.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : Antara
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rupiah Jeblok Nyaris Sentuh Rp17.000, Analis Jabarkan Faktor Penekannya
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Desainer Italia Ternama, Valentino Garavani Meninggal Dunia pada Usia 93 Tahun
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Teddy Pardiana Ajukan Permohonan Penetapan Ahli Waris Anak Lina Jubaedah
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Terpopuler: Alasan Wardatina Mawa Ogah Rujuk hingga Fuji Terima Penghargaan di China
• 15 jam laluinsertlive.com
thumb
Ignasius Jonan hingga Ahok Batal Hadiri Sidang Anak Riza Chalid, Ini Alasannya
• 8 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.