Saat IHSG Cetak Rekor Baru Sepanjang Masa, Rupiah Justru Terpuruk ke Level Terlemah dalam Sejarah

tvonenews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) pada perdagangan Selasa (20/1/2026), dengan menembus level 9.134,70.

Penguatan indeks terutama ditopang oleh kenaikan saham-saham berbasis komoditas emas.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, IHSG ditutup naik tipis 0,01 persen atau bertambah 0,82 poin ke posisi 9.134,70.

Pada awal perdagangan, indeks dibuka di level 9.156,18 dan sempat menyentuh titik tertinggi harian di 9.174,47.

Pergerakan saham berlangsung variatif, dengan 336 saham menguat, 323 saham melemah, dan 143 saham bergerak stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp16.590 triliun.

Penguatan IHSG salah satunya didorong lonjakan sektor basic material yang naik 2,49 persen ke level 2.389,38, seiring menguatnya saham-saham komoditas emas.

Namun sayangnya, di tengah capaian positif pasar saham, nilai tukar rupiah justru melemah.

Pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026), rupiah terdepresiasi 1,5 poin atau sekitar 0,01 persen ke posisi Rp16.956 per dolar AS.

Capaian tersebut menjadi pelemahan terdalam rupiah sejak krisis 1998, ketika mata uang domestik sempat terpuruk ke level Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998.

Menanggapi kondisi itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut secara fundamental nilai tukar seharusnya bergerak sejalan dengan arus masuk modal asing, terutama ketika indikator ekonomi domestik menunjukkan perbaikan.

“Tapi pada intinya ekonomi fundamental baik, Rupiah harusnya menjadi menguat. Pelan-pelan akan menguat. Enggak ada alasan Rupiah melemah ketika modal masuk ke sini,” tuturnya.

Pencapaian IHSG yang kembali menyentuh rekor tertinggi mencerminkan optimisme investor terhadap prospek perekonomian nasional.

Meski demikian, pelemahan rupiah masih menjadi tantangan bagi otoritas moneter yang memiliki kewenangan penuh dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Di sisi lain, Purbaya menegaskan bahwa depresiasi rupiah sejauh ini belum memberikan tekanan berarti terhadap subsidi energi

 Menurutnya, pergerakan harga minyak global justru menjadi faktor penyeimbang dalam perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

“Dolarnya naik berapa sih, enggak jauh beda dengan asumsi APBN kita dan harga minyaknya kan di bawah asumsi APBN. Jadi subsidinya ya gampangnya relatif terkendali selama ini,” ucapnya. (rpi)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Profil Thomas Djiwandono, Keponakan Prabowo yang Diusulkan Jadi Deputi Gubernur BI
• 6 jam lalumerahputih.com
thumb
PPPK Bakal Terima Gaji dari Anggaran BGN, Total Rp7,1 Triliun
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Bupati Sudewo Diduga Patok Harga di Kasus Jual Beli Jabatan Desa
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
Dilaporkan Hilang, Seorang Warga Karawang Ditemukan Tewas di Tengah Banjir
• 16 jam lalusuara.com
thumb
Asing Net Sell Rp 703 M saat IHSG Tembus 9.100, Ramai Lepas BBCA dan GOTO
• 15 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.