Stress Test Perbankan Disorot saat Rupiah Melorot

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Rupiah nyaris menyentuh Rp17 ribu per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Republik Indonesia di pasar spot ditutup melemah tipis 1 poin di level Rp16.956, pada penutupan perdagangan Selasa sore, 20 Januari 2026.

Sementara berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs Rupiah terhadap dolar AS ditutup di level Rp16.981 per Selasa hari ini.

Baca Juga :
Purbaya Bantah Pencalonan Thomas Djiwandono untuk Intervensi Kebijakan dan Independensi BI
Batal Hadiri RDG BI, Purbaya Ogah Dituding Intervensi Kebijakan Bank Sentral

Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perbankan meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan uji ketahanan atau stress test secara lebih ketat guna mengukur dampak pelemahan nilai tukar Rupiah yang kembali mendekati level psikologis Rp17 ribu per dolar AS terhadap stabilitas bank.

Apa itu stress test? Ini adalah teknik untuk mengukur ketahanan modal dan kecukupan likuiditas perbankan dalam menghadapi perubahan dan shock pada kondisi makro ekonomi.

Teknik tersebut digunakan untuk menilai dampak variabel trigger terhadap kondisi industri/perusahaan, serta seberapa kuat industri/perusahaan menerima gejolak kondisi eksternal.

Trigger umum yang digunakan adalah laju inflasi dan nilai kurs. Stress test bisa menggambarkan kemampuan bank untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dalam kondisi krisis, yang didasarkan pada berbagai skenario.

Penetapan cakupan dan frekuensi stress test harus sesuai dengan skala dan kompleksitas usaha, serta eksposur risiko likuiditas bank.

Dengan menggunakan skenario stress secara spesifik pada bank maupun stress pada pasar yang sudah mempertimbangkan berbagai faktor, maka pihak bank sentral dapat mengetahui potensi penyebab kondisi krisis likuiditas, durasi peristiwa dan kedalaman (severity) permasalahan yang ditimbulkan oleh bank yang bersangkutan.

Dalam menetapkan skenario untuk stress test, bank menggunakan skenario yang bersifat historis dan/atau hipotesis dengan mempertimbangkan aktivitas bisnis dan kerentanan bank.

Karena krisis yang terjadi atas suatu instrumen keuangan, atau produk tertentu yang dapat berdampak pada bank yang memiliki eksposur pada suatu instrumen keuangan atau produk tertentu, misalnya produk terstruktur (structured product).

Baca Juga :
Sempat Anjlok 30 Poin, Rupiah Kembali Ditutup Melemah Nyaris Rp 17.000 Per Dolar AS
Sudah 'Ngobrol' Bahas Ekonomi, Purbaya Ungkap Peluang Juda Agung Jadi Wamenkeu
Jadi Calon Deputi Gubernur BI, Keponakan Prabowo Mulai Uji Kelayakan Pekan Ini

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
12 Drama Korea tentang Kesehatan Mental Terbaik hingga Terbaru 2026
• 8 jam lalutheasianparent.com
thumb
Inovasi Produk Pertadex dari Kilang Pertamina Raih Penghargaan dalam IPITEX 2026 di Thailand
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Puluhan Warga Pamekasan Mengungsi di Tenda BPBD Imbas Rumah Rusak Akibat Tanah Bergerak yang Semakin Parah
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Profil Sota Fukushi Pemain Can This Love be Translated? yang Tuai Kontroversi
• 8 jam laluinsertlive.com
thumb
Kemlu Duga WNI di Kamboja Minta Pulang Bertambah Imbas Bisnis Scam Diberantas
• 15 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.