REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia internet dan kecerdasan buatan terus berkembang dengan cepat. Inovasi hadir hampir setiap saat dari berbagai arah. Di tengah laju tersebut, muncul pertanyaan mendasar, apakah peran manusia suatu hari akan sepenuhnya tergantikan oleh teknologi?
Pegiat digital sekaligus pendiri Bubu.com, Shinta Witoyo Dhanuwardono, menilai kekhawatiran itu berlebihan. Dalam perbincangan dengan Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin, ia menegaskan internet dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sejak awal tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia. Teknologi, menurut dia, harus ditempatkan sebagai alat yang dikendalikan manusia untuk memperkuat cara bekerja dan berpikir.
- Investasi di Batam Capaian Rp 69 Triliun, Lampaui Target 15 Persen
- Rupiah Nyaris Rp 17.000, Pengamat Nilai Bukan Karena Isu Thomas Djiwandono
- IHSG Stabil, Analis Nilai Investor Sudah Antisipasi Arah Kebijakan BI
Shinta memandang perubahan besar di era digital kerap memicu ketakutan kehilangan pekerjaan. Padahal, tantangan tersebut lebih tepat dibaca sebagai peluang lahirnya peran, keterampilan, dan model kerja baru, selama manusia tetap memegang kendali atas teknologi.
“Sampai detik ini saya merasa internet tetap masih tool, AI tetap masih tool. Kita yang harus mengoperasikan, kita yang harus mengendalikan, dan kita harus take advantage of that,” ujar tokoh yang juga pendiri Nusantara Ventures ini.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Pandangan itu lahir dari pengalaman panjangnya berkecimpung di dunia digital sejak 1996. Ketertarikannya bermula ketika menempuh studi magister bisnis di Amerika Serikat dan bekerja di laboratorium komputer Portland State University. Pada masa awal World Wide Web, ia melihat internet sebagai medium belajar mandiri yang mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan.
Keyakinan tersebut mendorong Shinta mendirikan Bubu.com sepulang ke Indonesia. Meski berlatar belakang arsitektur dan tanpa pendidikan formal teknologi informasi, ia mempelajari pembuatan situs web secara otodidak. Internet, baginya, menjadi pemantik perubahan cara kerja sekaligus fondasi lahirnya ekosistem digital nasional.
“Waktu itu saya melihat dengan mata sendiri internet itu dahsyat. Saya jatuh cinta karena bisa belajar sendiri bagaimana membuat website melalui internet, dan itu menurut saya sudah game changer,” kata Shinta saat dijumpai di kantornya di kawasan Pondok Indah, Jakarta.
Perjalanan membangun bisnis digital tidak selalu mulus. Pada periode 2001–2002, ia menutup lebih dari lima perusahaan rintisan akibat pecahnya gelembung dot-com. Ketiadaan modal ventura memaksa seluruh usaha dijalankan dengan dana sendiri. Fase tersebut menjadi ujian terberat sekaligus pembelajaran penting tentang ketahanan dan keberanian mengambil risiko.
Kepercayaan pada internet membuat Shinta memilih bertahan. Ia memandang kegagalan sebagai bagian tak terpisahkan dari proses wirausaha. Prinsip itu pula yang membentuk cara Bubu beradaptasi menghadapi perubahan zaman, termasuk pergeseran dari pengembang web menjadi Cultural Intelligence Agency setelah tiga dekade beroperasi.
Memasuki era AI, Bubu mengembangkan divisi KisahVisual.ai untuk membantu pelaku usaha kecil dan menengah membangun cerita merek dengan biaya lebih efisien. Model ini memanfaatkan AI untuk produksi konten, tanpa menghilangkan peran kreatif manusia dalam merancang konsep dan makna.
“Menurut saya AI itu added value. Bukan berarti semua digantikan oleh AI, tapi bagaimana kita menggunakan ini untuk membuat pekerjaan kita lebih efektif,” ujar Shinta.
Ia juga menilai kemunculan AI tidak otomatis mematikan profesi tertentu. Di industri kreatif, AI justru membuka peluang model bisnis baru, termasuk lisensi wajah atau identitas digital yang berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan.
Dalam konteks kepemimpinan digital, Shinta menekankan pentingnya kemauan belajar tanpa henti, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan cepat. Perubahan teknologi yang berlangsung nyaris setiap detik menuntut pemimpin berani mengambil risiko dan melakukan pivot ketika model lama tidak lagi relevan.
Bagi dia, teknologi juga tidak mampu menggantikan dimensi kemanusiaan yang bersifat mendasar. Interaksi tatap muka, empati, dan nilai spiritual tetap menjadi penyangga utama dalam kehidupan sosial maupun bisnis. Ketergantungan total pada teknologi justru berisiko menghilangkan keseimbangan tersebut.
Internet dan AI, dalam pandangan Shinta, akan terus berkembang mengikuti kebutuhan manusia. Selama teknologi ditempatkan sebagai alat, bukan penentu, transformasi digital justru dapat memperluas nilai dan dampak positif bagi kehidupan bersama.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478298/original/046713600_1768897803-WhatsApp_Image_2026-01-20_at_15.28.12.jpeg)
