Jalan Terjal Tambak Udang Menuju Efisiensi dan Keberlanjutan

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Di seantero pesisir Nusantara, tambak udang bukan sekadar kolam berisi air dan benur; ia adalah denyut ekonomi lokal, penopang ekspor nasional, dan simbol ambisi Indonesia dalam perdagangan protein akuatik global. Namun memasuki era 2026, realitas yang dihadapi para petambak semakin kompleks. Di tengah lonjakan permintaan global, tekanan standar keberlanjutan, dan biaya produksi yang meroket, pertanyaan besar muncul: Apakah tambak udang kita siap berubah atau akan tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat?

Efisiensi: Sebuah Keniscayaan dalam Budidaya Modern

Biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam budidaya udang, sering menyumbang 40–65% total biaya produksi (Nikolik, 2022). Dengan dinamika harga bahan baku pakan global, terutama fishmeal dan fish oil yang fluktuatif, ketergantungan pada formulasi tradisional bukan lagi pilihan strategis. Situasi ini semakin diperparah di Indonesia, dimana rasio konversi pakan (FCR) pada tambak tradisional masih jauh dari optimal, mencapai diatas 2 dibandingkan sistem modern yang idealnya 1,2–1,5 (KKP, 2025). Ketidakefisienan ini tidak hanya membebani biaya operasional, tetapi juga memicu limbah organik yang memperburuk kualitas air dan kesehatan tambak itu sendiri.

Inilah sebabnya efisiensi menjadi kata kunci. Teknologi seperti sistem pakan otomatis berbasis IoT dan manajemen pakan yang terintegrasi dapat mengurangi pemborosan hingga puluhan persen, meningkatkan pertumbuhan udang sekaligus menekan beban lingkungan (MDPI, 2025). Pendekatan efisiensi semacam ini bukan sekadar soal profit jangka pendek, tetapi fondasi bagi keberlanjutan usaha tambak.

Keberlanjutan Lingkungan: Tantangan dan Kewajiban

Dibalik nilai ekonominya, budidaya udang kerap menimbulkan dampak lingkungan serius. Sisa pakan dan feses yang tidak terurai dapat meningkatkan konsentrasi nitrogen dan fosfor dalam air, memicu eutrofikasi dan membahayakan organisme perairan lain (Iber et al., 2021). Tekanan lingkungan semacam ini semakin diperhatikan oleh pasar global yang kini menuntut produk yang aman, berkelanjutan, dan dapat dilacak (traceability) sepanjang rantai pasok (WWF Seafood Sustainability).

Konsep green aquaculture atau akuakultur ramah lingkungan kini bukan lagi sekadar jargon, ia menjadi kebutuhan strategis. Sistem seperti bioflok dan integrated multi-trophic aquaculture (IMTA) tidak hanya mampu meminimalkan limbah, tetapi juga memperbaiki kualitas lingkungan budidaya secara signifikan (ISW, 2025). Tambak yang menerapkan prinsip ramah lingkungan semacam ini punya peluang lebih besar untuk meraih sertifikasi keberlanjutan seperti dari Aquaculture Stewardship Council (ASC), sehingga daya saingnya di pasar ekspor meningkat.

Namun, transformasi menuju green aquaculture bukan tanpa hambatan. Investasi awal teknologi, keterbatasan akses modal, dan kebutuhan pelatihan teknis menjadi rintangan nyata bagi petambak skala kecil-menengah. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga pembiayaan harus diperkuat untuk mendorong adopsi praktik-praktik berkelanjutan tersebut.

Biosekuriti dan Kesehatan Udang: Risiko yang Tak Boleh Diabaikan

Serangan penyakit seperti WSSV (White Spot Syndrome Virus), AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease), dan EHP (Enterocytozoon hepatopenaei) menjadi momok klasik yang terus menghantui tambak udang Indonesia setiap musim produksi (KKP, 2025). Dampaknya bukan hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi petambak dan kepercayaan pasar.

Pencegahan penyakit tidak bisa lagi diserahkan pada penanganan reaktif. Pendekatan manajemen biosekuriti yang ketat, termasuk sterilisasi air masuk, penggunaan probiotik, dan deteksi dini berbasis sensor, menjadi syarat minimum untuk pertahanan kesehatan udang (Rahardjo et al., 2023; Argue et al., 2002). Strategi semacam ini tidak hanya mengurangi risiko epidemi, tetapi memperkuat kepercayaan buyer global terhadap komoditas udang Indonesia.

Teknologi dan Digitalisasi: Motor Perubahan Budidaya

Inovasi teknologi kini membuka peluang besar untuk mentransformasi model tambak konvensional menjadi sistem budidaya yang efisien dan tepat guna. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan IoT untuk pemantauan kualitas air, automatic feeder, hingga teknologi nanobubble untuk meningkatkan oksigen terlarut dapat memperbaiki produktivitas sekaligus menekan biaya operasional (Tari & Ramasre, 2024; Fernandes & Dmello, 2025).

Tidak kalah penting, digitalisasi juga memperkuat traceability dan transparansi sepanjang rantai pasok, faktor yang kini semakin menjadi persyaratan pasar ekspor tingkat tinggi. Dengan teknologi real-time, petambak dapat dengan cepat merespon dinamika lingkungan dan kesehatan udang, sehingga produksi menjadi lebih stabil dan prediktabel.

Kolaborasi Kebijakan dan Praktik Lapangan

Tidak ada satu pun solusi ajaib yang bisa diterapkan sendirian oleh petambak. Jalan ke depan memerlukan kolaborasi yang kuat antara pembudidaya, pemerintah, lembaga riset, dan sektor finansial. Program bantuan modal yang fleksibel, insentif adopsi teknologi, serta fasilitasi pasar ekspor dengan persyaratan keberlanjutan harus menjadi fokus kebijakan yang nyata.

Model klaster budidaya yang dikembangkan pemerintah di beberapa lokasi, menunjukkan bahwa pengelolaan kolaboratif dengan standar biosekuriti dan IPAL terintegrasi dapat menjaga kualitas lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas (KKP, 2026). Pendekatan semacam ini layak direplikasi di kawasan lain, khususnya di sentra tambak yang memiliki potensi besar tetapi belum terkelola optimal.

Keberlanjutan sebagai Kerangka Bisnis, Bukan Beban Biaya

Keberlanjutan sering disalahpahami sebagai sekadar biaya tambahan. Paradigma ini harus diubah. Kajian keberlanjutan menunjukkan bahwa tambak yang menerapkan prinsip-prinsip triple bottom line yaitu keseimbangan antara aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial, justru menunjukkan volatilitas keuntungan yang lebih rendah dan stabilitas usaha yang lebih tinggi dibanding tambak yang hanya mengejar produksi maksimal tanpa memperhatikan dampak lingkungan (Badiola et al., 2021).

Dalam konteks pasar global yang kini semakin cermat terhadap isu lingkungan dan etika produksi, keberlanjutan bukan lagi pilihan nilai moral, ia menjadi syarat akses pasar, penentu harga jual premium, dan jaminan reputasi jangka panjang.

Menyongsong 2026 dengan Adaptasi Nyata

Tambak udang Indonesia berada di persimpangan kritis. Di satu sisi, permintaan global terhadap produk udang terus tumbuh. Di sisi lain, tantangan efisiensi, kesehatan lingkungan, biosekuriti, dan standar pasar global menuntut perubahan drastis dalam praktik budidaya.

Efisiensi bukan lagi sekadar menekan biaya; ia adalah mekanisme kelangsungan hidup industri. Keberlanjutan bukan sekadar tren; ia adalah prasyarat daya saing global. Dan teknologi bukan sekadar pelengkap; ia adalah kunci untuk membuka pintu masa depan budidaya yang lebih tangguh.

Jika para pemangku kepentingan, dari petambak, peneliti, pembuat kebijakan, hingga investor, mampu menyatukan visi dan langkah nyata, tambak udang Indonesia tidak hanya akan bertahan di 2026, tetapi juga menjadi contoh industri akuakultur yang efisien, ramah lingkungan, dan berdaya saing tinggi di kancah dunia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Janice Tjen Menang di Australian Open, Akun Sosmed French Open Heboh
• 1 jam lalugenpi.co
thumb
Sinopsis Film MERCY: Kisah Kegelisahan Seseorang terhadap Kehidupan Modern
• 1 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Jelang Imlek 2026, Yuk Simak Makna Tradisi Membeli Baju Baru Saat Tahun Baru China!
• 4 jam lalugrid.id
thumb
Lama Tak Merasakan Juara di Istora, Motivasi Berlipat Ganda Putra Fajar/Fikri di Indonesia Masters 2026
• 5 jam lalufajar.co.id
thumb
Disdik DKI Larang Siswa Gunakan Gawai Selama Jam Belajar di Sekolah
• 13 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.