FAJAR.CO.ID, PANGKEP — Korban kedua jatuhnya pesawat ATR 42-500, dikabarkan telah berada di kawasan Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Selasa (201/2026).
Sumber di posko AJU Desa Tompo Bulu menyebut bahwa korban yang berjenis kelamin perempuan itu hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai.
“Tim menuju pos 2,” terdengar suara di HT milik salah seorang personel gabungan di lokasi.
Kabar terakhir oleh Danrem 141/Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan, jasad korban telah berada 100 meter dari ketinggian gunung Bulusaraung.
Rupanya, proses evakuasi berlangsung begitu cepat. Meskipun hujan deras terus menyelimuti, namun tim SAR Gabungan tidak patah semangat.
Untuk diketahui, korban kedua tersebut ditemukan oleh Tim SAR Gabungan dalam kondisi tengkurap di lereng gunung pada Senin (19/2/2026) sekitar pukul 14.15 Wita kemarin.
Sebelumnya, Danrem 141/Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan menyampaikan, posisi jasad korban kedua memang telah mengalami progres besar dibandingkan sehari sebelumnya. Namun, evakuasi belum bisa dilakukan sepenuhnya.
“Posisi jenazah kedua dari yang beridentitas perempuan ini masih di lereng,” kata Andre saat memberikan keterangan di Posko AJU.
Ia menjelaskan, pada Senin (19/1/2026), jasad berada di kedalaman sekitar 400 meter dari puncak.
Hingga sore ini, tim gabungan berhasil menarik jasad hingga menyisakan jarak sekitar 100 meter lagi menuju puncak.
“Tapi kalau kemarin di kedalaman 400 meter, sampai dengan sore hari ini sudah di ketinggian 100 meter lagi ke puncak. Kita harapkan itu bisa ditarik,” tukasnya.
Lanjut Andre, proses penarikan jasad dari lereng curam tersebut masih terus diupayakan agar bisa diturunkan ke titik yang paling memungkinkan untuk diakses.
“Jenazah kedua yang sementara kita tarik dari kedalaman 400 itu, kita harapkan bisa diturunkan di titik paling dekat,” jelasnya.
Namun demikian, titik terdekat untuk evakuasi menggunakan kendaraan belum dapat dipastikan. Tim di lapangan masih melakukan penilaian kondisi medan dan cuaca.
“Paling dekat kita belum bisa pastikan, kita menunggu tim yang di atas,” ungkap Andre.
Ia menyebutkan, sejak pagi hingga sore hari hujan deras terus mengguyur kawasan Gunung Bulusaraung. Kondisi tersebut sangat memengaruhi upaya evakuasi.
“Karena kesulitan yang ada masih tetap terus, kita ketahui bersama sampai sore, dari pagi cuaca ini terjadi hujan yang cukup deras,” katanya.
Andre kembali menegaskan bahwa tantangan utama evakuasi jasad kedua adalah posisi korban yang berada di lereng sangat dalam dan terjal.
“Ini karena sudah kita sampaikan, posisi korban itu di lereng sedalam 400 meter,” terangnya.
Meski begitu, seluruh tim gabungan disebut tetap berupaya maksimal untuk menuntaskan proses evakuasi.
“Penarikan saja sampai dengan tadi lagi, tinggal seratus meter. Masih tinggi cukup tinggi, tapi kita masih berupaya semua tim evakuasi yang ada berusaha sekuat mungkin bisa sampai ke puncak,” imbuhnya.
Terkait rencana membawa jasad korban kedua ke Posko AJU, Andre mengaku belum bisa memastikan.
“Saya belum bisa memastikan, tetapi kita sedang mencari titik paling dekat diakses mobil,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan kondisi para personel di lapangan yang tetap bertahan meski menghadapi cuaca ekstrem dan kelelahan.
“Anggota di sana tetap bersemangat, tapi pasti kedinginan,” Andre menuturkan.
Dengan kondisi hujan lebat dan medan sulit, proses evakuasi korban kedua belum dapat dipastikan rampung hari ini.
“Dengan kondisi hujan lebat dan juga lelah, tapi kita tetap semangat untuk bisa secepatnya membawa jenazah itu,” kata Andre.
“Saya belum bisa menjawab (jenazah dibawa ke posko malam ini). Karena cuaca selalu berubah,” sambungnya.
(Muhsin/fajar)



