Penulis: Intan Kw
TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan kondisi cuaca saat pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pihaknya mendeteksi keberadaan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Kabupaten Maros yang berpotensi memengaruhi penerbangan dan perlu diwaspadai.
"Cuaca diperkirakan relatif stabil, namun masih terdapat awan Cb di wilayah pendekatan saat pendaratan yang perlu diwaspadai," kata Teuku Faisal saat rapat kerja bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026.
Berdasarkan laporan Meteorological Aerodrome Report (METAR) Bandara Sultan Hasanuddin pada pukul 12.30 WITA, kondisi cuaca di area bandara berada dalam keadaan cukup baik. Jarak pandang tercatat mencapai 9 kilometer, angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan 13 knot, serta suhu dan tekanan udara berada pada kondisi normal.
Namun, Faisal menjelaskan di sekitar bandara, terdapat cumulonimbus. Awan tebal tersebut dinilai berpotensi memengaruhi fase pendekatan pesawat saat akan mendarat, meskipun kondisi cuaca di area bandara sendiri tidak menunjukkan gangguan signifikan.
Selain itu, hasil pemantauan citra Satelit Himawari juga menunjukkan keberadaan awan tinggi dan awan tebal di wilayah Maros. Suhu puncak awan yang terdeteksi menunjukkan karakter awan konvektif, sejalan dengan laporan cuaca terkait kondisi awan di wilayah pendekatan bandara.
"Berdasarkan citra satelit Himawari IR Enhanced pada tanggal 17 Januari 2026 pukul 11.00-13.30 WITA suhu puncak di lokasi kejadian berkisar antara -48°C hingga 21°C yang menunjukkan keberadaan awan tinggi dan awan tebal (dense cloud) di sekitaran wilayah tersebut," tuturnya
Editor: Redaktur TVRINews



