JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengungkapkan pesawat ATR 42-500 kebablasan sampai keluar jalur saat hendak mendarat (landing) di Bandara Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, lantas menabrak gunung.
Sebab, pesawat ATR 42-500 diarahkan untuk mendarat via runway 21, tapi tidak terbang sesuai dengan jalur yang ditetapkan.
Hal tersebut Soerjanto sampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
"Ini yang putih adalah rute pesawat ketika terjadi kecelakaan tersebut. Rute yang kuning tadi yang disampaikan Direktur AirNav bahwa STAR atau Standard Terminal Arrival Route yang untuk runway 21 itu harus dimulai dari Araja, titik Araja," ujar Soerjanto.
Baca juga: KNKT Ungkap Ada Keluhan soal Mesin Pesawat ATR 42-500 3 Hari Sebelum Jatuh
Soerjanto memaparkan, prosedur approach pendaratan di runway 21 dimulai dari poin bernama Araja.
Dari Araja, pesawat harus terbang menuju ke poin Openg, dan terakhir Kabip.
Namun, ternyata, pesawat ATR 42-500 itu tidak terbang ke poin Araja, atau keluar dari jalur.
Ketika diminta langsung memotong jalur ke poin Openg pun, pesawat tetap bablas. Soerjanto mengaku masih belum mengetahui alasannya.
"Jadi, di sini pesawat harusnya tadi ke poin Araja tapi dia terlewat. Diminta untuk menuju poin Openg, ternyata juga pesawatnya tidak menuju ke poin Openg. Kami juga belum bisa menyampaikan kenapa alasannya," tuturnya.
Baca juga: Basarnas Harap Dapat Temukan Korban Selamat Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
Lalu, karena poin Openg sudah terlewat juga, pesawat ATR diminta untuk menuju ke poin terakhir, yakni Kabip supaya bisa intercept localizer untuk automatic landing system-nya.
Lagi-lagi pesawat tetap terus terbang keluar jalur.
Yang terjadi selanjutnya adalah pesawat ATR masuk ke kawasan pegunungan Bulusaraung, dan akhirnya crash di sana.
"Terus terakhir pesawat berbelok ke kanan. Nah, terakhir komunikasinya bahwa ATC menanyakan apakah dia berbelok ke kanan dengan heading 245. Diharapkan dia heading 245 itu bisa memotong ILS itu sehingga alat pandu pendaratan otomatisnya bisa bekerja, Pak," jelas Soerjanto.
"Nah, tapi di situ keburu pesawatnya sudah crash (menabrak gunung -red)," imbuhnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang




