Belangan konten hoaks menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau AI makin marak. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria mengatakan kemampuan berpikir kritis adalah pertahanan utama bagi anak-anak di era digital.
“Kemampuan memilah, menganalisis, dan memverifikasi informasi menjadi keterampilan yang paling berharga. Ini kunci membuat kita waras dan sehat di dunia digital, bukan hanya sebagai penerima pasif," kata Nezar dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (20/1).
Menurutnya, orang tua harus membangun fondasi berpikir kritis sejak dini. Hal ini diperlukan agar anak tidak mudah terperdaya oleh konten yang tampak meyakinkan namun faktanya salah.
Untuk melatih keterampilan tersebut, Nezar merujuk pada strategi riset dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang terdiri dari tiga tahap.
Tahap pertama yaitu learn yang menekankan pentingnya anak memiliki basis pengetahuan kuat melalui buku dan diskusi dunia nyata. Dengan begitu pengetahuan anak tidak terbatas pada algoritma media sosial.
Tahapan kedua yaitu evaluate yakni membangun skeptisisme sehat. Hal ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kritis terhadap setiap klaim yang dilihat.
Selanjutnya tahap ketiga yaitu reflect. Tahapan ini menjadi krusial untuk mengidentifikasi realitas sintetis yang diciptakan oleh AI seperti teknologi deepfake.
"Realitas sintetis yang dibangun mesin ini tidak autentik. AI bisa membuat deepfake yang nyaris tidak bisa dibedakan, bahkan memanipulasi foto wajah menjadi konten pornografi atau alat untuk perundungan (bullying) di kalangan anak-anak. Ini bahaya yang sangat nyata," ujar Nezar.
Ia juga menyoroti fenomena defisit pertanyaan di kalangan generasi muda. Nezar menilai, saat ini kemampuan mengajukan pertanyaan atau menggugat sebuah informasi jauh lebih penting daripada kemampuan memberikan jawaban.
"Kita lebih banyak menerima daripada melakukan gugatan terhadap apa yang disajikan. Karena itu, pertanyaan kritis harus terus dilatih agar anak-anak kita menjadi digital citizens yang tangguh," katanya.
Karena itu, ia menyatakan Komdigi terus berkomitmen menciptakan ekosistem digital yang aman melalui regulasi dan edukasi.



