Pantau - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat telah mengirimkan hasil sampel DNA milik keluarga Esther Aprilita, pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport, ke Makassar sebagai bagian dari proses identifikasi korban kecelakaan pesawat di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Sampel DNA tersebut diambil dari keluarga korban yang berdomisili di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menyatakan bahwa proses pengambilan data dilakukan oleh tim DVI dari Polres Bogor yang memiliki keahlian di bidang tersebut.
"Selanjutnya, pengambilan data telah dilakukan dan seluruh data sudah selesai serta diterima oleh tim gabungan di Makassar", ungkapnya.
Pengambilan data ante mortem dan sampel DNA pembanding ini merupakan bagian penting dari proses identifikasi korban secara ilmiah.
Saat ini, pihak kepolisian masih menunggu hasil pencocokan dari tim SAR gabungan terkait korban yang telah ditemukan di lokasi jatuhnya pesawat.
"Saat ini kami menunggu proses lanjutan dari tim SAR gabungan agar dapat mempermudah identifikasi korban. Kita doakan semoga seluruh proses ini dapat segera selesai dan tuntas", ujarnya.
Dua Korban Telah Ditemukan di Lokasi KecelakaanTim SAR gabungan sebelumnya telah menemukan dua korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di kawasan pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan.
Satu korban ditemukan pada Senin, 19 Januari 2026 sekitar pukul 14.00 WITA.
"Hari ini telah ditemukan satu korban", ungkap seorang anggota tim SAR gabungan.
Korban yang ditemukan pada hari tersebut berjenis kelamin perempuan.
Sehari sebelumnya, tim SAR juga telah menemukan satu korban laki-laki.
Dengan demikian, hingga saat ini sudah dua korban yang berhasil ditemukan.
Kepala Badan SAR Nasional, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafiiz, menyatakan bahwa identitas para korban belum dapat diumumkan secara resmi.
"Nanti, mungkin (identitas) persisnya dari DVI. Informasi awal korban pertama yang kita temukan berjenis kelamin laki-laki dan kedua informasi yang kita dapatkan ini berjenis kelamin perempuan", ujarnya.
Proses identifikasi masih menunggu hasil analisis DNA dari tim DVI untuk memastikan identitas masing-masing korban.


