Menyongsong Pertanian Modern: Lima Teknologi Canggih untuk Smart Farming

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Pertanian modern sudah bukan jadi mimpi lagi. Bayangkan seorang petani yang tidak lagi harus berjemur seharian di bawah terik matahari untuk memantau ribuan hektar lahannya.

Sebaliknya, ia duduk di depan layar tablet, mengendalikan armada drone, dan menganalisis data kondisi tanah dari jarak jauh. Ini bukan adegan film fiksi ilmiah, melainkan kenyataan pertanian modern hari ini yang telah ada di seluruh dunia.

Dunia menghadapi tantangan besar: memberi makan populasi global yang terus meledak di tengah perubahan iklim yang tak menentu. Metode pertanian tradisional yang mengandalkan "firasat" dan kerja fisik berat tak lagi cukup. Jawabannya adalah smart farming (pertanian cerdas) atau pertanian 4.0—sebuah revolusi di mana data, otomatisasi, dan kecerdasan buatan mengambil alih kendali.

Berikut adalah lima teknologi canggih yang memodernkan cara kita menanam tanaman dan memproduksi makanan.

Drone: Mata Burung di Langit

Lupakan drone hanya sebagai alat fotografi hobi. Di sektor pertanian, drone (pesawat nirawak) adalah pekerja keras yang serbaguna. Mereka berfungsi sebagai "mata burung di langit" yang mampu memetakan ribuan hektar lahan hanya dalam hitungan jam, kegiatan yang dulu memakan waktu berminggu-minggu jika dilakukan secara manual.

Selain pemetaan, drone modern dilengkapi dengan tangki dan penyemprot otomatis untuk pupuk atau pestisida. Keunggulannya? Lebih presisi. Drone dapat terbang rendah mengikuti kontur tanah dan hanya menyemprot area yang membutuhkan, mengurangi penggunaan bahan kimia secara drastis dan menghemat biaya operasional.

Pemain besar mesin pertanian di Indonesia—seperti Yanmar dan MAXXI—sudah mulai menawarkan drone pertanian yang dapat digunakan langsung untuk pemupukan dan perawatan tanaman.

Sensor IoT (Internet of Things): Tanah dan Udara "Berbicara"

Bagaimana jika tanah bisa "berbicara" dan memberi tahu Anda kapan ia haus? Atau udara melaporkan bahwa suhu atau kelembapan udara sudah diluar batas? Itulah fungsi Sensor Internet of Things (IoT). Alat-alat kecil ini ditanam di berbagai titik lahan untuk memantau kondisi lingkungan secara real-time, 24 jam non-stop.

Sensor ini mengukur kelembapan tanah, suhu, pH, hingga intensitas cahaya matahari. Data tersebut dikirim langsung ke cloud dan bisa diakses petani lewat ponsel pintar. Jika sensor mendeteksi tanah terlalu kering, sistem irigasi pintar dapat menyala secara otomatis.

Hasilnya adalah penggunaan air yang jauh lebih efisien dan tanaman yang selalu mendapatkan nutrisi tepat waktu. Saat ini, sudah banyak penyedia jasa instalasi sensor IoT, terutama pada greenhouse di Indonesia.

Kamera Spektral: Penglihatan Sinar-X untuk Tanaman

Mata manusia hanya bisa melihat sebagian kecil dari spektrum cahaya. Namun, tanaman yang sedang stres—baik karena kekurangan air, serangan hama, atau penyakit—memantulkan cahaya dengan cara yang berbeda, bahkan sebelum gejala fisiknya terlihat oleh mata kita.

Di sinilah kamera spektral (hiperspektral atau multispektral) berperan. Kamera itu sering dipasang pada drone atau satelit di mana kamera ini menangkap gelombang cahaya tak kasat mata (seperti inframerah-dekat).

Dengan menganalisis citra spektral ini, petani bisa mendeteksi "sinyal bahaya" dari tanaman berminggu-minggu lebih awal dibanding penglihatan manusia. Ini membantu petani merencanakan tindakan pencegahan dini sebelum gagal panen terjadi.

Robot Pertanian: Bekerja tanpa Pengawasan

Salah satu krisis terbesar pertanian global adalah kekurangan tenaga kerja. Generasi muda semakin enggan bekerja di bidang pertanian. Robot pertanian hadir mengisi kekosongan ini.

Mulai dari robot otomatis kecil yang berjalan di antara barisan tanaman untuk mencabuti gulma dengan laser, hingga mesin pemanen raksasa yang bisa memetik buah dengan kelembutan tangan manusia.

Robot-robot ini tidak mengenal lelah dan tidak perlu diawasi, bisa bekerja siang malam, dan melakukan tugas berulang dengan konsistensi sempurna, meningkatkan produktivitas secara signifikan.

Plant Factory: Bertani tanpa Matahari dan Tanah

Apa yang terjadi jika kita memindahkan pertanian dari ladang terbuka ke dalam gedung tertutup di tengah kota? Inilah konsep plant factory atau pertanian vertikal dalam ruangan.

Di fasilitas ini, segala sesuatu dikendalikan oleh komputer. Cahaya matahari digantikan oleh lampu LED berspektrum khusus yang dioptimalkan untuk fotosintesis. Tanah digantikan oleh sistem hidroponik atau aeroponik yang hemat air.

Karena lingkungan (suhu, CO2, kelembapan) terkontrol sempurna, plant factory tidak terpengaruh musim atau cuaca buruk, memungkinkan panen sepanjang tahun dengan hasil yang bersih dan bebas pestisida di dekat pusat konsumen. Penelitian terkait plant factory sudah ada di Indonesia, saat ini fasilitas yang sudah skala penuh ada di IPB dan UGM.

Adopsi kelima teknologi ini dapat mengubah petani dari sekadar pengolah tanah menjadi manajer data. Tujuannya bukan untuk menggantikan peran manusia sepenuhnya, melainkan untuk membuat pertanian lebih efisien, berkelanjutan, dan tangguh menghadapi tantangan masa depan.

Revolusi digital ini memastikan bahwa di masa depan, makanan akan terus dapat diproduksi dan perut kita akan tetap terisi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tim DVI Polri Prioritaskan Ketepatan Identifikasi Korban Pesawat ATR 42-500
• 14 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Pencuri Aki Dimassa hingga Babak Belur
• 5 jam lalurealita.co
thumb
BMKG Mengungkapkan Ada Awan Cumulonimbus di Maros Saat Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
• 21 jam lalunarasi.tv
thumb
9 Arti Mimpi Naik Truk, Pertanda Ada Tanggung Jawab Besar Menanti
• 3 jam lalugrid.id
thumb
Punya Beban Ganda, 5 Hal yang Perlu Disiapkan Generasi Sandwich agar Tetap Waras
• 14 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.