Perjalanan dari Jakarta menuju Taman Nasional Way Kambas, Lampung sejauh kurang lebih 350 kilometer bukanlah rute asing bagi penikmat touring roda dua. Namun bisa terasa berbeda dan bermakna spesial karena kuda besi yang ditunggangi adalah motor listrik.
Untuk pertama kalinya sebagai jurnalis kumparan, saya melakoni touring jarak jauh menggunakan motor listrik, sebuah pengalaman yang selama ini kerap memunculkan tanda tanya di benak banyak orang: apakah motor listrik benar-benar siap diajak lintas kota?
Pilihan tunggangan jatuh pada Polytron FOX 350, motor listrik buatan Indonesia yang membawa semangat Modern Warrior. Sebuah simbol ketangguhan generasi masa kini, dan mereka yang setiap hari menghadapi kerasnya hidup, dari pekerja kantoran yang berpacu dengan waktu, pengemudi ojek online yang menembus panas dan hujan, hingga pelaku usaha kecil yang tak kenal lelah menjaga roda ekonomi tetap berputar.
Etape Jakarta-Serang: Mengawali Rasa PenasaranBerangkat dari Jakarta pada pagi hari, lalu lintas padat menjadi ujian awal. Tanpa suara mesin dan getaran, FOX 350 justru memberikan sensasi berkendara yang lebih tenang. Akselerasi instan dari tenaga maksimal 6.409 Watt terasa linear membantu saat harus berpindah lajur atau keluar dari kepadatan jalanan ibu kota.
Pada etape awal ini mode D kami optimalkan dengan kecepatan puncak 60 km/jam, yang mana sudah lebih dari cukup menembus kepadatan lalu lintas Jakarta menuju Tangerang, hingga akhirnya berhasil masuk Kota Serang dengan hiruk pikuk kendaraan besar dan bus antar jemput karyawan.
Etape pertama ditutup di Service Center Polytron Serang dan ULP Serang, yang sekaligus menjadi titik pengisian daya awal. Berhenti di fasilitas resmi ini memberi rasa aman, bukan hanya soal pengisian baterai, tapi juga keyakinan bahwa ekosistem kendaraan listrik Polytron sudah mulai terbentuk, setidaknya di jalur-jalur utama perjalanan.
Pengisian daya di Serang menjadi momen jeda, waktu untuk mengatur ulang ritme perjalanan. Di sinilah perjalanan motor listrik terasa berbeda: setiap pemberhentian bukan sekadar berhenti, melainkan bagian dari strategi perjalanan.
Terlebih bermodalkan portable fast charging Polytron, pengisian daya baterai lebih singkat. Sudah barang tentu proper untuk dibawa saat penjelajahan jarak jauh ini. Mengisi baterai kembali penuh lebih less capek.
Etape Serang-Cilegon: Menguji KonsistensiDari Serang, perjalanan dilanjutkan menuju ULP Cilegon. Jalur ini relatif singkat, namun penting sebagai transisi menuju penyeberangan. FOX 350 tetap stabil, bahkan ketika melaju konstan dalam waktu lama. Fitur cruise control mulai terasa manfaatnya, memberi kesempatan tangan beristirahat sejenak tanpa mengorbankan kecepatan jelajah.
Pengisian daya di ULP Cilegon menjadi persiapan krusial sebelum menyeberang. Di titik ini, kekhawatiran klasik soal motor listrik kembali muncul: bagaimana jika daya tidak cukup setelah penyeberangan? Namun perencanaan yang matang membuat perjalanan tetap berjalan dengan tenang.
Pada titik ini, baterai motor listrik Polytron FOX 350 diisi penuh sebagai modal untuk menaklukkan jalur Lampung Timur yang lengang, namun menantang. Disebut demikian lantaran medannya kombinasi lurus yang memanjang, hingga tanjakan-turunan tiada henti.
Etape Merak-Bakauheni: Menyeberang dengan KeyakinanMenyeberang dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni membawa nuansa berbeda. Di atas kapal, saya punya waktu untuk merenung, bukan hanya soal perjalanan, tapi juga soal perubahan lanskap mobilitas di Indonesia. Motor listrik bukan lagi wacana masa depan, tapi sudah mulai mengambil peran nyata, bahkan untuk perjalanan lintas provinsi.
Begitu tiba di Lampung, perjalanan belum usai. Etape berikutnya menjadi salah satu yang terpenting.
Etape Bakauheni-Sribhawono: Menjaga RitmeDari Bakauheni, perjalanan dilanjutkan menuju ULP Sribhawono untuk kembali mengisi daya. Jalur Lampung dengan kontur yang lebih bervariasi,lurus panjang, tanjakan ringan, hingga permukaan jalan yang tak selalu sempurna menjadi panggung pembuktian FOX 350.
Pada beberapa momen di lajur yang menanjak, Hill Start Assist bekerja menjaga motor tetap stabil saat berhenti. Bagi pengendara, fitur ini bukan sekadar teknologi tambahan, tapi penambah rasa percaya diri. Apalagi dalam perjalanan panjang, rasa aman menjadi faktor penting yang menentukan kenyamanan.
Setibanya di lokasi, baterai menyisakan daya 21 persen, sehingga sudah harus diisi daya karena apabila dipaksakan, maka tujuan utama menuju Way Kambas akan menemui kesulitan.
Inilah menariknya menggunakan motor listrik, perencanaan matang, kalkulasi jarak, maupun adaptasi cara berkendara baru merupakan bumbu yang asyik.
Di sela-sela pengisian daya, secangkir Kopi Tubruk Gadjah menjadi teman setia. Bukan hanya untuk mengusir kantuk, tapi sebagai ritual kecil yang menyalakan kembali fokus dan semangat.
Dalam perjalanan jarak jauh, energi mental sama pentingnya dengan daya baterai. Setiap tegukan kopi seolah menjadi dorongan kecil untuk terus melaju dan menuntaskan perjalanan.
Etape Sribhawono-Way Kambas: Penutup PerjalananEtape terakhir menuju Taman Nasional Way Kambas terasa lebih emosional pada keesokan harinya setelah bermalam di Lampung Timur. Bukan karena jalurnya paling sulit, melainkan karena perjalanan ini hampir mencapai tujuan. FOX 350 tetap konsisten, tanpa drama, tanpa kejutan yang tidak diinginkan.
Ketika akhirnya tiba di Way Kambas, rasa lelah terbayar lunas. Bukan hanya karena destinasi yang ikonik, tetapi karena perjalanan ini membuktikan satu hal penting: motor listrik buatan Indonesia mampu diandalkan untuk perjalanan jauh lintas kota.
Touring Jakarta-Way Kambas ini bukan tentang jarak semata. Ini tentang pengalaman, membangun kepercayaan, dan kebanggaan menggunakan produk dalam negeri.
Polytron FOX 350 hadir bukan sekadar kendaraan, melainkan rekan seperjalanan yang tangguh dan selaras dengan semangat para pejuang modern yang setiap hari menaklukkan tantangan hidup.
Bagi saya pribadi, ini adalah perjalanan pertama dengan motor listrik dan kemungkinan besar bukan yang terakhir. Karena setelah 350 kilometer berlalu, satu kesimpulan terasa semakin jelas: produk lokal Indonesia bukan hanya layak dipakai, tapi layak dibanggakan.




