Ribuan Mesin ATM Bank Gugur dalam Setahun

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan ribuan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) milik perbankan Indonesia telah berkurang hingga kuartal III/2025. 

Berdasarkan data Laporan Surveillance Perbankan Indonesia (LSPI) Kuartal III/2025, jumlah mesin ATM, CDM, dan CRM di Indonesia mencapai 89.774 unit hingga kuartal III/2025, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 91.173 unit. Itu artinya ada 1.399 unit yang tutup dalam setahun.

Namun demikian, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai bahwa menyusutnya jumlah ATM hingga kuartal III/2025 bukan sekadar tanda layanan uang tunai ditinggalkan, tetapi sebagai langkah penataan jaringan layanan agar lebih efisien.

Josua menjelaskan, bank cenderung menutup atau memindahkan mesin di lokasi yang transaksinya makin sepi, lantaran banyak kebutuhan dasar nasabah telah beralih ke aplikasi dan pembayaran kode QR, sementara biaya sewa lokasi, perawatan, pengisian uang, dan pengamanan mesin tetap tinggi.

“Menariknya, data OJK juga menunjukkan bahwa secara triwulanan jumlah terminal perbankan elektronik justru sempat naik 33 unit menjadi 89.774 pada triwulan III/2025,” kata Josua kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (20/1/2026).

Dia menilai, peningkatan jumlah terminal perbankan elektronik menguatkan kesan bahwa yang terjadi adalah penyesuaian lokasi dan komposisi mesin, bukan penutupan besar-besaran tanpa pengganti.

Baca Juga

  • Risiko Sektor Perbankan saat Rupiah Tertekan Isu Independensi BI dan Fiskal
  • Allo Bank & CIMB Niaga Tanggapi Peran Baru OJK Bisa Gugat Pelaku Jasa Keuangan
  • Saham Bank Bergerak Variatif, Terpantik Kabar Rotasi Deputi Gubernur BI?

“Apakah ini menandai fase matang digitalisasi perbankan? Sebagian iya, dalam arti transaksi harian makin nyaman dilakukan tanpa uang tunai sehingga ketergantungan pada penarikan tunai menurun,” tuturnya.

Josua mengatakan, indikasinya terlihat dari pesatnya transaksi ritel digital. Josua, mengutip data Bank Indonesia (BI) per Oktober 2025, mengungkapkan bahwa volume BI-FAST mencapai 446,8 juta transaksi dan transaksi pembayaran digital 4,45 miliar atau tumbuh 31,20% secara tahunan (year on year/YoY), sementara pengguna QRIS sudah 58,30 juta dengan 41,19 juta pedagang.

Kendati begitu, dia menyebut bahwa kesimpulan fase matang tidak bisa hanya ditarik dari turunnya jumlah mesin. Pasalnya, kebutuhan uang tunai masih nyata di banyak segmen dan wilayah, dan otoritas moneter juga menegaskan komitmen menjaga ketersediaan uang Rupiah yang layak edar hingga menjangkau wilayah 3T.

Dengan demikian, Josua mengatakan bahwa penurunan ATM lebih tepat dibaca sebagai pendewasaan strategi layanan, yaitu bank mengecilkan titik yang tidak produktif sambil menguatkan layanan digital dan tetap menjaga akses tunai yang memadai.

“Ukuran keberhasilannya bukan jumlah mesin, melainkan apakah akses tunai tetap terjaga, gangguan layanan rendah, dan perpindahan transaksi ke saluran digital benar-benar membuat biaya transaksi masyarakat lebih ringan,” pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Halaman Depan SDN Kokap Kembali Longsor, Dua Bangunan Rata dengan Tanah
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Wamendagri Minta Daerah Optimalkan Pemanfaatan Stadion
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Comeback di Gelaran Indonesia Masters 2026, Anthony Sinisuka Ginting Akui Tegang Kembali Bermain di Istora
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Hari Ketiga Banjir Karawang, 17 Desa Masih Terendam Luapan Sungai Citarum
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Soal SBY Dituding Terlibat Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi, Polda Metro Bakal Periksa Saksi
• 5 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.