Mengapa Manusia Kembali ke Bulan?

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Misi Artemis II untuk mengorbit Bulan siap dimulai. Jika semua persiapan berjalan lancar, roket dan wahana antariksa yang membawa empat antariksawan itu akan diluncurkan menuju Bulan paling cepat 6 Februari 2026. Misi ini akan menandai kembalinya manusia ke Bulan setelah misi berawak terakhir ke Bulan berlangsung pada 1972.

Roket peluncur Space Launch System (SLS) dan kapsul Orion yang bertengger di puncak roket sudah tersedia di landas luncur 39B Bandar Antariksa Kennedy, Florida, Amerika Serikat, sejak Sabtu (17/1/2026). Roket dan kapsul milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) ini akan mengantarkan empat antariksawan dalam misi Artemis II.

Pendaratan manusia di Bulan itu paling cepat akan dilakukan pada 2027.

Keempat antariksawan itu terdiri dari tiga astronot NASA, yaitu Reid Wiseman selaku komandan misi, pilot Victor Glover, dan spesialis misi yang juga satu-satunya perempuan dalam misi ini, Christina Koch. Satu antariksawan lagi berasal dari Badan Antariksa Kanada (CSA), Jeremy Hansen, yang menjadi spesialis misi kedua.

Misi selama 10 hari untuk mengorbit Bulan itu, seperti dikutip dari tulisan Mike Wall di Space, Sabtu (17/1/2026), bertujuan menguji kendaraan yang digunakan untuk mempersiapkan pendaratan manusia di Bulan. Pendaratan manusia di Bulan itu paling cepat akan dilakukan pada 2027.

Baca JugaMisi Artemis II Dimulai, Manusia Siap Kembali ke Bulan

Sejauh ini, AS menjadi satu-satunya negara yang pernah mendaratkan manusia di Bulan dan paling siap untuk mengirimkan kembali manusia ke Bulan. Setelah mendaratkan manusia di Bulan dalam misi Artemis III, NASA juga berencana membangun stasiun antariksa pertama yang mengorbit Bulan, yaitu Gateway dalam misi Artemis IV.

NASA dengan dukungan sejumlah badan antariksa lain, seperti Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA), juga berencana membangun pangkalan antariksa di Bulan. Pangkalan ini akan menjadi pusat eksplorasi manusia di Bulan sekaligus tempat transit manusia sebelum menuju Mars. Hingga kini, AS dan 59 negara lain telah menandatangani Kesepakatan Artemis guna pemanfaatan hasil eksplorasi antariksa secara damai.

Di luar AS dan kolaboratornya, seperti dikutip dari artikel Pallab Gosh dan rekan di BBC, 17 Januari 2026, China juga berencana mendaratkan antariksawan atau taikonotnya di dekat kutub selatan Bulan pada 2030. Rusia juga berminat membangun pangkalan kecil di Bulan pada 2030-2035 meski kondisinya saat ini semakin berat akibat sanksi Barat, kendala teknis, dan tekanan pendanaan.

Baca JugaKe Bulan, Manusia Akan Kembali

Namun, seperti ditulis Fred Schwaller di DW, 19 Mei 2025, China dan Rusia bersama 13 mitra internasionalnya berencana membangun Stasiun Penelitian Bulan Internasional (ILRS) di Bulan pada 2035. Stasiun ini akan dilengkapi dengan reaktor nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik ILRS dan mendukung eksplorasi Bulan lebih jauh.

India juga berencana mengirimkan antariksawannya ke Bulan pada 2040. Optimisme itu muncul setelah India berhasil menjadi negara keempat yang mampu mendaratkan wahananya di kutub selatan Bulan pada 2023, setelah AS, Uni Soviet/Rusia, dan China. Kini, Jepang jadi negara kelima yang juga sukses mendarat di Bulan pada 2024.

Eksplorasi

Pengiriman sejumlah antariksawan ke Bulan, bukan sekadar robot, menandai kembalinya manusia ke Bulan setelah ditinggalkan lebih dari 50 tahun. Akan tetapi, pengiriman manusia ke Bulan kali ini untuk eksplorasi Bulan yang lebih berkelanjutan demi menjamin kelangsungan hidup manusia jangka panjang. Ini berbeda dengan yang berlangsung di era Perang Dingin yang lebih mengedepankan prestise dan unjuk kemampuan teknologi.

Bulan bukan dunia sembarangan. Asa Stahl dalam The Planetary Society, 24 Juli 2025, menilai, Bulan merupakan catatan hampir murni tentang masa lalu Tata Surya. Permukaan Bulan adalah artefak kuno yang melestarikan tumbukan dengan asteroid dan komet selama miliaran tahun. Mempelajari Bulan dapat membantu manusia memahami proses terbantuknya Tata Surya.

Baca JugaPendaratan Swasta Pertama Setelah Lebih dari 50 Tahun Sejarah Penjelajahan Bulan

Namun, pengetahuan manusia tentang Bulan masih terbatas. Total waktu pendaratan 12 astronot NASA dalam misi Apollo pada 1969-1972 hanya setara beberapa hari di Bumi. Namun, sampel Bulan yang berhasil mereka bawa pulang ke Bumi cukup untuk mengubah pandangan manusia tentang Tata Surya. Karena itu, dengan kembali ke Bulan, manusia bisa mengungkap lebih banyak rahasia Bulan.

Meski demikian, kembalinya manusia ke Bulan saat ini memiliki misi yang jauh lebih luas. Bukan hanya mempelajari Bulan, manusia juga ingin mengembangkan peluang ekonomi Bulan serta kemungkinan membangun koloni manusia di Bulan.

Salah satu sumber daya Bulan yang akan dieksplorasi adalah air yang ada di kutub selatan Bulan dalam kondisi beku. Air adalah sumber daya penting untuk ekplorasi antariksa masa depan. Dengan ditemukannya air di Bulan dan mengekstraknya, maka bisa diperoleh air minum, menyirami tumbuhan, oksigen untuk bernapas, hingga pendingin peralatan.

Bahkan, air bisa diolah hingga menjadi bahan bakar roket untuk menggerakkan misi lebih jauh ke bagian luar Tata Surya. Dengan demikian, eksplorasi Tata Surya akan menjadi lebih mudah karena bahan yang dibutuhkan tidak harus dikirim dari Bumi.

Baca JugaSetelah Tertunda 2,5 Bulan, Misi Artemis Meluncur ke Ruang Angkasa

Selain itu, Bulan juga kaya akan berbagai mineral, seperti besi, silikon, hidrogen, titanium, dan unsur tanah jarang yang jadi rebutan banyak negara maju saat ini. Bulan juga kaya akan helium yang berpotensi dijadikan bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir dengan reaksi fusi.

Tantangan eksplorasi Bulan ini adalah biaya ekstraksi dan pengirimannya ke Bumi akan menjadi sangat mahal. Namun, dengan menipisnya beberapa mineral tersebut di Bumi, maka meski mahal biaya yang harus ditanggung, keberadaan mineral tertentu itu tetap dikejar. Karena itu, NASA gencar mengajak swasta dan perusahaan rintisan untuk mengeksplorasi antariksa, termasuk Bulan, hingga biayanya akan dapat ditekan.

Penambangan ini juga akan membuat Bulan menjadi wilayah yang mandiri, tidak bergantung pada Bumi, hingga mempermudah langkah manusia mengeksplorasi Tata Surya. Selain itu, kesuksesan penambangan mineral di Bulan juga akan membuka jalan bagi manusia untuk menambang aneka mineral yang terdapat di asteroid.

Manusia vs robot

Meski pengiriman antariksawan ke Bulan terlihat heroik, misi ini memiliki risiko tinggi, mahal, dan sering dianggap menghamburkan uang negara. Karena itu, daripada mengirimkan misi berawak, banyak kalangan menilai cukup mengirimkan robot ke planet atau tempat lain di Tata Surya.

Masalahnya, pengiriman robot seperti yang dilakukan selama ini ke Mars, asteroid, dan planet-planet raksasa lain, cenderung tidak membangkitkan kolektivitas dan kebanggan nasional serta menginspirasi manusia. Perkara ini dianggap jauh lebih penting sebagai sarana investasi untuk mendorong masyarakat maju serta mampu menguasai sains dan teknologi antariksa.

Dibandingkan robot, pengiriman manusia ke Bulan dinilai lebih unggul dalam menggunakan instrumen. Sebagai perbandingan, wahana penjelajah Mars NASA, Perseverance, harus dioperasikan oleh ahli dari Bumi secara cermat untuk memastikan ke mana dia harus berjalan. Jika dilakukan manusia langsung, antariksawanlah yang akan berpikir, mengambil keputusan, dan bereaksi saat menghadapi hal-hal yang tak terduga.

Baca JugaEksplorasi Batuan Bulan

Saat menemui batuan di permukaan Bulan, manusia juga bisa mengangkatnya sendiri meski bobot batuan itu cukup besar. Cara ini belum bisa dilakukan robot penjelajah seperti yang selama ini dikirimkan manusia setelah misi Apollo.

Selain itu, manusia juga lebih mampu mengumpulkan sampel dalam jumlah banyak. Misi Apollo yang mendaratkan manusia di Bulan berhasil membawa pulang sampel tanah Bulan 10 kali lebih banyak ketimbang yang bisa dikumpulkan robot.

Manusia juga bisa bergerak lebih cepat dari robot. Awak Apollo 17 mampu menempuh jarak 35 kilometer selama tiga hari di Bulan. Untuk menempuh jarak yang sama, wahana penjelajah Mars NASA lainnya, Opportunity, butuh waktu lebih dari 8 tahun. Bahkan, ahli keplanetan dan peneliti utama wahana penjelajah Spirit dan Opportunity, Stephen Squyres, pernah menyebut pekerjaan wahana penjelajah selama seharian bisa dikerjakan antariksawan kurang dari semenit.

Kehadiran antariksawan justru penting karena mereka juga bisa berperan sebagai obyek eksperiman untuk berbagai teknologi yang akan digunakan di Bumi. Tenaga manusia juga lebih diunggulkan dalam pembangunan proyek-proyek besar dan kompleks, seperti pengeboran besar, pemasangan teleskop raksasa, hingga pembangunan pabrik pengolahan tanah Bulan.

Meski demikian, tidak berarti manusia selalu lebih baik daripada robot dalam eksplorasi antariksa. Robot mampu duduk memantau dan mengintai dunia yang sama selama bertahun-tahun tanpa bosan, tanpa mengeluh, tidak pernah haus dan lapar, serta tidak perlu memikirkan soal buang hajat. Robot juga mampu bertahan di lingkungan keras dan ekstrem serta menjelajahi tempat-tempat yang manusia tidak mungkin bertahan hidup.

Baca JugaPendaratan di Bulan dan Perlombaan Eksplorasi Angkasa Luar

Namun, efek kerja yang lebih cepat dari manusia ketimbang robot itu memiliki harga yang mahal. Mengirimkan antariksawan ke luar angkasa itu 100 kali lebih mahal dibandingkan dengan mengirimkan wahana penjelajah atau rover, meski lebih efisien 1.000 kali.

Hingga 2025, misi Artemis diperkirakan sudah menelan biaya hingga 90 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 1.525 triliun dengan nilai kurs saat ini. Jumlah itu setara dengan biaya 30 misi Perseverance secara lengkap.

Namun, seperti ditulis Stahl, yang terpenting dari sebuah misi eksplorasi antariksa saat ini bukanlah dilakukan robot atau antarikswan. Hal utama yang ingin dikejar adalah memastikan keberlanjutan eksplorasi yang dilakukan. Dengan eksplorasi Bulan yang berkelanjutan, maka investasi mahal yang telah dikeluarkan bisa memberikan dampak yang terus bergulir, lebih besar, dan lebih lama bagi bangsa dan umat manusia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
China Bangun Kedutaan Terbesar di London, Inggris Diserbu Kritik
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Tetapkan Walikota Madiun Tersangka Korupsi
• 16 jam lalutvrinews.com
thumb
2 Orang Tim Sukses Bupati Pati Sudewo Ditetapkan Tersangka Pemerasan
• 4 jam lalumerahputih.com
thumb
ASEAN Para Games Thailand: Tim Renang Indonesia Sumbang 3 Emas
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Berlangsung Dramatis, Korban Kedua Pesawat ATR 42-500 Behasil Dievakuasi dari Medan Ekstrem
• 19 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.