Dari Nusa Dua, Bali, upaya pemenuhan air bersih dan mengurangi ketergantungan pada air tanah menemukan jalannya. Inisiatif itu diterapkan dengan pengolahan air laut menjadi air bersih layak konsumsi melalui teknologi terbaru sistem reverse osmosis air laut (SWRO).
Sejak Oktober 2025, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) Nusantara Utilitas mengoperasikan fasilitas air bersih dari hasil penyulingan air laut dari Pantai Samuh Nusa Dua melalui teknologi SWRO. Fasilitas air bersih itu disalurkan pada kawasan wisata Nusa Dua yang dikelola ITDC dengan jumlah pasokan hingga kini mencapai 331.382 meter kubik.
PT ITDC Nusantara Utilitas, anak usaha PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang mengantongi izin dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pengolahan air laut menjadi air bersih layak konsumsi. Pengolahan air laut menjadi air bersih itu bertujuan mengurangi ketergantungan pada air tanah dan meningkatkan ketahanan kawasan terhadap risiko perubahan iklim.
Direktur Utama ITDC Nusantara Utilitas AA Istri Ratna Dewi mengungkapkan, teknologi SWRO untuk pengolahan air laut menjadi air bersih dinilai sudah lama ada, namun hampir semua SWRO yang diterapkan masih cenderung mengebor tanah. Padahal, sudah ada pelarangan di kawasan Nusa Dua untuk melakukan pengeboran air tanah. Penerapan teknologi SWRO dengan investasi sekitar Rp 100 miliar diyakini mampu memenuhi kebutuhan air bersih kawasan tanpa bergantung pada air tanah.
Hingga saat ini, pemanfaatan air bersih dari teknologi SWRO sudah disalurkan ke 11 hotel besar dari 33 fasilitas di kawasan ITDC Nusa Dua. Secara bertahap, pemakaiannya ditargetkan pada seluruh hotel di kawasan ITDC Nusa Dua. Kontrak penjualan air bersih sudah mencapai 80 persen dari kapasitas pasokan, namun penyalurannya tengah menunggu kesiapan hotel-hotel di Nusa Dua.
”Kami ingin kualitas air yang dipasok di kawasan ini berbeda dengan kualitas di luar kawasan. Kami menjamin kontinuitas, kualitas, dan juga kuantitasnya,” ujar Ratna dalam Media Tour InJourney di Nusa Dua, Bali, Selasa (20/1/2026).
Kapasitas produksi air bersih dari SWRO di Nusa Dua itu berkisar 3.600 kubik per hari. Air bersih itu dijual di bawah tarif PDAM untuk industri yang berkisar Rp 18.000 per kubik. Pada bulan Februari, pihaknya juga bakal meluncurkan produk air bersih yang bersumber dari daur ulang air limbah dengan teknologi brackish water reverse osmosis (BWRO) berkapasitas 4.000 kubik per hari.
Penambahan BWRO dengan nilai investasi Rp 35 miliar itu dinilai akan meningkatkan total pasokan air bersih oleh ITDC Nusantara Utilitas menjadi 7.600 kubik per hari atau mencukupi hampir seluruh kebutuhan air kawasan ITDC Nusa Dua yang berkisar 8.000 kubik per hari.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono mengatakan, keberlanjutan bisnis menjadi pilar strategis InJourney dalam transformasi ekosistem aviasi dan pariwisata nasional. InJourney sebagai holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata yang diresmikan pada 13 Januari 2022 memiliki visi besar mengintegrasikan ekosistem penerbangan dan pariwisata Indonesia menjadi satu kekuatan besar untuk meningkatkan ekonomi bangsa dalam jangka panjang.
Menurut Maya, InJourney memiliki pilar bisnis yang fundamental, sekaligus menjadi agen pembangunan. Peran sebagai agen pembangunan harus dilakukan melalui transformasi untuk keberlanjutan. Sebagai perusahaan negara, InJourney tidak bisa hanya menghitung keuntungan dari pengembalian investasi (ROI) serta dividen ke negara, tetapi juga harus menghitung akuntabilitas terhadap profitabilitas.
InJourney, Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata, itu, mengelola sejumlah aset yang meliputi bandara, jasa penerbangan (aviation service), InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), destinasi, ritel, dan hotel. Pada 2025, tercatat 9,8 juta pengunjung di seluruh destinasi yang dikelola InJourney, sejumlah 157 juta penumpang di 37 bandara, dan pengelolaan 39 hotel yang disadari menghasilkan jejak karbon sangat tinggi.
Selama 4 tahun, InJourney berupaya mengurangi jejak karbon dengan menekan emisi karbon. Tahun ini, pengurangan emisi karbon ditargetkan mencapai 4.000 ton karbondioksida (CO₂) untuk seluruh entitas usaha.
”Kami ingin meninggalkan warisan untuk generasi mendatang, bersama berkarya agar Indonesia menjadi lebih baik di masa depan. Kami berusaha melestarikan dari sisi budaya dan alam, transformasi untuk Indonesia,” katanya, dalam Perayaan Ulang Tahun Ke-4 InJourney bertema ”Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia”, di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Maya menambahkan, inisiatif keberlanjutan dilaksanakan pada seluruh entitas usaha, yakni transisi menuju operasional rendah karbon, efisiensi sumber daya, dan pelestarian lingkungan. Inisiatif strategis itu berupa pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi operasional, pengelolaan air dan limbah, serta program rehabilitasi lingkungan.
Saat ini, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) telah diimplementasikan di sembilan bandara utama, yakni Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta), Bandara Kualanamu (Medan), Bandara I Gusti Ngurah Rai (Bali), Bandara Minangkabau (Padang), Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Bandara Banyuwangi, Bandara Ahmad Yani (Semarang), Bandara Sultan Iskandar Muda (Banda Aceh), dan Bandara Supadio (Pontianak). PLTS itu menghasilkan total energi terbarukan 10.760 MWh per tahun dan berpotensi menghindari emisi sebesar 9.860 ton CO₂ ekuivalen per tahun, setara dengan penyerapan karbon oleh 272.000 pohon.
Transisi energi juga dilakukan dengan mempercepat adopsi kendaraan dan peralatan listrik di seluruh lini bisnis. Hingga saat ini, InJourney telah mengoperasikan 716 unit kendaraan dan peralatan listrik, terdiri atas ground support equipment (GSE), mobil buggy, mini bus, dan golf cart. Selain itu, pengelolaan sumber daya dan limbah berupa pengelolaan limbah padat mencapai 7.000 meter kubik, serta pemanfaatan air daur ulang sebesar 1.728.304 meter kubik telah dilakukan untuk mendukung efisiensi penggunaan air.
InJourney menjalankan program penanaman 40.000 pohon mangrove di wilayah operasional dengan potensi penyerapan karbon sebesar 173 ton setara CO₂ ekuivalen untuk memperkuat ketahanan ekosistem pesisir dan mendukung keberlanjutan destinasi pariwisata.
Komisaris Utama InJourney Iwan Setyawan menegaskan, keberlanjutan bukan pilihan, melainkan fondasi utama pariwisata Indonesia. Industri pariwisata yang hebat harus tumbuh seiring dengan komitmen kuat terhadap pelestarian alam dan budaya, serta pemberdayaan masyarakat lokal. Inisiasi Holding BUMN itu untuk penggunaan energi bersih, PLTS, pengelolaan air bersih (water management), transisi ke kendaraan listrik, serta pengolahan limbah dan penanaman mangrove akan terus dilakukan dan diharapkan menjadi gerakan nasional yang dikerjakan bersama-sama.
Selama 4–5 tahun terakhir, Iwan melihat lima tantangan di sektor pariwisata, yakni pengelolaan sektor pariwisata masih terkotak-kotak (siloed) dan realisasi investasi pariwisata masih rendah. Selain itu, pelayanan masih belum optimal, sumber daya manusia masih belum terampil, dan pemasaran yang masih belum masif. Padahal, efek berganda (multiplier effect) bisnis pariwisata dinilai luar biasa.
InJourney diharapkan terus menjadi katalis masa depan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan kontribusi pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2029 naik dari 4 persen menjadi 6 persen atau senilai Rp 400 triliun. Peningkatan kontribusi itu diyakini bakal menambah penyerapan tenaga kerja hingga 25 juta hingga 30 juta orang.
”Tidak ada pariwisata yang hebat tanpa menjaga alam dan meningkatkan martabat dan kesejahteraan hidup masyarakat,” kata Iwan.
Tidak ada pariwisata yang hebat tanpa menjaga alam dan meningkatkan martabat dan kesejahteraan hidup masyarakat.
Menurut Herdy Harman, Direktur SDM dan Digital InJourney, inovasi penyediaan air bersih dari air laut dan daur ulang air limbah yang diterapkan ITDC Nusantara Utilitas dapat menjadi percontohan dan diterapkan pada destinasi wisata lain, seperti Mandalika. Ia menekankan transformasi pembangunan tidak boleh berhenti pada infrastruktur dan program, tetapi juga harus menyentuh aspek paling esensial, yaitu manusia.
”Membangun infrastruktur adalah satu hal, tetapi membangun manusia adalah hal lain yang sama pentingnya. Program yang baik harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia agar transformasi dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang,” ujar Herdy.
Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik Doni Ismanto Darwin, secara terpisah mengemukakan, pemanfaatan air laut selain energi digunakan antara lain untuk media budidaya, air bersih, air minum, dan industri layanan air (service water), seperti pendingin.
Saat ini, terdapat 24 pemegang Izin Pemanfaatan Air Laut Selain Energi yang diterbitkan KKP. Sejumlah dua izin di antaranya memproduksi air minum/bersih, serta 22 izin untuk menggunakan air laut sebagai layanan air. ”Pada prinsipnya, semua air laut berpotensi menjadi air bersih melalui teknologi SWRO,” ujarnya.
Doni menambahkan, pemanfaatan air laut dapat mengurangi pemanfaatan air tanah dan air permukaan yang semakin terbatas. Selain itu, pemanfaatan air laut melalui mekanisme perizinan dapat menjadi sumber pendapatan negara melalui penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Pemanfaatan air laut itu mempertimbangkan kelayakan teknis dan dampak pengambilan air laut terhadap lingkungan, salah satunya risiko terhadap biota perairan.





