FAJAR.CO.ID, BULUKUMBA – Di balik kemegahan tebing karst dan pasir putihnya, Desa Darubiah, Kecamatan Bontobahari, menyimpan kisah perjuangan warga yang menyentuh hati. Lelah menunggu sentuhan pemerintah, warga desa ini memilih “patungan” untuk mengecor jalan poros menuju Pantai Marumasa sepanjang 500 meter yang tuntas pada Januari 2026 ini.
Aksi ini bukan sekadar urusan semen dan pasir, melainkan upaya masyarakat lokal melindungi harga diri desa mereka yang kini menjadi salah satu pusat pertumbuhan wisata baru di Sulawesi Selatan.
Kemandirian di Tengah KekecewaanProyek swadaya ini menghabiskan sekitar 1.200 zak semen yang dibeli dari kocek pribadi warga dan sumbangan para perantau. Selama hampir satu bulan, masyarakat bergotong-royong melakukan pengecoran jalan beton agar layak dilalui kendaraan.
”Kami malu kalau ada tamu (wisatawan) yang jatuh. Apalagi Darubiah ini sudah sering masuk nominasi desa wisata nasional. Kalau jalannya hancur, orang tidak mau kembali lagi ke sini,” ujar salah seorang warga yang terlibat dalam aksi pengecoran.
Darubiah: Lebih dari Sekadar Tetangga BiraDesa Darubiah memang bukan desa sembarangan. Sebagai desa pemekaran dari Bira, Darubiah kini menjelma menjadi destinasi mandiri yang menawarkan pengalaman berbeda bagi pelancong:
- Magnet Pantai Marumasa: Pantai ini merupakan ikon baru dengan daya tarik tebing karst yang eksotis dan spot foto kekinian. Jalan yang diperbaiki warga merupakan urat nadi utama menuju lokasi ini.
- Titik Nol Sulawesi: Sebagai desa yang berada di ujung tanjung, Darubiah merupakan salah satu gerbang menuju Titik Nol Sulawesi, tempat pertemuan arus Selat Makassar dan Teluk Bone.
- Sentra Tenun Bira: Darubiah adalah rumah bagi para pengrajin kain tenun khas Bira. Tradisi menenun ini menjadi daya tarik wisata budaya yang bernilai tinggi bagi wisatawan mancanegara.
- Surga Snorkeling: Area seperti Dego-Dego menawarkan akses langsung ke bawah tebing dengan air laut yang sejernih kristal, menjadikannya favorit bagi pecinta olahraga air.
Dengan populasi sekitar 2.900 jiwa dan statusnya yang masuk dalam jajaran 100 Besar Desa Wisata Indonesia, keterlambatan pembangunan infrastruktur di Darubiah menjadi sorotan tajam. Banyak pihak menyayangkan mengapa desa dengan potensi ekonomi dan pariwisata sebesar ini harus mengandalkan dana pribadi warga untuk perbaikan fasilitas publik.
Kepala Desa Darubiah dan tokoh masyarakat setempat berharap, aksi swadaya ini menjadi alarm bagi Pemerintah Kabupaten Bulukumba. Warga membuktikan bahwa mereka mampu membangun desa secara mandiri, namun tanggung jawab pemerintah dalam pemerataan infrastruktur tetap tidak boleh diabaikan.
Kini, dengan jalan yang sudah mulus berkat keringat warga, akses menuju keindahan Pantai Marumasa telah terbuka lebar. Darubiah telah membuktikan diri bukan hanya cantik secara alam, tapi juga kuat secara komunitas.


